Mendes ajak masyarakat Yogyakarta hidupkan kembali desa wisata

Mendes ajak masyarakat Yogyakarta hidupkan kembali desa wisata

Dokumentasi - Warga memasang karya lukis di geleri alam di Desa Onggopatran, Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (13/8/2019). Warga desa setempat meningkatkan potensi wisata desa mereka dengan membuat festival seni dan budaya guna menarik wisatawan berkunjung melihat atraksi budaya desa tersebut. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/hp.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali desa wisata yang ada di Yogyakarta.

"Dibukanya kembali destinasi wisata desa dalam menyambut kehidupan normal baru akan kembali membawa geliat ekonomi yang ada di desa," ujar Abdul Halim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu.

Oleh karena itu, kata dia, agar kembali menggeliat ekonomi di desa dia mengajak seluruh masyarakat Yogyakarta di mana pun berada untuk menghidupkan kembali desa-desa wisata.

Baca juga: Kemenparekraf ajak 20 desa wisata turut Gerakan BISA di Magelang

"Termasuk Desa Wisata Puri Mataram. In syaa Allah, dengan demikian, warga masyarakat yang sebenarnya sudah menunggu karena jenuh. Mudah-mudahan kunjungan kembali normal," jelas dia.

Ajakan itu disampaikan saat melakukan kunjungan sekaligus membuka kembali untuk umum Destinasi Wisata Puri Mataram, Desa Tridadi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada Jumat (10/7).

Abdul Halim atau yang akrab disapa Gus Menteri telah melihat secara langsung destinasi wisata Puri Mataram yang sudah menerapkan protokol desa wisata.

"Jaga jarak sudah kita lihat, tempat cuci tangan sudah ada beserta sabunnya dan rambu-rambu protokol sudah terpasang. Jadi, jangan ragu dan khawatir datang ke Puri Mataram berwisata bersama keluarga," kata Mantan Ketua DPRD Jawa Timur itu.

Dalam kehidupan normal baru, Gus Menteri menjelaskan tidak ada pilihan dalam hadapi pandemi COVID-19 kecuali satu kehidupan normal baru, tatanan normal baru atau kehidupan berdampingan dengan COVID-19.

Baca juga: Mendes PDTT dorong digitalisasi desa wisata

"Terus terang, kegelisahan kita sampai hari ini belum terjawab dengan pasti dan belum ada gambaran sampai kapan yang namanya COVID-19 ada di Indonesia dan mempengaruhi kehidupan normal kita sebelumnya. Jadi, memang tidak ada pilihan selain kehidupan normal baru dengan memperhatikan protokol kesehatan agar masyarakat kembali beraktivitas," tambah dia.

Kemendes PDTT, lanjut dia, sudah mengeluarkan regulasi juga terkait tatanan normal baru yang harus dilakukan pemerintah desa.

"Meskipun itu tidak mutlak. Oleh karena itu menyesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing. Tetapi, paling tidak dengan keluarnya regulasi baru dari Kemendes PDTT, itu berarti kita sudah melakukan dorongan keras dam masif agar desa-desa wisata kita di Indonesia dan seluruh aktivitas ekonomi di desa digerakkan kembali dengan memperhatikan protokol kesehatan," terang dia.

Baca juga: Pemerintah kembangkan wisata bahari berbasis desa pesisir

Beberapa protokol yang telah disiapkan salah satunya digulirkan untuk desa wisata seperti Desa Wisata yang dikunjungi Gus Menteri yakni Puri Mataram.

"Kita lihat protokol kesehatannya sudah ada. Tempat cuci tangan sudah bagus, saat masuk dilakukan pengecekan suhu. Tinggal nanti, kalau dalam pelaksanaannya sudah banyak yang berkunjung perlu dilakukan pencermatan terkait jaga jarak yang tetap harus diterapkan," katanya.

Oleh karena itu, Gus menteri kembali meminta agar desa-desa wisata segera dibuka kembali dengan harapan bisa untuk menghidupkan kembali geliat ekonomi di desa.

"Kalau desa wisata sudah menerapkan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan, silahkan dibuka. Gerakkan warga untuk kembali datang ke desa wisata. Supaya ekonomi kembali menggeliat," imbuh dia.

Baca juga: Luhut: Pandemi bukan halangan pengembangan kawasan Danau Toba
Baca juga: Pemerintah memulai proyek pengembangan 10 desa wisata Danau Toba
Baca juga: Kemendes dorong Pantai Bahagia Muara Gembong jadi "Dewi" bahari
Pewarta : Indriani
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020