Korban meninggal akibat DBD di NTT capai 39 orang

Korban meninggal akibat DBD di NTT capai 39 orang

Dokter memeriksa seorang pasien terserang demam berdarah dengue (DBD) yang dirawat di bangsal anak RSUD TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (11/3/2020). ANTARA/Kornelis Kaha.

Maumere, Kabupaten Sikka (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur melaporkan hingga Kamis (12/3) malam pukul 19.00 wita jumlah korban meninggal akibat gigitan nyamuk aedes aegypti atau demam berdarah dengue (DBD) mencapai 39 orang.

"Korban yang meninggal akibat DBD di NTT sampai saat ini sudah mencapai 39 orang," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi NTT David Mandala kepada ANTARA di Maumere, Kamis.

Jumlah kematian korban DBD itu dikumpulkan dari 22 kabupaten/kota yang terhitung sejak Januari hingga Maret.

Baca juga: Kemenkes beberkan beberapa faktor yang sebabkan kematian akibat DBD
Baca juga: 1.255 kasus DBD di Kabupaten Sikka


Menurut dia, selain jumlah korban yang meninggal terus bertambah jumlah kasus DBD di NTT juga terus naik. Sampai dengan saat ini jumlah kasus DBD di NTT sudah mencapai 3.284 kasus dibandingkan di hari sebelumnya hanya mencapai 3.222.

"Artinya terjadi kenaikan sebesar 62 kasus DBD di NTT plus satu kasus kematian, " tutur dia.

Lebih lanjut kata dia, dari 32 korban meninggal akibat DBD di NTT, penyumbang terbanyak adalah dari Kabupaten Sikka dengan jumlah korban meninggal mencapai 14 orang.

Sementara itu jumlah kasus DBD per Kamis (12/3) di Sikka, justru telah meningkat drastis menjadi 1.264 kasus di mana di hari yang sama pada pukul 15.00 wita hanya berada pada angka 1.255 kasus.

Baca juga: Warga Kota Bogor meninggal karena DBD bertambah satu
Baca juga: 3 warga Sumsel meninggal dunia karena DBD


Urutan kedua ditempati oleh Kota Kupang dengan jumlah kasus mencapai 470 kasus dengan angka kematian mencapai 5 orang.

Posisi ketiga ditempati oleh Kabupaten Belu, dengan jumlah kasus mencapai 335 kasus dengan jumlah kasus mencapai empat orang.

"Kalau untuk Belu ada penambahan korban DBD yang meninggal satu orang siang tadi, " tambah dia.

Ia mengatakan semakin meningkatnya jumlah pasien DBD yang meninggal di provinsi itu diakibatkan karena keterlambatan untuk membawa korban ke puskesmas atau RS agar bisa diperiksa.

Baca juga: Kematian akibat DBD jadi 104 orang, sebut Kemenkes
Baca juga: Puluhan pasien DBD masih dirawat di RS swasta Kewapante


Pemerintah provinsi juga sudah melakukan berbagai cara untuk menekan angka kematian akibat DBD. Salah satu cara adalah mengirimkan sejumlah dokter spesialis ke sejumlah daerah yang terparah kasus DBDnya.

Bahkan saat ini khusus untuk Kabupaten Sikka saja, provinsi NTT mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat seperti dokter ahli dan perawat.

Masyarakat diminta agar tetap menjaga kebersihan lingkungan serta memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk aedes aegypty seperti pemberantasan sarang nyamuk.

Baca juga: Kasus DBD di Temanggung meningkat tajam
Baca juga: Bupati : Drainase yang buruk penyebab dbd di Sikka


 
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020