Hasil maksimal Indonesia di ajang CIIE

Hasil maksimal Indonesia di ajang CIIE

Presiden China Xi Jinping (depan enam kanan) foto bersama para kepala dan pejabat negara lain usai membuka Pameran Impor Internasional China (CIIE) ke-2 di Shanghai. Tampak pula Menko Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan (depan dua kanan). (ANTARA/HO-Xinhua/mii)

Beijing, 20/11 (Antara) - Indonesia berhasil memaksimalkan manfaat dari ajang Pameran Impor Internasional China (CIIE) untuk yang kedua kalinya digelar di Shanghai.

Dalam ajang yang digelar pada tanggal 5-10 November 2019 itu Indonesia berhasil menandatangani berbagai kontrak bisnis dengan para pengusaha di China.

Pada Business Forum dan China Coal Import Summit yang digelar di sela-sela CIIE ke-2, para pengusaha China menandatangani kesepakatan kontrak impor dari Indonesia senilai 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp35,1 triliun.

Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun di Beijing, Selasa (19/11), menyebutkan bahwa penandatanganan kontrak impor terbanyak untuk komoditas batu bara.

Di luar itu, lanjut Dubes, ada juga beberapa kontrak-kontrak produk lain, seperti elektronik, pertanian, makanan-minuman, bijih plastik, dan pertambangan di Paviliun Indonesia di ajang CIIE.

"Produk sarang burung walet, bijih plastik daur ulang, 'oleochemical', batu bara, dan produk makanan lainnya menjadi bukti nyata bahwa produk Indonesia sangat disukai dan laku di pasar Tiongkok," kata mantan Dubes RI untuk Rusia itu.

Sementara itu, Forum Bisnis Indonesia-China (ICBF) yang digelar di sela-sela CIIE ke-2 juga telah melahirkan kesepakatan kontrak bisnis dari kedua negara senilai 61,4 juta dolar AS.

"Hal yang mengemuka dalam forum tersebut adalah harapan kalangan pengusaha mengenai peningkatan kerja sama antarkedua negara untuk mendukung keberhasilan penguatan produk-produk Indonesia di China," kata Konsul Jenderal RI untuk Shanghai Denny W Kurnia.

Ia menyebutkan ada sekitar 150 pengusaha dari China yang menghadiri forum tersebut.

Sebelum penandatanganan naskah kesepakatan kontrak bisnis, para pengusaha dari China telah mendapatkan penjelasan yang cukup memadai mengenai perdagangan dan investasi di Indonesia.

Sementara itu, Paviliun Indonesia menempati area seluas 136 meter persegi di arena pameran CIIE itu pada 5-10 November 2019.

Tidak lah rugi memboyong Paviliun Indonesia di ajang pameran tersebut dengan hasil yang memuaskan.

Beberapa perusahaan yang meramaikan Paviliun Indonesia di antaranya Perusahaan Gas Negara (PGN), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), PT Astra Internasional, dan 17 perusahaan lain Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan selaku Ketua Delegasi Indonesia dalam Forum Internasional Ekonomi Hongqiao (HEIF) mendorong Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) meningkatkan sistem perdagangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memberikan perlindungan nilai dan sistem perdagangan multilateral agar perdagangan internasional tetap stabil.

Dia juga menyatakan komitmen untuk mendorong investasi asing langsung di Indonesia berstandar internasional dan mendukung investasi manufaktur unggulan guna mengurangi defisit perdagangan Indonesia dengan China.

CIIE digelar sesuai semangat perlawanan terhadap rezim dagang proteksionisme dan unilateralisme yang digelorakan oleh Presiden China Xi Jinping.

"Kita perlu bergandengan tangan. Kita perlu merobohkan dinding, bukan membangun dinding. Kita berdiri tegak menentang proteksionnisme dan unilateralisme," tegasnya berseru saat membuka CIIE ke-2 di Shanghai pada 5 November 2019.

Dalam acara yang dihadiri sejumlah pejabat dari negara lain, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Panjaitan itu, Xi mengajak dunia untuk bersama-sama menghapus hambatan-hambatan perdagangan global.

"Semua persoalan harus diatasi dengan semangat kebersamaan dan saling pengertian. Tidak ada satu negara yang bisa menyelesaikan persoalan seorang diri sehingga diperlukan kerja sama," ujarnya.
Pewarta : PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 1970