Survei: masyarakat tak mau vaksin karena takut efek samping

Survei: masyarakat tak mau vaksin karena takut efek samping

Salah seorang warga Medan saat mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 beberapa waktu lalu . ANTARA/Andika Syahputra.

Jakarta (ANTARA) - Survei yang dilakukan  Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengungkapkan sebagian besar masyarakat di daerah yang tidak mau mengikuti vaksinasi lantaran takut mengalami efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

"Satu hal menarik yang kita lakukan survei, kenapa Anda belum divaksin, karena takut efek samping. Ini menjadi salah satu faktor terbesar yang mencegah masyarakat dari divaksinasi karena itu," kata Founder dan Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Harry Sufehmi dalam diskusi daring mengenai vaksinasi yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Selain itu, survei tersebut juga menunjukkan alasan orang belum divaksinasi karena kesulitan mencari lokasi vaksinasi, khususnya bagi masyarakat yang berada di daerah.

Harry mengatakan bahwa pihaknya berusaha melakukan penjelasan mengenai berbagai hal seputar KIPI kepada masyarakat agar mau divaksinasi. "Bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan, tinggal mengikuti instruksi petugas, misalnya sudah sarapan atau belum, sudah istirahat cukup atau belum, apakah sedang haid atau tidak sehingga resiko KIPI bisa diminimalisir," katanya.

Harry menerangkan bahwa kelompok antivaksin yang ada di Indonesia sekitar 4,2 juta orang. Menurut Harry, jumlah tersebut termasuk sedikit jika dibandingkan dengan silent majority atau orang-orang yang tidak merespon baik pro atau kontra terhadap propaganda antivaksin yaitu 74 juta orang.

Namun Harry mengatakan sebetulnya kelompok silent majority ini bisa berbuat lebih untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dengan turut berperan dalam melawan kabar hoaks terkait vaksinasi.

Menurut Mafindo, saat ini masyarakat Indonesia masih mengandalkan televisi sebagai media yang paling dipercaya dalam mendapatkan suatu kabar atau informasi. Dia menyebut tidak semua masyarakat Indonesia mengakses media sosial dan termakan hoaks tentang vaksin.

Kendati demikian, Harry mengatakan masyarakat Indonesia sudah mulai bangkit dan melawan hoaks dan propaganda terkait COVID-19 dan vaksinasi pada akhir tahun 2020. Faktor inilah yang disebutnya turut berpengaruh pada partisipasi masyarakat dalam melakukan vaksinasi.
Baca juga: Vaksin booster percuma bila kekebalan kelompok belum terbentuk
Baca juga: Yayasan Sinergi: Kendala teknis jadi alasan warga kota belum vaksin
Baca juga: Epidemiolog: Belum dapat dipastikan kapan keadaan akan normal kembali
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021