Konsisten cetak wirausaha, Kemenperin lanjutkan program Santripreneur

Konsisten cetak wirausaha, Kemenperin lanjutkan program Santripreneur

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih dan para santri saat membuka Program Santripreneur di Tangerang. ANTARA/ Sella Panduarsa Gareta.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka konsisten mengembangkan wirausaha baru di sektor industri kecil dan menengah (IKM) dengan kembali melanjutkan program penumbuhan wirausaha baru (WUB) di kalangan pesantren atau Santripreneur.

Pembukaan kegiatan penumbuhan dan pengembangan WUB dalam bentuk bimbingan teknis dan fasilitasi mesin dan peralatan diselenggarakan secara daring di Jawa Tengah dan Jawa Timur diantaranya di Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kota Semarang dan Kabupaten Demak.

“Pesantren dan para santri yang ada di pondok merupakan potensi yang dapat dikembangkan dengan stimulus yang tepat guna dan tepat sasaran,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kemenperin Gati Wibawaningsih pada acara pembukaan program tersebut secara daring, Senin.

Gati melihat banyak pesantren yang sudah dapat memenuhi kebutuhan internal pesantren bahkan memiliki unit bisnis yang juga melayani kebutuhan luar pesantren, untuk itu Kemenperin memutuskan untuk melanjutkan program tersebut.

Ia menjelaskan kegiatan bimbingan teknis dan fasilitasi mesin dan peralatan ini merupakan implementasi program penumbuhan dan pengembangan wirausaha baru di lingkungan pondok pesantren (Santripreneur) tahun anggaran 2020 yang dilaksanakan oleh Ditjen IKMA kerja sama dengan delapan pondok pesantren.

Di antaranya, kegiatan fasilitasi mesin dan peralatan pondok pesantren Bahrul Maghfiroh, pondok pesantren An Nur II Al Mutadlo, Al Iman,  Nuril Anwar, Azzahro’, Al Minhaj, Askhabul Kahfi dan pondok pesantren Sholihiyyah.

“Fasilitasi mesin/peralatan produksi ini kami berikan kepada pondok pesantren dengan harapan alat ini dapat dimanfaatkan bagi pondok pesantren sebagai unit bisnis yang baru pada pondok pesantren,” ungkap Gati.

Adapun fasilitasi mesin/peralatan produksi tersebut antara lain di bidang olahan pangan dan minuman, perbengkelan roda dua; kerajinan boneka dan kain perca; konveksi busana muslim dan seragam; daur ulang sampah dan produksi pupuk organik cair, kosmetik dan home care, dan paving block.

“Ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat, terutama bagi para santri untuk bersama-sama membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih baik. Oleh karena itu saya mendorong agar para santri selepas lulus dari pondok pesantren tidak hanya menjadi guru di mushola atau masjid tapi juga menjadi seorang Santripreneur,” terang Gati.

Gati menyampaikan, sejak 2013 termasuk delapan pondok pesantren hari ini, Kemenperin telah membina sebanyak 75 pondok pesantren dan 9.988 orang santri, dengan jenis kegiatan pelatihan bimbingan teknis produksi, bantuan mesin/peralatan yang beragam seperti olahan pangan dan minuman, serta perbengkelan roda dua.

Kemudian, kerajinan boneka dan kain perca; konveksi busana Muslim dan seragam; daur ulang sampah dan produksi pupuk organik cair, kosmetik dan home care, paving block.

“Unit industri yang dijalankan oleh pondok pesantren jika dikelola dengan baik tentunya akan bertambah maju, karena didukung dengan lokasi pondok pesantren yang berada di sekitar pemukiman penduduk yang sangat strategis untuk berwirausaha di bidang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar,” terangnya.

Baca juga: Kemenperin gelar Program Santripreneur di Yogyakarta dan Jateng
Baca juga: Kemenperin konsisten bina santri berwirausaha
Baca juga: Kemenperin bina lebih dari 8.000 santri untuk jadi wirausaha baru

Pewarta : Sella Panduarsa Gareta
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020