Harga minyak naik tipis pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), didorong oleh pelemahan dolar dan sinyal bullish dari data impor China, tetapi tertekan oleh kekhawatiran baru tentang permintaan minyak global karena melonjaknya kasus virus corona di Eropa dan penguncian baru di China.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret menguat 36 sen atau 0,6 persen, menjadi menetap di 56,42 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir 66 sen atau 1,3 persen lebih tinggi pada 53,57 dolar AS per barel.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, merosot setelah Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell memberikan nada dovish, mengatakan bank sentral AS tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Baca juga: Minyak naik ke tertinggi 11 bulan, saat Arab Saudi janji turunkan produksi

Greenback yang lebih lemah membuat minyak dalam denominasi dolar lebih murah bagi pemegang mata uang asing.

Meningkatnya harapan akan peningkatan permintaan minyak adalah paket bantuan COVID-19 AS yang besar, yang akan diungkapkan oleh Presiden terpilih Joe Biden pada Kamis waktu setempat.

"Dengan penguatan nilai energi karena dolar melemah hari ini, pasar minyak mampu naik di akhir sesi dalam simpati dengan ekuitas yang lebih kuat," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates.

Indeks saham dunia naik ke level rekor dan imbal hasil obligasi AS naik tipis pada Kamis (14/1/2021) karena investor fokus pada proposal bantuan pandemi Biden.

"Fundamental spesifik minyak masih tampak cukup mendukung untuk mendorong minyak ke wilayah tinggi baru dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya," kata Ritterbusch.

Baca juga: Tahun Covid, Kinerja PTPN VII Justru Semakin Solid

Total impor minyak mentah China naik 7,3 persen pada 2020, dengan rekor kedatangan di kuartal kedua dan ketiga ketika kilang-kilang meningkatkan operasi dan harga rendah mendorong penimbunan, data bea cukai menunjukkan.

Namun, konsumen minyak terbesar kedua di dunia melaporkan lonjakan harian terbesarnya dalam kasus baru COVID-19 dalam lebih dari 10 bulan.

Pemerintah-pemerintah di seluruh Eropa telah mengumumkan penguncian virus corona yang lebih ketat dan lebih lama, dengan vaksinasi diperkirakan tidak akan berdampak signifikan untuk beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Pakar IPB: Tidak benar minyak kelapa mengandung racun

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tidak mengubah perkiraan permintaan dunia, dengan mengatakan penggunaan minyak akan naik 5,9 juta barel per hari tahun ini menjadi 95,91 juta barel per hari, menyusul rekor kontraksi 9,75 juta barel per hari tahun lalu akibat pandemi.

Produsen-produsen minyak menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan, karena faktor-faktor termasuk kecepatan dan respons terhadap vaksin COVID-19 mempersuram prospek, kata seorang pejabat di Badan Energi Internasional (IEA).

Arab Saudi, misalnya, membatasi pasokan minyak ke beberapa pembeli Asia, kilang dan sumber perdagangan mengatakan kepada Reuters, sementara Rusia berencana untuk meningkatkan produksi tahun ini, menurut media Rusia.

"Pemotongan di Saudi sudah diperkirakan sejak pekan lalu, bahkan sedikit lebih dari wajar di bawah kondisi pasar, dan rasionalisasi harga sudah terlambat," kata analis pasar minyak Rystad, Bjornar Tonhaugen.



"Melihat peningkatan infeksi COVID-19 di China dengan margin terbesar dalam waktu yang lama mengkhawatirkan pasar dan, dikombinasikan dengan penguncian ketat yang sedang berlangsung di Eropa, dapat memengaruhi permintaan minyak lebih dari yang perkirakan pada kuartal pertama."

Kemunduran Brent enam bulan, di mana kontrak untuk pengiriman kemudian lebih murah, turun ke level terendah sejak 5 Januari, menunjukkan pelonggaran sentimen bullish.

Pewarta: Apep Suhendar

Editor : Feru Lantara


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2021