80 persen dari bankir Asia memandang dirinya sendiri tak mampu mengadopsi API terbuka

80 persen dari bankir Asia memandang dirinya sendiri tak mampu mengadopsi API terbuka

(Antara/BUSINESS WIRE)

Fintech gini mengungkapkan survei industri yang mengidentifikasi peluang dan hambatan Perbankan Terbuka

HONG KONG--(Antara/BUSINESS WIRE)-- gini, penyedia solusi perbankan berbasis data di Hong Kong mengungkapkan survei terbaru mengenai kesiapan API Terbuka di antara profesional industri fintech Asia. Hanya 20% bankir memandang dirinya sendiri sebagai pemenang dari API Terbuka, meskipun 70% mengatakan berbagi data pelanggan merupakan masa depan bisnis mereka. Fintech dipandang sebagai pemenang terbesar, dengan regulasi yang tak jelas dan kekhawatiran akan keamanan siber disebut-sebut oleh mayoritas bankir sebagai hambatan terbesar yang akan mereka hadapi ketika mengadopsi teknologi API Terbuka baru.

Untuk melihat rilis multimedia selengkapnya, klik di sini: https://www.businesswire.com/news/home/20191211006010/en/
 
Dilakukan oleh gini enterprise, cabang B2B gini, survei tersebut menanyai lebih dari 300 profesional industri fintech di Singapura dan Hong Kong pada November 2019.

Open Banking merambah kawasan Asia-Pasifik dan regulator merealisasikan kembali perbankan terbuka. Namun pendekatan mereka lunak, membiarkan bank dan fintech dengan banyak kebebasan mengenai implementasi. Berdasarkan hasil survei, kami telah mempublikasikan laporan riset, Open Banking 2020 yang mengidentifikasi peluang bagi semua peserta, serta mengenali beberapa hambatan adopsi. Sebagai fintech, kami harap kami bisa ikut membentuk revolusi industri ini dan memfasilitasi percakapan yang berarti mengenai Perbankan Terbuka, kata Raymond Wyand selaku CEO dan pendiri gini.

Survei itu meyakinkan pentingnya berbagi data konsumen. Sebagian besar bankir (70%) merespon bahwa kemudahan berbagi data konsumen merupakan masa depan bisnis saya dibandingkan responden pada perusahaan teknologi, konsultan, investor, atau para pemain industri lainnya.

Para bankir juga memiliki persepsi risiko yang sedikit berbeda. Meskipun keamanan cyber (38%) merupakan risiko yang paling banyak disebut oleh responden, pihak bank lebih khawatir soal regulasi yang tak jelas (23%). 35% responden mengatakan pemenang terbesar dari API Terbuka adalah fintech atau techfin, melampaui pelanggan, bank, dan perusahaan lain yang melayani konsumen.

Open Banking 2020 merupakan penelitian orisinil yang dilakukan oleh gini enterprise dan diunduh secara gratis. Ia mengkonsolidasikan umpan balik orisinil dari para praktisi fintech di APAC, menganalisis tantangan saat ini dan terantisipasi, serta menciptakan gambaran menyeluruh bagi orang-orang yang bekerja di bidang fintech, bank, dan teknologi.

Ingin mempelajari lebih lanjut? Klik di sini untuk mengunduh laporan lengkap.

Baca versi aslinya di businesswire.com:
https://www.businesswire.com/news/home/20191211006010/en/

Kontak

Untuk Pertanyaan Media:
Stella Wong
stella@gini.co
+852 9370 4586

Sumber: gini

Pengumuman ini dianggap sah dan berwenang hanya dalam versi bahasa aslinya. Terjemahan-terjemahan disediakan hanya sebagai alat bantu, dan harus dengan penunjukan ke bahasa asli teksnya, yang adalah satu-satunya versi yang dimaksudkan untuk mempunyai kekuatan hukum.
Pewarta : PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 1970