Badan Geologi tegaskan tidak ada informasi Palu akan tenggelam

Badan Geologi tegaskan tidak ada informasi Palu akan tenggelam

Dokumentasi KN Sabuk Nusantara 39 yang terdampar ke daratan akibat gempa dan tsunami di desa Wani, Pantai Barat Donggala, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta, (ANTARA News) - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudy Suhendar, menegaskan, informasi "Palu akan tenggelam"  adalah salah dan tidak ada fakta tentang itu. 

"Ada info beredar Palu akan tenggelam,  bencana tidak sebesar itu,  berita itu adalah tidak bisa dipertanggungjawabkan, " kata dia,  di Jakarta, Rabu kepada wartawan. 

Menurutnya, info tersebut yang membuat masyarakat menjadi panik,  sehingga terjadi gerakan besar-besaran ingin meninggalkan kota Palu. Ia menjelaskan bahwa dampak gempa yang muncul tidak sampai membuat Palu akan tenggelam.

Suhendar menjelaskan, saat ini pemerintah berupaya memetakan wilayah Indonesia yang memiliki potensi kebencanaan tinggi. 

"Pada dasarnya dari mulai Pulau Sumatera,  Jawa,  Bali,  Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua,  memiliki potensi kebencanaan, umumnya gempa karena berada pada jalur sesar yang panjang," kata dia. 

Namun menurut dia, gempa yang muncul tingkatannya berbeda antar wilayah,  tergantung kondisi geologi masing-masing. Sehingga masyarakat diimbau untuk memantau jalur-jalur sesar apakah wilayahnya dilalui patahan-patahan secara langsung. 

"Wilayah mana saja,  petanya bisa dilihat di laman geologi Kementerian ESDM, kalau sudah tahu maka mitigasi bencana perlu dilakukan,  misalnya tidak membangun rumah dengan bahan yang berat-berat, " jelasnya. 

Lebih lanjut,  ia menjelaskan bahwa gempa bumi belum bisa diprediksi kapan akan terjadi, di mana dan berapa besar magnitudanya. "Hingga saat ini, yang dapat diprediksi adalah potensi maksimum magnituda dan dampak intensitasnya," kata dia. 

"Terkait gempa bumi dan tsunami yang terjadi di wilayah Palu-Donggala, kita semua berdoa agar tidak ada lagi gempa besar, namun masyarakat diimbau tetap waspada terhadap gempa susulan. Masyarakat juga diminta untuk tetap mengikuti arahan lembaga berwenang dan tidak mempercayai berita yang tidak jelas sumbernya," tambah Rudy.

Sumber gempa bumi di Indonesia berasal dari zona subduksi dan sesar aktif di darat. Zona subduksi membentang di sebelah barat Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, selatan Bali dan Nusa Tenggara, dan membelok di Kepulauan Maluku yang membentuk palung laut. Zona subduksi juga sebagai sumber pembangkit tsunami. 

Sesar aktif di darat tersebut antara lain Sesar Besar Sumatera yang memanjang dari utara sampai selatan di Pulau Sumatera. Sementara di Pulau Jawa terdapat Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, Sesar Baribis dan Sesar Opak. "Selain itu terdapat Sesar Belakang Busur Flores di utara Kepulauan Nusa Tenggara, Sesar Palu-Koro di Sulawesi Tengah, Sesar Tairura-Aiduna, Sesar Sorong dan lain lain," kata dia.

Baca juga: Badan Geologi petakan potensi kebencanaan di Indonesia
Baca juga: Kementerian ESDM kirim tim tanggap darurat dampak gempa

Pewarta : Afut Nursyirwan
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018