Ekonomi saat pandemi dapat bergerak asalkan pencegahan COVID-19 ketat

Ekonomi saat pandemi dapat bergerak asalkan pencegahan COVID-19 ketat

Pasien terpapar corona yang menempati rumah susun di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, menjalani konseling dan olahraga setiap hari. ANTARA/Sarjono

Jakarta (ANTARA) - Kegiatan ekonomi di tengah pandemi COVID-19 dinilai dapat tetap bergerak asalkan penerapan standar pencegahan penyebaran COVID-19 dilaksanakan secara ketat.

"Kita tidak bisa membiarkan ekonomi berhenti, mana ada negara ekonomi berhenti, jadi pabrik musti jalan, saya setuju," ujar Dokter Spesialis Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Menaldi Rasmin dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis.

Ia mengusulkan setiap pabrik memiliki asrama pegawai dan rumah sakit agar tidak terjadi penularan dari luar ke dalam pabrik maupun sebaliknya.

"Jadi karyawan tidak boleh pulang supaya tidak terjadi penularan dari luar ke dalam atau dari dalam ke luar. Industri jalan tapi tetap dalam pemantauan yang kuat, bila ada yang sakit dirawat di sana," ucapnya.

Sementara pegawai kantor, lanjut dia, manajemen kantor setempat harus sudah menetapkan atau merujuk rumah sakit bagi pegawainya jika terpapar COVID-19.
Baca juga: Pengamat berharap pekerja di DKI Jakarta rasakan tatanan normal baru

Sementara untuk kegiatan pendidikan, menurut Menaldi Rasmin, masih dapat dilakukan pembelajaran jarak jauh. Namun, untuk bidang kedokteran dan psikologi diharapkan dapat dilaksanakan secara tatap muka.

"Mungkin pengecualian bagi bidang kedokteran atau psikologi, karena untuk melatih dirinya menjadi mampu menghadapi pasien, tapi yang lainnya masih bisa dengan pembelajaran jarak jauh, kita juga sudah terbiasa selama dua bulan ini menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh," katanya.

Pada era Normal Baru ini, Menaldi Rasmin mengatakan, ada tiga hal yang harus dipegang, pertama adalah pedoman pandemi COVID-19.

"Jadi jangan main-main. Pandemi ini adalah pandemi infeksi virus, lebih berat dari bakteri, infeksinya saluran pernapasan, ini bukan pandemi biasa," ucapnya.
Baca juga: Wilayah penerapan tatanan normal baru akan diperluas

Kedua, lanjut dia, gaya hidup menghadapi pandemi. Ketiga adalah menahan penyebaran COVID-19 dari hulu atau masyarakat.

"Dalam hal ini, edukasi, informasi, kegiatan pencegahan dan deteksi dini musti kuat supaya kasus-kasus yang didapatkan adalah yang masih baru dan ringan sehingga tidak perlu kita bertemu kasus-kasus yang berat," paparnya.

Dengan begitu, menurut dia, pemerintah tidak perlu takut dengan menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan roda ekonomi.

Baca juga: Presiden: Tatanan normal baru akan diterapkan di sektor tertentu
Baca juga: Presiden pantau kesiapan daerah terapkan tatanan kenormalan baru
Baca juga: Muhammadiyah minta pemerintah jelaskan kebijakan soal kenormalan baru
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2020