Hari keenam, petugas fokus cari satu korban tanah longsor Nganjuk

Hari keenam, petugas fokus cari satu korban tanah longsor Nganjuk

Tim SAR mengevakuasi korban tanah longsor di Ngetos, Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (16/2/2021). ANTARA FOTO/Zabur Karuru/am.

Nganjuk, Jatim (ANTARA) - Petugas gabungan dari Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk, TNI/polri serta relawan fokus mencari satu korban tanah longsor di hari keenam pencarian para korban longsor di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

"Pencarian hari ini dilanjutkan. Kemarin sudah lima yang berhasil ditemukan, sekarang masih satu," kata Kepala Basarnas Jatim Hari Adi Purnomo di Nganjuk, Jumat.

Pihaknya berharap korban segera ditemukan. Petugas sebelumnya juga sudah mengidentifikasi titik-titik dimungkinkan korban berada dengan bantuan anjing pelacak.

Ia juga menambahkan, pencarian memang tidak dilanjutkan pada Kamis (18/2), kendati tinggal satu orang yang belum ditemukan. Selain faktor cuaca, ia juga memerhatikan kondisi fisik dari para relawan terutama operator eskavator.

"Operator eskavator sudah beberapa hari, sehingga recovery yang cukup. Semoga tidak ada masalah, sehingga bisa bekerja dengan baik," kata dia.

Dalam pencarian juga tetap dimulai dengan briefing serta pengarahan oleh petugas. Tim tetap dibagi di sektor A dan sektor B di lokasi kejadian, untuk memudahkan pencarian.

Namun, pihaknya tetap membatasi jumlah personel yang di lokasi tanah longsor, sekitar 30 orang saja. Hal itu dilakukan demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Di lokasi, dari penelitian yang dilakukan ahli geologi terdapat rekahan-rekahan baru, sehingga harus diantisipasi.

"Kami diskusi dengan tim geologi, memang ada rekahan di atas kemudian masih ada air di tanah, sehingga kami lakukan dengan alat early warning sitem yang sederhana, manual itu sebagai tanda kalau ada apa-apa," kata Hari Adi Purnomo.

Sebelumnya, BPBD Jawa Timur juga telah melakukan survei geologi, seismik dan udara untuk mengantisipasi longsor susulan yang dikhawatirkan terjadi di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk.

Survei geologi dilakukan dengan melihat struktur tanah dan batu-batuan di sekitar lokasi longsor.

Sedangkan survei seismik dilakukan dengan menggunakan seismograf untuk mengukur indeks kerentanan tanah yang difokuskan di tiga titik, yakni kaki longsoran, belakang Masjid Riyadhatut Tholibin di sekitar lokasi dan di badan longsor.

Sementara survei udara dilakukan menggunakan drone di seluruh area lokasi longsoran yang selalu diperbarui setiap pagi dan sore hari.

Berdasarkan survei tiga jenis tersebut didapati adanya rekahan-rekahan baru yang searah dengan arah longsor.

Selain itu, juga ditemukan dua jenis struktur batuan berbeda, yaitu di sisi utara lebih banyak batuan mengalami pelapukan dan sisi selatan merupakan formasi batuan andesit yang masih kuat.

Survei udara juga menemukan adanya aliran air dari sumber yang berpotensi menambah debit air terserap tanah.

Bencana tanah longsor terjadi di Dusun Selopuro, Desa/kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, pada Minggu (14/2) setelah hujan deras mengguyur daerah ini. Akibatnya, 10 rumah warga rusak, yakni delapan rumah warga tertimbun dan dua rusak berat.

Di daerah tersebut, ada 186 orang warga yang terdata. Dari jumlah itu, 21 orang di antaranya dinyatakan hilang. Setelah pencarian, dua orang berhasil selamat, 18 orang meninggal dunia, dan satu orang lagi masih dicari. 

Baca juga: Lima jenazah korban tanah longsor ditemukan

Baca juga: Dirawat, puluhan pengungsi-relawan longsor Nganjuk diduga keracunan

Baca juga: BPBD survei geologi, seismik, udara antisipasi longsor susulan Nganjuk

Baca juga: 400 personel dikerahkan cari korban tertimbun longsor Nganjuk


 
Pewarta : Asmaul Chusna
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021