Depok (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menghadirkan Deep-BioOrtho, sebuah inovasi perangkat lunak berbasis deep learning dan kimia bioorthogonal untuk deteksi dini dan pengobatan kanker paru.
Deep-BioOrtho dikembangkan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) UI yang terdiri atas Reza Nur Ikhsan, Hafiz Rizky Ramadhani, Shofiy Falihah Utami, Sulthan Raju Salim, dan Adisah Fayza Arundati.
"Prototipe tersebut dikembangkan untuk membantu mendeteksi potensi kanker paru, sekaligus menyimulasikan kandidat pengobatan secara lebih presisi yang meminimalkan efek samping," kata Reza Nur Ikhsan di Depok, Selasa.
Reza menjelaskan Deep-BioOrtho dirancang untuk membaca citra rontgen (X-Ray) paru-paru menggunakan Convolutional Neural Networks (CNNs), metode kecerdasan buatan yang mampu mengenali pola pada citra.
Hasil analisis tersebut kemudian menjadi dasar bagi sistem untuk menyusun simulasi kandidat obat kanker paru dengan pendekatan kimia bioorthogonal.
“Kami menggabungkan deep learning CNNs dan kimia bioorthogonal untuk membangun framework software yang kami beri nama Deep-BioOrtho. CNNs digunakan untuk mendeteksi adanya potensi kanker pada citra X-Ray, sedangkan prinsip kimia bioorthogonal digunakan sebagai kerangka simulasi kandidat obat kanker paru yang minim efek samping sesuai tingkat keparahan yang telah dianalisis oleh algoritma CNNs pada software kami,” kata Reza.
Pendekatan kimia bioorthogonal menjadi bagian penting dalam inovasi tersebut. Prinsip ini memungkinkan suatu reaksi kimia berlangsung secara spesifik di dalam sel hidup tanpa mengganggu proses biokimia normal.
Dalam Deep-BioOrtho, konsep tersebut digunakan untuk menyimulasikan skenario aktivasi obat kanker paru secara lebih terarah berdasarkan hasil analisis citra.
Hafiz, yang berperan sebagai perancang utama algoritma deep learning, mengatakan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan membuka peluang untuk membantu tenaga medis mengolah informasi dari citra medis secara lebih efisien dan presisi.
Integrasi AI dengan pendekatan kimia bioorthogonal dalam satu kerangka perangkat lunak, kata dia, dapat menghubungkan proses deteksi dengan simulasi pengobatan secara lebih terpadu.
Pengembangan Deep-BioOrtho berlangsung selama tiga bulan dengan bimbingan Dr. (Eng) Pugoh Santoso, dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI sebagai pembimbing utama dan dr. Gatut Priyonugroho dari Fakultas Kedokteran (FK) UI sebagai pembimbing lapangan.
Pewarta: Feru LantaraEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.