Peneliti BRIN: Program pengendalian malaria harus terintegrasi

Peneliti BRIN: Program pengendalian malaria harus terintegrasi

Nyamuk pembawa demam berdarah, menghisap darah pada kulit seseorang. ANTARA/Shutterstock/pri.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti di Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Rintis Noviyanti mengatakan program pengendalian malaria harus dilakukan secara terintegrasi (integrated malaria control program) untuk mengendalikan kasus malaria di Indonesia.

"Yang baik dilakukan untuk eliminasi malaria antara lain diagnosis yang baik dan pengobatan yang tepat," kata Rintis saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.

Program pengendalian malaria terintegrasi tersebut mencakup upaya antara lain penemuan kasus malaria melalui diagnosis yang cepat dan akurat, pemberantasan parasit malaria dengan obat dan vaksin, serta pengendalian vektor termasuk pemberian kelambu dan insektisida.

Rintis menuturkan pendanaan yang tersedia juga harus dipastikan cukup untuk pelaksanaan program pengendalian malaria terintegrasi itu.

Selain itu, Rintis mengatakan komitmen bersama dari pemangku kebijakan dan dukungan masyarakat juga menjadi poin penting dalam mewujudkan pengendalian kasus malaria di Tanah Air

Baca juga: Menkes sebut pengendalian malaria selama PON dilakukan lewat fogging

Baca juga: Dinkes Papua minta berbagai pihak dukung pengendalian malaria


Hingga saat ini Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk dapat mengeliminasi malaria di seluruh wilayah Tanah Air.

Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi malaria nasional atau negara Indonesia bebas malaria pada 2030.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan Dr. drh. Didik Budijanto, M.Kes mengatakan salah satu tantangan dalam program eliminasi malaria yang menjadi perhatian adalah bagaimana menurunkan penemuan kasus malaria aktif atau pasif.

Ia menuturkan upaya untuk mengatasi tantangan itu, yaitu melalui pemeriksaan malaria dengan menggunakan tes diagnostik cepat (RDT), distribusi kelambu, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan.

Dalam upaya mengeliminasi malaria, Pemerintah Indonesia juga memastikan ketersediaan alat diagnosis dan pengobatan malaria, dan melaksanakan pengendalian nyamuk penular malaria bersama masyarakat dengan cara perbaikan lingkungan.

Baca juga: BRIN: Perlu uji klinis vaksin RTS,S ketahui efektivitas di Indonesia

Baca juga: Kemkes konsultasi dengan WHO bahas vaksin malaria pertama RTS,S

 
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021