Depok (Antaranews Bogor) - Peneliti Ekonomi Universitas Indonesia Rizal Edi Halim mengatakan seharusnya pemerintah memanfaatkan Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair untuk kepentingan masyarakat luas.

"Dibandingkan penggunaan LPG (liquified petroleum gas), LNG lebih murah jika disalurkan kepada masyarakat," kata Rizal di Depok, Kamis.

Menurut dia LNG diproduksi oleh PGN sehingga pemerintah harus melakukan penugasan kepada PGN untuk menyalurkan LNG ke masyarakat. Untuk itu infrasrtuktur gas perlu dibangun.

"Memang butuh investasi sebagai initial cost, tapi relatif lebih murah karena dikeluarkan sekali dibanding subsidi yang bertahun-tahun," jelasnya.

Ia mengatakan hasil hitungan investasi infrastruktur gas pemerintah hanya separuh biaya subsidi dan dilakukan hanya sekali.

Dikatakannya setelah itu subsidi bisa ditiadakan, impor bisa berkurang, sehingga masyarakat bisa menikmati energi murah dan sejumlah kebutuhan lainnya yang murah juga karena sebagian besar barang/jasa juga dipengaruhi oleh penggunaan energi.

Menurut dia harga gas elpiji lebih mahal 300 persen dari gas alam (LNG) yang diproduksi secara nasional tetapi kenapa pemerintah tetap menggunakan LPG. Bayangkan jika masayarakat harus mengeluarkan Rp 100 ribu untuk gas elpiji 12 kg sementara pemerintah dapat menyediakan gas alam (LNG) yang sama dengan harga Rp30-35 ribu.

Rizal mengatakan hal ini tentunya sangat merugikan bagi masayrakat yang seharusnya dapat menikmati gas alam (LNG) yang jauh lebih murah. Efisiensi dari penggunaan gas alam (LNG) untuk sektor kelistrikan dan transportasi jauh lebih tinggi dibanding penggunaan gas epiji (LPG).

"Artinya jika tersedia energi yang lebih efisien yang berdampak luas bagi ekonomi masyarakat dan rumah tangga, mengapa kita menggunakan energi yang mahal," tanyanya.

Dikatakannya secara umum produksi minyak mentah kita dari waktu ke waktu terus menurun, bahkan Indonesia tercatat sebagai salah satu importir minyak dunia yang besar saat ini. Cadangan minyak bumi terbukti di Indonesia saat ini menurut catatan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) hanya tersisa hingga 12 tahun mendatang.

Sementara batu bara mencapai 89 tahun dan gas bumi mencapai 35 tahun (data akhir 2013). Sementara kondisi bauran energi saat ini terdiri dari minyak bumi 51,7 persen, gas bumi 28,57 persen, batu bara 15,34 persen, panas bumi 1,32 persen, tenaga air 3,11 persen, dan sisanya energi lainya.


Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026