KEHATI Award dan motivasi pelestarian sumber daya hayati

KEHATI Award dan motivasi pelestarian sumber daya hayati

Pembina Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Emil Salim. (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - KEHATI Award memotivasi masyarakat menjadi pegiat konservasi baik dari individu, kelompok maupun instansi untuk semakin meningkatkan, mendorong dan menciptakan upaya, terobosan, inovasi dan teknologi untuk mendukung pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati.

"Di balik setiap award (penghargaan) ada contoh konkret dari pejuang keanekaragaman hayati," kata Pembina Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Emil Salim dalam konferensi pers terkait KEHATI Award 2020, Jakarta, Kamis.

Prof. Dr. Drs. Emil Salim, M.A. (89 tahun) adalah seorang ahli ekonomi, cendikiawan, pengajar, dan politisi, merupakan salah seorang di antara sedikit tokoh Indonesia yang berperan di dunia internasional dan pernah menjadi Menteri Lingkungan Hidup.

Menurut Emil, upaya-upaya konkret tersebut menjadi bagian dari usaha yang bisa dikembangkan di seluruh Tanah Air untuk memelihara Indonesia tetap menjadi negara beraneka ragam hayati tropis nomor satu di dunia.

Sebesar 23 persen lahan hutan Indonesia telah berkurang sejak 1990, yang juga berarti sebagian sumber daya hayati hilang. Keanekaragaman hayati terancam oleh berbagai hal seperti alih fungsi lahan, deforestasi, penebangan ilegal, serta polusi udara, tanah dan air.

Untuk itu, upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan di Indonesia harus mendapat porsi utama baik dalam kerangka kebijakan politik, pengembangan ekonomi nasional hingga sistem pendidikan dan pengetahuan masyarakat Indonesia.

Melalui penghargaan itu, diharapkan akan muncul semakin banyak pegiat pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan di berbagai elemen masyarakat terutama generasi muda.

KEHATI Award, yang diselenggarakan oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) sejak tahun 2000, merupakan ajang penghormatan dan promosi individu, kelompok, dan instansi yang berjasa di bidang lingkungan hidup dan pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia.

"KEHATI Award diharapkan dapat menumbuhkan dan mendorong minat seluruh komponen bangsa Indonesia untuk lebih peduli, mencintai dan mengambil peran dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati," kata Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos.

Isu keanekaragaman hayati

Isu mengenai keanekaragaman hayati dan lingkungan diharapkan menjadi perhatian bersama seluruh elemen masyarakat dan menjadi bagian dari perbincangan di kehidupan sosial sehingga timbul kesadaran akan upaya bersama menjaga kelestarian sumber daya hayati dan bumi.

KEHATI Award merupakan bentuk apresiasi kepada masyarakat yang telah berpartisipasi dalam mengurangi kerusakan alam. Penghargaan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman akan pentingnya keanekaragaman hayati, pelestarian dan pemanfaatan secara bijak dan berkelanjutan.

Yayasan KEHATI mengapresiasi para pegiat konservasi dan lingkungan yang terus berupaya mempromosikan praktik baik pelestarian lingkungan dan alam. Yayasan ini juga mendorong lebih banyak generasi muda yang peduli keberlanjutan dan kelestarian keanekaragaman hayati karena bumi ke depan akan diwarisi oleh anak-anak muda saat ini dan akan datang untuk dijaga dan dirawat demi kelangsungan hidup di planet ini.

"Kita mencari juara (champion) muda yang inspiratif dan kita tidak selalu menggurui mereka tapi kita bisa belajar dari mereka," ujar Riki.

Seleksi untuk pemenang KEHATI Award 2020 akan dilakukan pada periode Desember 2019-Juni 2020. Adapun nominasi dalam penghargaan ini adalah Prakarsa KEHATI, Pamong KEHATI, Inovasi KEHATI, Cipta KEHATI, Citra KEHATI dan Tunas KEHATI.

Penghargaan Prakarsa KEHATI ditujukan untuk perseorangan, kelompok dan atau organisasi dari komunitas lokal masyarakat seperti masyarakat adat, rukun warga desa, Karang Taruna, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), organisasi non pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta kelompok lain yang berbasis masyarakat lokal.

Pamong KEHATI ditujukan untuk perseorangan dan atau unit atau bagian dari suatu lembaga kedinasan, badan pelayanan publik atau instansi pemerintahan atau lembaga negara di tingkat pusat ataupun di daerah seperti pemerintah provinsi, kabupaten, kota, kecamatan atau desa.

Inovasi KEHATI ditujukan perseorangan atau kelompok atau unit usaha dari sektor usaha kecil, usaha menengah, koperasi dan start-up. Cipta KEHATI ditujukan untuk Perseorangan atau kelompok atau institusi dari dunia ilmu pengetahuan dan teknologi atau masyarakat ilmiah, baik Insan Akademik seperti perguruan tinggi, institut pendidikan, sekolah maupun para peneliti dari lembaga penelitian dan pengembangan.

Citra KEHATI akan dianugerahkan untuk perseorangan dan atau kelompok atau organisasi dari kalangan media dan komunikasi massa termasuk jurnalis media cetak dan elektronik, serta pekerja seni dan budaya. Tunas KEHATI ditujukan untuk perseorangan dan atau kelompok remaja nusantara atau mahasiswa agar menjadi tunas harapan berikutnya dalam menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia di masa yang akan datang.

Dalam proses seleksi pemenang KEHATI Award 2020 yang merupakan ajang ke-9 sejak tahun 2000, berbagai hal menjadi pertimbangan antara lain karya atau inisiatif yang dinominasikan merupakan kegiatan atau program yang sudah berjalan dua atau tiga tahun.

Kemudian, sumber pendanaan yang bersifat mandiri atau swadaya terkait pelaksanaan kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati dan konservasi lingkungan akan mendapatkan nilai lebih dalam proses seleksi.

Selain itu, juga akan dilihat seberapa besar dampak dari kegiatan atau karya dan sejauh mana pelibatan komunitas dan masyarakat. Verifikasi dengan kunjungan ke lapangan akan dilakukan bagi karya dan kegiatan dari karya atau inisiatif para kandidat pemenang penghargaan itu.*

Baca juga: Memberdayakan masyarakat Sangihe melalui bambu

Baca juga: Aziil Azwar tumbuhkan mangrove di karang mati

Baca juga: Enam pahlawan lingkungan raih Kehati Award
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020