Bocah 4 tahun meninggal, kematian akibat DBD di NTT jadi 43 kasus

Bocah 4 tahun meninggal, kematian akibat DBD di NTT jadi 43 kasus

Seorang dokter sedang memantau pasien demam berdarah dengue (DBD) dirawat di bangsal anak RSUD Tc Hillers di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT,Sabtu (14/3/2020). .ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.

Kupang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur melaporkan bahwa hingga Rabu jumlah kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) di provinsi berbasis kepulauan itu telah mencapai 43 orang, terakhir adalah bocah berusia empat tahun meninggal di Kota Kupang.

"Data per hari Selasa (17/3) kemarin kasus kematian terakhir akibat DBD terjadi di Kota Kupang, sehingga sampai saat ini jumlah korban meninggal di NTT totalnya menjadi 43 orang," kata Sekretaris Dinas Kesehatan NTT David Mandala kepada ANTARA di Kupang, Rabu.

Ia mengatakan korban yang meninggal terakhir di Kota Kupang adalah seorang warga dari Kelurahan Oebobo, ibu kota provinsi NTT itu yang juga adalah seorang anak berusia empat tahun.

David korban DBD itu meninggal pada Senin (16/3) lalu diduga terlambat penanganan karena korban terlambat dibawa ke puskesmas terdekat untuk penanganan.

Ia mengatakan jumlah kasus DBD di NTT terus mengalami peningkatan dari hari ke hari. Saat ini kasus DBD di NTT telah menyentuh angka 3.731 kasus.

Pada Senin (16/3) angka kasus DBD hanya berada pada angka 3.661 kasus dengan angka kematian mencapai 42 orang," tambah dia.

"Saat ini, penyumbang kasus DBD terbesar berada di Kabupaten Sikka dengan jumlah mencapai 1.396 kasus dengan angka kematian mencapai 14 kasus.

Peringkat kedua kasus DBD di NTT adalah kota Kupang dengan jumlah kasus mencapai 529 kasus dengan jumlah yang meninggal mencapai enam orang.

Sementara itu peringkat ketiga adalah kabupaten Alor dengan jumlah kasus mencapai 345 kasus dengan korban meninggal mencapai empat orang.

Pemerintah provinsi juga sudah melakukan berbagai cara untuk menekan angka kematian akibat DBD. Salah satu cara adalah mengirimkan sejumlah dokter spesialis ke sejumlah daerah yang terparah kasus DBDnya.

Bahkan saat ini khusus untuk kabupaten Sikka saja, provinsi NTT mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat seperti dokter ahli dan perawat bahkan informasi yang diperoleh ANTARA menyebutkan bahwa per Rabu (18/3) KLB DBD yang sudah berada di tahap keempat sudah dicabut.

Masyarakat diminta agar tetap menjaga kebersihan lingkungan serta memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk aedes aegypty.***3***

 
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020