Pakar Gizi IPB : WFH menjadi momen memperoleh gizi seimbang dari rumah

Pakar Gizi IPB : WFH menjadi momen memperoleh gizi seimbang dari rumah

Seorang ibu dan anaknya ikut sesi foto kampanye pangan aman saat peringatan Hari Gizi Nasional di Klaten, Jumat (1/3/2019).   Keamanan pangan tidak hanya sebatas tersedianya makanan yang cukup bagi masyarakat tapi juga perlu  pencegahan agar  pangan aman dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang  membahayakan kesehatan. (budi santoso)

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Ali Khomsan menyebutkan, momen Work From Home (WFH) selama wabah virus corona penyebab COVID-19 menjadi kesempatan baik bagi masyarakat untuk memperoleh asupan gizi seimbang dari rumah.

“Di luar rumah kita mudah mendapatkan masakan tinggi lemak yang menggugah selera dan rasanya enak. Akan tetapi masakan rumahan umumnya memperhatikan komposisi yang seimbang dan tidak berlebihan baik dalam kandungan gizi maupun porsi,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Menurut Prof Ali, gizi dan nutrisi tersebut biasanya diperoleh dari pangan pokok seperti nasi, sayuran, lauk pauk, serta buah-buahan yang lebih beragam dan berganti menu setiap harinya.

“Pola makan seperti inilah yang perlu diperhatikan selama sebagian besar dari masyarakat sementara bekerja dari rumah dan hanya bisa didapatkan ketika berada di rumah," ujarnya.

Lebih lanjut Prof Ali mengatakan kebutuhan pangan tersebut dapat dipenuhi dengan menyetok daging atau ikan yang bisa disimpan di freezer, telur dan sayur yang dibungkus dengan plastik berlubang untuk disimpan di refrigerator serta buah-buahan yang bisa awet disimpan hanya dengan suhu ruangan seperti apel dan pisang.

“Asupan vitamin C dan E sangat dianjurkan juga untuk dikonsumsi guna meningkatkan kekebalan tubuh dalam kondisi seperti saat ini. Makanan instan juga bisa disiapkan seperti mie, susu, kornet, serta ikan kaleng,” katanya.

Menurut Prof Ali, makanan instan dapat dikonsumsi sesekali selama WFH karena makanan kaleng atau instan yang dihasilkan oleh industri besar umumnya menggunakan bahan pengawet food-grade seperti benzoat atau nitrit dalam jumlah yang sudah memenuhi syarat kesehatan.

Ia lebih lanjut mengatakan dalam situasi darurat sepeti ini hal tersebut bisa menjadi opsi untuk mencegah kebosanan.

“Kebutuhan kalori individu dewasa berkisar 2.000 kalori-2.500 kalori, ini sudah bisa dipenuhi dengan tiga kali makan ditambah camilan di antara dua waktu makan tersebut. Akan tetapi harus juga diperhatikan bahwa kebutuhan gizi itu dicerminkan oleh tercukupinya kalori, protein, lemak, vitamin dan mineral,” ujarnya.

Ia menambahkan anjuran berkaitan dengan empat sehat lima sempurna sendiri sebenarnya merupakan bentuk keragaman pangan dalam konsumsi sehari-hari. Selain itu pedoman gizi seimbang juga harus disertai dengan upaya menjaga hidup bersih, dan aktif melakukan aktivitas fisik.

“Agar tetap sehat olahraga di tengah keterbatasan perlu dilakukan, bisa di teras rumah secara secukupnya, dianjrkan tiga sampai lima kali seminggu dengan durasi satu jam tergantung berat atau tidaknya jenis olahraga yang dipilih. Sebaiknya kebiasaan merokok juga dihentikan agar kekebalan tubuh tidak merosot akibat pengaruh rokok,” tambahnya.

Pewarta : Zita Meirina/Zainiya Abidatun
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020