Bandarlampung (Antara Megapolitan) - Pengamat kebijakan publik dari Universitas Bandarlampung di Lampung, Ida Bagus Ilham Malik mengingatkan pemerintah Indonesia sebaiknya segera menyikapi kekecewaan Pemerintah Jepang terkait kekalahan dalam penetapan pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung.

Menurut IB Ilham Malik, mahasiswa PhD di Kitakyushu University Jepang melalui Monbukagakusho MEXT 2015, dalam penjelasan diterima di Bandarlampung, Senin, keluhan Ketua Majelis Tinggi dan Majelis Rendah Jepang menunjukkan betapa kasus kalahnya Jepang dalam tender pembangunan proyek tersebut sangat serius disikapi oleh Negara Jepang.

Ilham yang juga Ketua 1 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, menyatakan kunjungan delegasi DPR RI yang didampingi kedutaan RI di Jepang ini sangatlah strategis karena Indonesia memang tetap perlu menjaga harmoni hubungan yang selama ini sudah ada antara Indonesia dan Jepang.

Menurut dia, meskipun keputusan soal kereta cepat ini sudah diambil Pemerintah Indonesia yaitu menetapkan Tiongkok/China sebagai pemenangnya, namun Indonesia perlu menunjukkan bahwa kehadiran Jepang dan kerja sama antara Indonesia dan Jepang dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia sangatlah perlu diteruskan dan dikembangkan di masa yang akan datang.

Karena itu, ujarnya pula, terkait dengan kekalahan Jepang dalam pembangunan infrastruktur KA cepat ini tidaklah perlu menjadi masalah panjang bagi Jepang.

"Dan untuk meyakinkan Jepang terkait dengan hal itu, selain melakukan kunjungan, Indonesia juga perlu membeberkan beberapa megaproyek lain yang dibutuhkan Indonesia. Dan dipersilakan pada negara lain terutama Jepang untuk berinvestasi secara khusus pada megaproyek tertentu," ujar dia lagi.

Menurut Ilham, tentu saja, sangatlah wajar jika Jepang sebagai negara yang telah banyak membantu Indonesia, merasa kecewa ketika mereka kalah dalam tender pembangunan megaproyek KA cepat ini. Sebab, menurutnya, KA Cepat Jakarta-Bandung ini bukanlah saja megaproyek bagi Indonesia, namun bagi Jepang juga adalah sebuah proyek mercusuar dan bisa dijadikan salah satu ikon investasi dan dukungan Jepang dalam pembangunan infrastruktur Indonesia.

Ia berpendapat, kalahnya Jepang sebagai sebuah negara maju dan memiliki pengalaman panjang dalam membangun dan mengoperasikan KA cepat yang hampir nihil kasus kecelakaan jika dibandingkan dengan negara lain, tentu saja membuat Jepang bertanya secara wajar terkait dengan alasan kalahnya mereka dalam megaproyek ini.

Namun, katanya lagi, sayangnya, dalam mengambil keputusan siapa pihak pemenang tender untuk membangun KA cepat ini, pertimbangannya tidaklah saja diambil berdasarkan pertimbangan teknis, tapi lebih banyak pada keputusan nonteknisnya.

"Karena itu, alat ukur kalahnya Jepang ini akhirnya menjadi multiperspektif dan bisa menimbulkan perdebatan yang tidak berkesudahan. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah ekonomi politik praktis (kekuasaan), misalnya demikian," kata dia lagi.

Ilham menyatakan, ada hal yang perlu disadari bahwa masih ada banyak infrastruktur yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan rakyatnya sejahtera.

Dia menyeburkan, khusus untuk infrastruktur transportasi saja, Indonesia masih membutuhkan investasi yang teramat sangat besar. Apalagi jika ditambah dengan kebutuhan infrastruktur energi, telekomunikasi, air bersih, sanitasi dan persampahan, pendidikan, dan kesehatan.

"Masih ada banyak proyek yang harus segera dibangun oleh Indonesia. Dan semenjak keterpurukan Indonesia pada 1998, baru sejak 2004 Indonesia memulai kembali membenahi infrastruktur," kata dia.

Jika membandingkan kondisi Indonesia dengan kondisi infrastruktur di negara lain, menempatkan Indonesia pada posisi yang semakin tertinggal karena sepanjang 1998--2004 tidak mampu membangun infrastruktur karena perhatian terkuras pada gonjang-ganjing politik, ujar dia.

Menurut dia, sudah sejak puluhan tahun yang lalu, melalui berbagai skema bantuan pembangunan, Jepang berupaya membantu Indonesia menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia.

Dia menyebutkan, melalui JICA dan beberapa lembaga lainnya, Jepang menegaskan betapa Indonesia dianggap sebagai sahabat dan bahkan saudara yang perlu dibangun bersama agar bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Karena Jepang menyadari, hanya Indonesia sebagai negara besar dan kuat yang akan menyokong kepentingan Jepang di masa yang akan datang.  
    

Pewarta: Budisantoso Budiman

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2015