IPB: Akuaponik solusi ketahanan pangan rumah tangga maupun komersial

IPB: Akuaponik solusi ketahanan pangan rumah tangga maupun komersial

Mahasiswa IPB University yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, hadirkan Pakar Hidroponik dan Akuaponik IPB University dalam webinar "Hidroponik dan Budikdamber sebagai Alternatif Pertanian pada Lahan Terbatas". (ANTARA/HO-IPB University)

Jakarta (ANTARA) - IPB University menilai sistem budidaya akuaponik dapat menjadi solusi ketahanan pangan, baik skala rumah tangga maupun skala komersial.

Dosen IPB University dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Tatag Budiardi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, menyampaikan akuaponik adalah teknologi yang memadukan teknik bercocok tanam dan budidaya ikan pada lahan yang sempit.

"Sistem budidaya tanaman tersebut muncul karena adanya fenomena 'urban farming'," ujarnya dalam webinar "Hidroponik dan Budikdamber sebagai Alternatif Pertanian pada Lahan Terbatas" yang diselenggarakan Mahasiswa IPB University yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor.

Baca juga: FEM IPB paparkan perlunya transformasi ekonomi Indonesia saat pandemi

Akuaponik, lanjut Tatag, merupakan teknologi yang cocok digunakan untuk menanam ikan dan sayuran secara berkelanjutan.

"Teknik akuaponik dapat menghasilkan produksi ikan dan sayuran sebagai bahan pangan yang terkontrol proses produksinya dan kualitas yang baik," katanya.

Tatag menjelaskan prinsip kerja sistem akuaponik pada dasarnya menggunakan nutrisi (hara) yang ditambahkan ke sistem akuaponik seoptimal dan seefisien mungkin dengan menghasilkan dua produk yaitu ikan dan sayuran.

Baca juga: Fakultas Peternakan IPB beri pembekalan KKNT untuk mahasiswa

Sistem akuaponik itu, memanfaatkan air secara hemat dan efisien untuk kegiatan produksi dengan memaksimumkan penggunaan lahan atau unit produksi.

"Komoditas ikan yang biasa dibudidayakan pada sistem ini biasanya adalah ikan lele, nila, mujair, dan patin," paparnya.

Sementara sayuran yang biasa diterapkan dengan sistem ini, lanjut dia, yakni berupa kangkung, sawi dan caisim.

Baca juga: IPB University beri masukan terkait kebijakan MBKM pada DPR

Ia mengatakan monitoring perlu dilakukan secara berkala dengan memperhatikan kondisi hara yang digunakan, kualitas air yang terjaga, serta tingkat padat tebar ikan yang dibudidayakan.

"Budikdamber merupakan solusi yang sangat tepat untuk diterapkan pada lahan yang terbatas untuk melakukan produksi ikan dan sayuran pada waktu yang sama, tentunya dengan kontrol yang dijaga sehingga kualitas dan kuantitas yang dihasilkan memiliki nilai yang sangat baik," imbuhnya.

Dalam kesempatan sama, Dosen IPB University dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Hamim menambahkan hara untuk tanaman hidroponik dapat disalurkan melalui pemberian pupuk cair.

Baca juga: Rektor IPB: Ekosistem laut tunjang sektor industri Indonesia

Komoditas yang cocok untuk hidroponik pada umumnya adalah jenis buah-buahan seperti melon, tomat dan stroberi, serta jenis sayuran seperti selada, seledri, daun bawang dan sawi hijau.

Pemeliharaan hidroponik, lanjut dia, pada umumnya dilakukan pengontrolan pada sirkulasi nutrisi, menjaga pH media, memperhatikan kecukupan aerasi, pengamatan morfologi, dan pengatasan penyakit, serta pemanenan.

"Pemanenan tanaman dengan sistem hidroponik ini dilakukan berdasarkan jenis tanaman dengan pelaksanaan panen secara serempak, berulang, ataupun bertahap," katanya.

Baca juga: IPB University satukan alumni dari berbagai penjuru negeri lewat FSA

Ia menambahkan pemasaran hasil tanaman hidroponik dapat dilakukan pada super market, restoran, katering, hotel atau pasar daring. 

"Tanaman dengan sistem hidroponik ini memiliki potensi yang sangat tinggi karena memiliki kualitas produk yang baik, tren konsumen masa mendatang, dan perkembangan 'online market'," ujarnya.

Baca juga: IPB rancang konsentrator oksigen respons kelangkaan
 
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021