Bappenas: Pemerintah terus berkomitmen atasi wasting dan stunting

Bappenas: Pemerintah terus berkomitmen atasi wasting dan stunting

Tangkapan layar - Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Subandi Sardjoko dalam forum pertemuan tingkat tinggi rencana aksi global wasting pada anak di Indonesia yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (30/11/2021). ANTARA/Zubi Mahrofi.

Jakarta (ANTARA) -
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menegaskan bahwa pemerintah terus berkomitmen memberikan berbagai intervensi untuk mengatasi wasting dan stunting.

 
 
"Pemerintah Indonesia terus memberikan berbagai intervensi, baik intervensi spesifik maupun sensitif untuk mengatasi akar penyebab permasalahan gizi ini," ujar Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Subandi Sardjoko, dalam forum pertemuan tingkat tinggi rencana aksi global wasting pada anak di Indonesia yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.

 
 
Secara garis besar, lanjut dia, kebijakan dan strategi yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi wasting dan stunting selaras dan tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya.
 
 
 
Ia menyampaikan, intervensi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan gizi itu dilakukan dengan pendekatan multisektoral yang melibatkan seluruh pihak, baik pemerintah maupun nonpemerintah.

 
 
"Oleh karena itu peran dan dukungan lintassektor, yaitu dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi profesi, organisasi masyarakat, dan mitra pembangunan sangatlah dibutuhkan dalam upaya perbaikan gizi yang komprehensif dan berkesinambungan," tuturnya.

 
 
Ia mengemukakan, wasting menjadi salah satu target nasional dalam RPJMN dengan target penurunan menjadi tujuh persen pada Tahun 2024.
 
 
 
"Sementara itu target penurunan prevalensi wasting pada tujuan ketiga dalam SDGs adalah menjadi tiga persen pada Tahun 2030," ujarnya.

 
 
Dalam kesempatan itu, Subandi juga menyampaikan bahwa permasalahan wasting terjadi hampir di semua negara di kawasan Asia Pasifik, dan Indonesia menduduki posisi prevalensi wasting tertinggi kedua setelah Papua Nugini dengan kategori high prevalence.

 
 
"Hal ini tentu memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat dari kita semua," ucapnya.

 
 
Ia menjelaskan, wasting pada anak dapat menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian. Anak wasting cenderung tidak aktif, selalu tampak pucat dan mengalami badan yang lemas.

 
 
Di samping itu, mereka pun berisiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit kronis pada usia yang sangat muda.

 
 
"Wasting dapat dicegah dan ditangani bila balita wasting mendapatkan penanganan yang tepat pada waktu yang tepat sebelum jatuh ke kondisi yang lebih parah," katanya.

 
 
Ia menambahkan, jika tidak segera ditangani, maka balita wasting berisiko mengalami stunting hingga tiga kali lipat, lebih tinggi dibandingkan balita yang tidak mengalami wasting.

 
 
"Jika sudah jatuh ke kondisi yang stunting tentu memiliki dampak jangka panjang, yaitu menurunnya pertumbuhan fisik, kemampuan kognitif dan produktivitas di masa yang akan datang," ujarnya.

 
 
Ia menyampaikan permasalahan balita wasting disasar melalui prioritas nasional RPJMN 2020-2024, yang di antaranya adalah memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas serta meningkatkan SDM berkualitas dan berdaya saing.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021