Prof Zainal: Jangan jadikan Idul Adha kluster baru COVID-19

Prof Zainal: Jangan jadikan Idul Adha kluster baru COVID-19

Prof Dr KH Zainal Abidin MAg. (ANTARA/HO-Istimewa)

Palu (ANTARA) - Tokoh Agama Islam di Sulawesi Tengah, Prof Dr KH Zainal Abidin MAg, mengimbau kepada umat Islam bahwa pelaksanaan Shalat Idul Adha 1441 H, jangan sampai menjadi kluster baru penyebaran virus corona jenis baru (COVID-19).

"Umat Islam harus berperan aktif mencegah penyebaran virus corona jenis baru, karena itu dalam pelaksanaan Shalat Idul Adha harus tetap mengedepankan protokol kesehatan pencegahan COVID-19," ucap Prof Zainal Abidin MAg, di Palu, Senin, terkait pelaksanaan ibadah Shalat Idul Adha 1441 H.

Prof Zainal Abidin yang merupakan Ketua MUI Kota Palu mengemukakan, MUI Palu tetap mengingatkan kepada umat Islam terkait dengan pencegahan COVID-19, yang bertepatan dengan Idul Adha 1441 H.

Hal itu penting dilakukan oleh MUI Palu, karena menyangkut dengan keselamatan dan kesehatan bersama semua pihak. Olehnya, MUI berharap pelaksanaan Shalat Idul Adha tahun 2020 di Palu dan sekitarnya, tidak menjadi kluster baru penyebaran COVID-19.

Baca juga: Umat Islam Yogyakarta diimbau takbir Idul Adha dari rumah

Baca juga: Perantau dan wisatawan diundang rayakan Idul Adha di Sumbar


Dengan begitu, ia mengimbau kepada umat Islam agar tetap menggunakan masker, cuci tangan dan tetap menjaga jarak apabila shalat Idul Adha dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau berlangsung di lapangan terbuka, bagi daerah yang statusnya sebagai zona hijau.

"Tentu daerah atau wilayah yang statusnya sebagai zona merah, maka tentu belum bisa melaksanakan Shalat Idul Adha secara berjamaah baik di masjid atau di lapangan terbuka," ujarnya.

Hal itu sesuai dengan edaran Menteri Agama Nomor 15 tahun 2020 Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah Dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman COVID-19 di Masa Pandemi.

Kemudian, Prof Zainal Abidin menerangkan bahwa Idul Adha merupakan kesinambungan kesalehan sosial spiritual seorang Islam.

"Idul Adha (Hari Raya Kurban) sejatinya merupakan kesinambungan jalan kesalehan sosial spiritual, dari Idul Fitri," katanya.

Guru Besar Pemikiran Islam Modern IAIN Palu itu menyebut jika Idul Fitri merupakan manifestasi kemenangan atas nafsu, maka Idul Adha merupakan manifestasi dari ketulusan berkorban, kerendahan hati untuk melakukan refleksi historis dalam mengenang perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail.

Sekaligus, kata dia, memaknai nilai-nilai spiritual dari manasik haji.

"Kedua hari raya tersebut bermuara pada nilai-nilai kepedulian, ketakwaan, dan kesalehan sosial berupa ketulusan memaafkan, pentingnya silaturahim, dan etos berbagi yang disimbolkan dengan zakat fitrah pada Idul Fitri dan daging kurban pada Idul Adha," katanya.*

Baca juga: Pemkot Bogor izinkan Shalat Idul Adha di masjid, lapangan dan ruangan

Baca juga: Si gundul, sapi kurban Presiden untuk Kepri
Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020