Pangeran Charles soal tradisi Islam di Indonesia

Pangeran Charles soal tradisi Islam di Indonesia

Dokumentasi suasana sholat Idul Adha 1438 H di Mesjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (1/9/2017). Mesjid terbesar di Asia Tenggara yang berarti "kemenangan" dan dirancang arsitek asal Sumatera Utara, Fredrich Silaban, ini sering menjadi situs penting nasional yang dikunjungi tamu-tamu negara. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

London (ANTARA News) - Putra Mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran Charles kagum dengan tradisi Islam di Indonesia dimana kaum perempuan dapat dengan bebas melenggang di dalam mesjid dan bahkan saat sholat berjamah pun jamaah perempuan melakukan sembahyang bersama-sama kaum pria dalam mesjid dengan hanya dipisahkan oleh pembatas.

Hal itu diungkapkan guru besar bidang sejarah dan kebudayaan Islam dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sharif Hidayatullah, Prof Dr Azyumardi Azra CBE, dalam diskusi Peran Perempuan Ulama dan Pesantren Indonesia dalam Memupuk Toleransi & Perdamaian, di London, Jumat.

Hadir pada diskusi itu staf dan pimpinan Kedutaan Besar Indonesia di London, perantauan Indonesia (diaspora), dan para pelajar dan mahasiswa.

Azra ada di Inggris untuk mengikuti forum internasional perempuan ulama perempuan bertajuk Rising Women Ulama: Women Leadership for Peace, Prosperity and Pluralism, di Gedung Parlemen Inggris (House of Lords), Westminster, London.

Azra yang mendapat gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Kerajaan Inggris pada 2010, mengutip ungkapan Pangeran Charles itu saat dia berkunjung ke Mesjid Istiqlal dan melihat dua perempuan jemaah yang melintas di dalam mesjid.

"Banyak pejabat dari berbagai negara di dunia yang mengagumi ekspresi sosial kultural Islam di Indonesia. Bahkan banyak diantaranya ingin belajar Islam dari Indonesia," ujarnya.

Menurut intelektual Islam nasional itu, banyak yang bertanya apakah Islam di Indonesia berbeda dengan Islam di negara lainnya. "Apa yang dilakukan umat Islam di Indonesia sama dengan umat Islam dimanapun, di antaranya melaksanakan sholat lima waktu, bayar zakat dan lainnya," ujarnya.

Menurut Azra, patut disyukuri Islam di Indonesia tidak perlu dipertetangkan. Mencintai Indonesia merupakan sebagian dari keimanan. Untuk itu dimana pun warga Indonesia berada seperti di Inggris jangan berhenti mencintai Indonesia.

Sementara itu Dwi Kholifah dari Asian Muslim Action Network (AMAN) yang juga menjadi pembicara dalam forum internasional perempuan ulama itu,forum itu inisiatif dari Prof Mike Hardy dari Coventry University yang melihat Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) ini unik.

Untuk itu perlu disebarkan ke dunia agar bisa mendapatkan dukungan banyak pihak. "Adapun tanggapan peserta sangat antusias karena memang perempuan ulama tidak diakui di negara lain dan menjadi hal yang muskil," ujarnya.

Indonesia memiliki banyak perempuan ulama. Salah satu intelektual sekaligus ulama perempuan ternama itu adalah Prof Dr Zakiah Daradjat.

Menurut Kholifah yang masuk dalam daftar 100 perempuan dunia berprestasi versi BBC, misi yang diemban adalah ingin mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia mempraktikkan Islam yang damai dan perempuan ulama sangat nyata bisa dijadikan harapan baru untuk memberikan keadilan pada perempuan.
Pewarta : Zeynita Gibbons
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018