Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR Diah Pitaloka memandang strategi kebudayaan dari berbagai aspek secara menyeluruh, mulai dari makanan, perfilman, teknologi, dan lainnya penting untuk menaikkan nilai kebangsaan dan menumbuhkan sektor ekonomi pariwisata.

"Budaya itu bukan hanya sekadar bentuk ya, tetapi kita juga perlu membangun strategi kebudayaan supaya budaya kita bisa naik ke permukaan dan ini bisa juga jadi potensi ekonomi," kata Diah Pitaloka, usai kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan oleh MPR RI di Gedung PPIB Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis.

Misalnya, kata Diah, banyak daerah di Indonesia dengan kultur yang kuat, seperti NTT, NTB, dan Bali. Tiga pulau berdekatan itu, tiga-tiganya daerah wisata, tapi karakter budayanya beda.

Baca juga: Diah Pitaloka harap Kemen PUPR respon cepat relokasi warga Bogor

Pada sisi lain, Diah melihat di banyak daerah wisata Indonesia, belum terlalu mengedepankan budaya lokal.

"Misalnya makanan, misalnya di Bogor nih, banyak makanan, tapi menu makanannya ada yang western, chinese food gitu, bukan hanya Sunda gitu ya," ujarnya.

Belum lagi film Korea yang kini banyak digemari masyarakat Indonesia, khususnya para pemuda dibanding film lokal, sehingga memang perlu punya strategi kebudayaan, sehingga bangsa ini punya ciri khas budaya yang kemudian juga jadi daya tarik untuk pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Komisi VIII DPR RI dukung Tri Rismaharini fokus benahi Kementerian Sosial

Menurutnya, strategi kebudayaan secara nasional tidak boleh lepas dari nilai-nilai Pancasila yang belum banar-benar dilaksanakan masyarakat meskipun menyadarinya.

"Saya agak sulit menjelaskannya, tetapi bicara Pancasila, Pancasila itu dalam, meskipun sederhana tetapi kompleks dan itu bisa menyentuh semua kehidupan, misalnya tadi budaya. Tapi kita jarang mengekspor nilai-nilai dasar kita ini," ujarnya lagi.

Anggota MPR RI mengutarakan, dari kondisi strategi kebudayaan yang belum menyeluruh membuat ada satu hal yang banyak jadi pertanyaan dalam forum-forum diskusi, yaitu tentang kekhawatiran krisis identitas bangsa Indonesia atau kebangsaan.

Baca juga: DPR dukung Kemenag perkuat program moderasi beragama melalui virtual

"Nah ini menjadi tantangan tersendiri, bagaimana kita bicara Pancasila tidak hanya menjadi satu kata gitu ya, tetapi sebagai filosofi, sebagai sesuatu yang membuat bangsa Indonesia punya gambaran tentang dirinya dan dengan punya gambaran tentang dirinya kemudian dia bergerak, melakukan sesuatu untuk rasa kebangsaannya itu," katanya lagi.

Pewarta: Linna Susanti

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023