Generasi muda Hindu siapkan diri untuk ujian kepemimpinan

Generasi muda Hindu siapkan diri untuk ujian kepemimpinan

Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana (ANTARA/HO-Dokumen pribadi Ari Dwipayana)

Jakarta (ANTARA) - Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana menyampaikan generasi muda Hindu harus mempersiapkan diri terhadap ujian kepemimpinan baik dalam situasi normal maupun saat menghadapi krisis.

Hal itu disampaikan Ari secara daring pada Pendidikan Kepemimpinan Nasional (Pakemnas) X Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu (DPN Peradah), di Jakarta, Minggu.

Ari mengatakan posisi anak muda sangat strategis dalam kepemimpinan Indonesia ke depan.

Baca juga: Ari Dwipayana tinjau pembangunan Bendungan Sidan di Bali

“Berdasarkan hasil survei BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2020, sebanyak 27,94 persen dari total penduduk Indonesia 270,20 juta jiwa adalah bagian dari Gen-Z. Sebanyak 25,87 persen di antaranya adalah milenial dan 21,88 persen Gen-X. Angka itu akan terus bertambah sejalan dengan puncak bonus demografi pada tahun 2025-2035,” kata Ari melalui siaran persnya.

Dengan jumlah yang semakin besar, ujar dia, maka anak muda akan menjadi penentu dalam momen-momen politik. Oleh karena itu, kata Ari, mengingatkan agar anak muda Hindu tidak "emoh" politik. Terlebih, saat ini muncul fenomena apatisme politik di kalangan anak muda.

“Muncul persepsi di kalangan anak muda bahwa politik itu kotor hanya ajang konstestasi saja dan hanya perebutan kekuasaan semata,” ujarnya.

Padahal dalam kehidupan sehari-hari, kata Ari, anak muda tberada dalam ruang vakum politik. Anak muda juga tidak bisa menghindar dari ranah politik.

“Karena itu, anak muda sangat penting membangun budaya politik baru,” ujarnya.

Ia menekankan beberapa hal kepada peserta Pakemnas. Pertama ialah mendorong aktivisme anak-anak muda Hindu untuk memperjuangkan nilai-nilai kemasyarakatan.

Ari menegaskan pentingnya partisipasi dan keterlibatan aktif dalam persoalan-persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan, seperti soal kebodohan, kemiskinan, ketimpangan, intoleransi-kekerasan dan krisis lingkungan.

Kedua, anak-anak muda Hindu juga harus bisa mewujudkan politik kerja atau politik karya.

“Berpolitik tidak hanya berhenti pada jargon atau sebatas wacana, melainkan harus dibuktikan dengan kerja-kerja politik yang konkrit. Dengan cara itu, kepercayaan pada politik dan institusi politik bisa ditingkatkan,” ujar dia.

Ketiga, dalam berpolitik anak-anak muda Hindu harus berani mengambil posisi keberpihakan pada nilai-nilai, baik nilai kebangsaan maupun kemanusiaan.

Keempat, kata Ari, anak-anak muda Hindu harus berani membangun budaya politik baru yang cerdas dan beradab, dan memuliakan harkat martabat kemanusiaan.

“Budaya politik itu bisa muncul dengan cara memberikan pendidikan politik, mengedukasi dan mencerdaskan warga. Warga harus menjadi subyek dan partisipan utama dalam politik. Jangan sampai suara warga justru dimanipulasi dengan model politik uang yang transaksional,” kata dia.

Baca juga: Ari Dwipayana: Perguruan tinggi harus keluar dari birokratisasi kampus

Ari Dwipayana juga mengingatkan bahwa dalam menjalankan dharma negara (berbangsa dan bernegara), jangan sampai anak muda Hindu justru kehilangan rasa kemanusiaan. Seluruh masyarakat adalah bersaudara.

“Karena seringkali perbedaan politik justru memunculkan konflik-kekerasan,” ujar Ari.

Dia mengutip Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.

Pakemnas X Peradah Indonesia kali ini berbeda dengan Pakemnas yang sudah pernah berjalan di setiap periode kepengurusan DPN Peradah Indonesia. Pakemnas kali ini dilaksanakan secara virtual karena Indonesia saat ini masih terdampak pandemi COVID-19.

Pakemnas X Peradah Indonesia yang dilaksanakan pada Sabtu - Minggu (29-30/5) di Jakarta, dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia Yoqut Cholil Qoumas pada Sabtu (29/05). Selain menghadirkan Ari Dwipayana, turut hadir pembicara dari Ketua umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, Pimpinan Berdikari Lawfirm Gede Pasek Suardika, Akademisi Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta (STAH DNJ) Ni Gusti Ayu Ketut Kurniasari dan ditutup secara resmi oleh Dirjen Bimas Hindu Kemenag Tri Handoko Seto pada Minggu (30/5).

Baca juga: Ari Dwipayana: Ambil inspirasi dari pembangunan Candi Prambanan
Baca juga: Ari Dwipayana: Cagar budaya DIY hadapi tantangan pembangunan kota
Baca juga: Stafsus Presiden: Pandemi momentum maksimalkan digitalisasi museum

Pewarta : Indra Arief Pribadi
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021