Titik panas di Sumatera Selatan melonjak capai 610 hotspot

Titik panas di Sumatera Selatan melonjak capai 610 hotspot

Helikopter M18 milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memadamkan kebakaran hutan dan lahan dari udara (water boombing) di Pedamaran Induk, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Selasa (17/7). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/ama/18)

Palembang (ANTARA) - Jumlah titik panas di Sumatera Selatan berdasarkan pantauan satelit LAPAN, Rabu, mencapai 610 titik panas (hotspot) yang sebagian besar berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir, sedangkan sisanya menyebar di 12 kabupaten/kota lain.

Banyaknya titik panas ini mengakibatkan Kota Palembang diselimuti kabut asap sejak pagi.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatra Selatan, Ansori mengatakan titik api terbanyak di Kabupaten Ogan Komering Ilir itu berada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Pedamaran Timur, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kecamatan Pampangan.

“Kebakaran di tiga kecamatan ini cukup luas, dan sudah saling menyatu. Ini sudah berlangsung sejak beberapa hari terakhir,” kata Ansori.

Baca juga: Empat pesawat berputar-putar akibat kabut asap selimuti palembang

Baca juga: Kota Palembang kembali diselimuti asap


Ia mengatakan kebakaran ini sulit diatasi karena areal yang terbakar merupakan lahan gambut dalam dengan kedalaman lebih dari 7 meter.

“Kami kesulitan mencapai lokasi karena aksesnya tidak ada. Saat ini air memang banyak, kanal-kanal sudah terisi air karena ada hujan beberapa hari lalu, tapi menuju lokasi itu yang sulit,” kata dia.

Meski sulit, Satgas Darat Penanggulangan Karhutla Sumsel telah menempatkan ratusan personil di Posko Karhutla Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir ke tiga kecamatan tersebut.

Ia mengatakan untuk mempercepat upaya pemadaman ini, Satgas Udara Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Sumatera Selatan telah menggelar operasi udara dengan mengerahkan empat helikopter pembom air (waterbombing) yang khusus di tiga kecamatan Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Tiap unit helikopter pembom air ini berkapasitas empat ton air, sementara tiga unit helikopter lainnya terpaksa diistirahatkan karena sedang pemeliharaan.

Sementara itu, upaya lain juga dilakukan yakni Teknik Modifikasi Cuaca yakni sejak 28 September sudah dilakukan penyemaian garam. “Sampai saat ini potensi awan penghujan masih ada, sehingga TMC tetap dilakukan,” kata dia.*

Baca juga: BPBD Sumsel terus upayakan hujan buatan

Baca juga: ACT Sumsel - STIK Bina Husada buka posko kesehatan di lokasi Karhutla

 
Pewarta : Dolly Rosana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019