Pemberian obat filariasis Papua Barat lampaui target

Pemberian obat filariasis Papua Barat lampaui target

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek (kanan) bersama Kadinkes Papua Alosius Giyai (kiri) menerima piagam MURI Penggunaan Kelambu Anti Nyamuk Terbanyak di Dunia pada acara peringatan Pekan Imunisasi dan Hari Malaria Sedunia di Kampung Kadu Pinang, Pandeglang, Banten, Minggu (29/4/2018). Berdasarkan data Kemenkes cakupan imunisasi lengkap di Indonesia pada tahun 2017 sudah mencapai 92 persen dan 10,7 juta penduduk RI masih tinggal di daerah endemik malaria yaitu di Papua, Papua Barat dan NTT. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Manokwari, ANTARA News) - Cakupan pemberian obat pada program eliminasi filariasis atau kaki gajah di Provinsi Papua Barat melampaui target nasional.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Papua Barat, Otto Parorongan di Manokwari Minggu, mengatakan filariasis menjadi salah yang satu penyakit yang bersifat endemis di daerah tersebut.

Ia mengatakan dari 13 kabupaten/kota hanya satu daerah yang terbebas dari penyebaran penyakit ini, yakni Kabupaten Pegunungan Arfak.

"Dinkes provinsi dan kabupaten kota minus Pegunungan Arfak terus berupaya mencegah penularan," ujarnya.

Pemerintah pusat, lanjutnya sejak 2015 telah melaksanakan program Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga). Melalui gerakan ini seluruh warga di dari usia dua tahun hingga 70 tahun wajib mengonsumsi obat.

Pada 2018, kata dia, Papua Barat menjadi daerah yang paling tinggi dalam pemberian obat. Cakupan pemberian obat filariasis di daerah ini mencapai 78 persen.

"Kita sudah di atas target nasional. Secara nasional ditargetkan 65 persen, kita sudah capai 78 persen, itu dua hari yang lalu dalam hal cakupan minum obat filarial," tambahnya.

Pengidap kaki gajah di Papua Barat cukup variatif di 12 kabupaten/kota. Obat yang diberikan secara gratis oleh pemerintah pusat ini bertujuan untuk mematikan cacing filariasis serta mencegah agar tidak tertular.

"Kalau untuk menyembuhkan bengkak pada tubuh penderita itu sulit. Bisa lewat operasi tapi cukup berisiko, makanya kami berharap masyarakat yang belum kena sadar minum obat supaya tidak tertular," katanya.

Otto mengutarakan gerakan Belkaga di Papua Barat ini dilaksanakan terintergrasi dengan program pengendalian malaria dan imuniasi. Dinkes menerjunkan petugas kesehatan, hingga ke kampung-kampung.

"Pegunungan Arfak itu bagus, selain bebas filariasis di sana juga bebas malaria. Daerahnya dingin sehingga populasi nyamuk sangat kurang bahkan mungkin tidak ada," katanya.

Baca juga: 12 kabupaten di di Papua Barat masih endemis malaria
Baca juga: Papua Barat berjibaku tekan kasus kusta
Baca juga: TNI AD bantu layanan kesehatan di pedalaman Papua Barat
Pewarta : Toyiban
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2018