Kasus rokok ilegal di Riau rugikan negara Rp2,5 miliar

Kasus rokok ilegal di Riau rugikan negara Rp2,5 miliar

Kepala Kantor Wilayah DJBC Riau, Ronny Rosfyandi (dua kanan) memberikan penjelasan kepada pers tentang pengungkapan kasus rokok ilegal di Kota Pekanbaru, Rabu (20/11/2019). (ANTARA/FB Anggoro)

Pekanbaru (ANTARA) - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Riau pada akhir tahun 2019 mengungkap kasus perdagangan rokok ilegal di Kabupaten Indragiri Hilir dengan barang bukti lebih dari lima juta barang rokok merugikan negara sekitar Rp2,5 miliar.

"Potensi kerugian negara lebih dari Rp2,5 miliar," kata Kepala Kantor Wilayah DJBC Riau, Ronny Rosfyandi di Pekanbaru, Rabu.

Kasus ini merupakan keberhasilan jajaran DJBC Riau  mengungkap pelaku yang dinilai berperan dalam peredaran rokok ilegal di Riau.

"Biasanya yang ketangkap setingkat kurir atau supir, tapi kali ini berhasil ditangkap pemiliknya," kata Ronny.
Baca juga: Bea Cukai Pangkalpinang musnahkan 1,017 juta batang rokok
Baca juga: Kenaikan tarif cukai rokok diminta diimbangi penindakan rokok ilegal


Ia mengatakan ada dua tersangka dalam kasus tersebut, yakni berinisial D dan W. Penangkapan tersangka merupakan pengembangan kasus yang diungkap oleh Tim Gabungan BC dan TNI pada September lalu.

"Tersangka D selama ini telah menjadi target operasi Bea dan Cukai. Tersangka D telah menyediakan rokok ilegal setidaknya tiga tahun terakhir dan omzetnya mencapai 500 karton per minggu," katanya.

Tersangka D adalah pemilik dari 552 karton rokok ilegal berisikan lebih dari lima juta batang, yang selama ini menjadi penyedia.

"Tersangka D selaku pemilik 552 karton rokok ilegal diamankan di Jakarta setelah turun dari pesawat," katanya.
Baca juga: Jutaan batang rokok ilegal diamankan Bea Cukai
 
Petugas Kantor Wilayah DJBC Riau menunjukan barang bukti rokok ilegal yang disita kepada pers di Kota Pekanbaru, Rabu (20/11/2019). (ANTARA/FB Anggoro)


Ia menjelaskan rokok ilegal tersebut merugikan negara karena tidak ada pitai cukainya. Rokok yang disita dari dua tersangka bermerk Luffman dan H-Mind Bold.

Rokok ilegal disita dari gudang milik tersangka D di Desa Tanjung Jaya Kecamatan Kritang Kabupaten Indragiri Hilir, dan Dusun Masat RT/RW 001/002 di kawasan jalan lintas timur Sumatera. Menurut informasi, rokok tanpa pita cukai tersebut biasanya diproduksi di Vietnam, kemudian dipasok ke Singapura lalu ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Dari sana, pelaku menggunakan kapal cepat untuk memasukan rokok ilegal ke Indragiri Hilir, Riau.
Baca juga: Bea Cukai Jateng-DIY amankan 2,9 juta batang rokok ilegal

Tim gabungan meringkus D setelah sebelumnya menangkap tersangka W, yang memperjualbelikan rokok ilegal di pasar. Berdasarkan alat bukti, kuat dugaan tersangka W sudah biasa melakukan kegiatan jual beli rokok ilegal dari tersangka D.

Total jumlah rokok ilegal yang diamankan sebanyak 5.578.600 batang. Kedua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 39/2007 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 11/1995 tentang Cukai, pasal 54 dan 56. Ancaman hukuman adalah pidana satu sampai 10 tahun penjara dan denda paling sedikit dua kali nilai cukai, dan paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.

"Selain peredaran rokok ilegal mengganggu penerimaan negara, barang ini juga tidak pernah terverifikasi bahan kandungan di dalamnya sehingga masyarakat yang mengonsumsi rokok ilegal sangat membahayak kesehatan dirinya sendiri," kata Ronny.
Baca juga: 21,2 juta batang rokok ilegal dimusnahkan
Pewarta : FB Anggoro
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019