Seattle (Antara/Reuters/Antara Megapolitan) - Salah satu dari orangutan kembar yang lahir dalam peliharaan, di Kebun Binatang Seattle, mati dalam usia 48 tahun, atau dua dasawarsa lebih lama dari umur harapan hidup primata Asia itu, kata juru bicara kebun binatang, Jumat.

Towan (Tuan) dan saudarinya, Chinta, lahir di Kebun Binatang Wooland Park Zoo pada 1968, merupakan keturunan silang antara jenis asli Sumatra dan Borneo(Kalimantan), kata jubir Gigi Allianic.

Pengembangbiakan silang antara orangutan Sumatra dan Borneo sebagai primata terhebat di Asia, diakhiri setelah para ahli satwa menyatakan bahwa masing-masing jenis memiliki perbedaan yang jelas.

Kematian tersebut membuat Chinta kini menjadi orangutan tertua di Amerika Utara, kata Allianic.

Angka harapan hidup orangutan adalah 28 tahun, meskipun ada yang bisa bertahan hidup hingga 59 tahun.

Jenis kera berambur coklat kemerahan yang mempunyai kecerdasan tinggi ini cenderung bisa hidup lebih lama dalam peliharaan, karena perawatan kesehatan yang mereka terima, kata Allianic lagi.

Orangutan merupakan hewan yang masih satu keluarga dengan gorila, simpanse, dan bonobos, kini menjadi satwa langka akibat perburuan liar dan kerusakan pesat hutan habitat mereka, menurut data dari pusat orangutan perlindungan di Borneo.

Konservasi berupa kegiatan di pusat rehabilitasi di Sumatra dan Borneo serta bantuan lain diyakini hanya menyelamatkan tinggal 40.000 orangutan di alam bebas, merosot dari 60.000 pada data dasawarsa yang lalu.

Towan atau Tuan, mati ketika menjalani pemeriksaan akibat gangguan pernafasan yang memang sering menjadi penyakit mematikan bagi orangutan, demikian pernyataan dari pihak kebun binatang.

Penyebab kematian akan diumumkan setelah hasil pemeriksaan patologi terhadap mahluk berbobot 116 kg itu.

Taman Woodland mengatakan bahwa Towan menjadi inspirasi untuk tokoh Maurice dalam film "Planet of the Apes".

"Towan memberi jiwa dalam sosok rekaan saya, Maurice," kata Karin Konoval yang memakai tokoh tersebut dalam dua film.
    
Penerjemah: M. Dian A.

    

Pewarta:

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2016