Kemenkes paparkan strategi implementasi atasi hepatitis

Kemenkes paparkan strategi implementasi atasi hepatitis

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenjeral (Ditjen) Kemenkes RI dr. Wiendra Waworuntu saat diskusi daring dengan tema "Ayo Deteksi Dini Hepatitis B" yang dipantau di Jakarta, Senin. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memaparkan sejumlah strategi akselerasi untuk diimplementasikan guna mengatasi hepatitis di Tanah Air dalam rangka peringatan Hari Hepatitis sedunia.

"Pertama ialah perbaikan kualitas layanan standar hepatitis melalui program legislasi kesehatan 2020 bersama dengan KOMLI," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenderal (Ditjen) Kemenkes RI dr Wiendra Waworuntu saat diskusi daring dengan tema "Ayo Deteksi Dini Hepatitis B" yang dipantau di Jakarta, Senin.

Baca juga: Kemenkes: Pemutusan penularan Hepatitis B ibu ke anak jadi prioritas

Strategi kedua ialah meningkatkan cakupan deteksi dini Hepatitis B yang terintegrasi pada ibu hamil dalam menuju triple eliminasi pada 2020.

"Tinggal dua tahun, tapi anggap saja satu tahun karena perlu persiapan-persiapan menuju eliminasi," katanya.

Selanjutnya ialah penguatan data Hepatitis B dan C melalui surveilans sentinel 2020. Namun, hal tersebut bukanlah perkara mudah karena sektor layanan di rumah sakit maupun puskesmas harus betul-betul dikuatkan serta disiapkan dari sekarang.

Berdasarkan riset kesehatan dasar 2013 yang dilakukan, diketahui prevalensi Hepatitis B di Indonesia, yakni 7,1 persen atau sekitar 18 juta penduduk terinfeksi penyakit tersebut.

"Sebanyak sembilan juta berkembang menjadi kronis atau setara 50 persen dan 900 ribu berlanjut menjadi sirosis serta kanker hati," katanya.

Baca juga: Hepatitis C berujung kanker bisa terjadi akibat narkoba suntik

Baca juga: Tak semua penderita hepatitis harus minum obat antivirus


Strategi selanjutnya dalam mengatasi hepatitis di Tanah Air ialah perluasan deteksi dini Hepatitis B dan C pada populasi berisiko dan perluasan layanan Hepatitis C dengan Direct Acting Antiviral (DAA) dari 16 provinsi menjadi 34 provinsi.

Selain langkah dan strategi tersebut, pemerintah juga melakukan upaya pencegahan hepatitis, di antaranya pemberian imunisasi HB0 pada bayi usia kurang dari 24 jam.

Dengan demikian, ujar dia, harapannya dari 4.502.342 atau setara 94,5 persen bayi yang bisa diberikan imunisasi dapat memberikan penurunan sekitar 85 persen orang Indonesia tidak terinfeksi hepatitis. "Ini yang perlu diberikan perhatian kepada ibu yang memiliki bayi," katanya.

Baca juga: PMI gencarkan promosi edukasi kesehatan cegah mewabahnya Hepatitis A
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020