Buku terapi schroth edukasi masyarakat tentang skoliosis

Buku terapi schroth edukasi masyarakat tentang skoliosis

Dokter rehabilitasi skoliosis, tulang, saraf dan otot sekaligus pemilik klinik spine Dr Budi Widjaja memperlihatkan buku terapi schroth di Jakarta, Senin (27/1/2020). (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Klinik spine yang khusus menangani tulang belakang bekerja sama dengan pakar ortopedi asal Jerman Dr Hans Rudolf Weiss meluncurkan buku terapi schroth untuk mengedukasi masyarakat agar mengetahui tentang penyakit skoliosis.

"Dengan membaca buku ini diharapkan masyarakat jadi lebih mengerti apa itu skoliosis dan schroth termasuk cara penanganannya," kata dokter rehabilitasi skoliosis, tulang, saraf dan otot sekaligus pemilik klinik spine Dr Budi Widjaja saat peluncuran buku terapi schroth di Jakarta, Senin.

Dalam buku tersebut, kata dia, juga dijelaskan kapan fase skoliosis menyerang manusia dan langkah terbaik yang mesti dilakukan. Skoliosis atau kondisi tulang belakang tidak normal terjadi pada saat usia 10 hingga 14 tahun.

Termasuk pula dalam buku itu mengajarkan cara-cara terapi schroth atau pun fisioterapi yang berguna bagi pasien skoliosis maupun tenaga medis agar lebih mendalaminya.

Ia mengatakan penyakit tersebut pertama kali ditemukan pada 1921 dan langsung diajarkan cara penanganannya hingga sekarang. Namun, belum ada orang yang secara spesifik dan ilmiah melakukan pengujian penyakit itu.

"Jadi contohnya 100 orang dengan pengobatan lain dan 100 orang melakukan terapi schroth hasilnya seperti apa, itu yang diteliti," katanya.

Hal itu untuk mengetahui kondisi perbandingan pengobatan terapi schroth dengan pengobatan lain. Hasil penelitian itu dicatat secara lengkap di buku tersebut.

Meskipun buku terapi schroth tersebut berisikan tentang dan cara penanganan penyakit skoliosis, masyarakat tetap perlu mendapatkan pendampingan dari dokter khusus.

Hal itu dikhawatirkan pasien skoliosis yang langsung mencoba terapi schroth tanpa pendampingan bisa berakibat fatal atau salah pengobatan. Oleh karena itu disarankan terlebih dahulu melakukan pendampingan medis.

"Orang membaca penafsirannya bisa beda-beda jadi butuh pendampingan dulu," katanya.

Dengan adanya peluncuran buku tersebut, masyarakat diharapkan lebih memahami tentang skoliosis dan cara penanganannya.

Baca juga: Pakar: Skoliosis terjadi pada masa pertumbuhan
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 1970