Bappenas sebut risiko karhutla paling kecil di ibu kota baru

Bappenas sebut risiko karhutla paling kecil di ibu kota baru

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam Dialog ke-4 mengenai Investasi dan Strategi Pembiayaan Ibu Kota Negara (IKN) di Jakarta, Senin (16/9). (Indra Arief Pribadi)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan risiko bencana termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lokasi ibu kota baru, Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara Kalimantan Timur, merupakan yang paling kecil dibanding wilayah-wilayah lainnya.

Bambang, usai diskusi di kantornya Jakarta, Senin, mengatakan pemerintah sudah meneliti wilayah dan kondisi tanah sebelum menentukan dua kabupaten tersebut menjadi ibu kota baru. Hasilnya kondisi lahan di Penajam dan Kutai tidak mengandung gambut ataupun bahan alam yang mudah terbakar seperti batu bara.

"Titik panas tidak ada di situ dan itu kan sekarang jadi hutan tanaman industri," kata Bambang.

Baca juga: 30 kali karhutla terjadi di lokasi baru Ibu kota Negara

Bambang mengakui memang bisa saja terjadi kebakaran hutan di wilayah Penajam dan Kutai Kartanegara. Namun sumber kebakaran tersebut, ujar Bambang, bukan dari wilayah Penajam dan Kutai Kartenegara.

"Lokasi tanah sudah dicek tidak mengandung bahan gambut maupun bahan yang mudah terbakar seperti batu bara," kata dia.

Baca juga: Kaltara korban asap kiriman dari karhutla 4 provinsi di Kalimantan

Pernyataan Bambang tersebut menjawab pemberitaan mengenai terjadinya kebakaran hutan di Penajam dan Kutai Kartenegara dalam beberapa hari terakhir.

Dua wilayah tersebut dipilih untuk menjadi pusat pemerintahan dan ibu kora baru menggantikan DKI Jakarta. Konstruksi fisik pembangunan ibu kota baru itu akan dimulai pada 2021.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, hingga akhir pekan kemarin mencatat sekurangnya telah terjadi 30 kali kebakaran hutan dan lahan di daerah yang telah ditetapkan sebagai lokasi pemindahan Ibu kota Negara RI tersebut.

"Hingga saat ini tercatat lebih dari 30 kebakaran lahan terjadi di wilayah Penajam Paser Utara," ucap Kepala Ex-Officio BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara, Tohar ketika dihubungi, Sabtu.

Untuk kebakaran lahan terbesar lanjut ia, di wilayah RT 11 dan 12 Kelurahan Petung, hingga di RT 03 Desa Giripurwa, Kecamatan Penajam.

Lahan di RT 11 dan 12 Kelurahan Petung, hingga RT 03 Desa Giripurwa yang terbakar tersebut merupakan lahan gambut dan masih dilakukan pemadaman.

Luasan lahan gambut yang tebal dan cuaca panas disertai angin kencang menambah kobaran api dan menjadikan api cepat merambat.

Data sementara BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara, luasan lahan gambut yang terbakar di wilayah Kelurahan Petung dan Giripurwa tersebut sekitar 100 hektare dan masih mengeluarkan asap tebal.

 

Pewarta : Indra Arief Pribadi
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019