London (ANTARA) - Pimpinan penyedia layanan pengendalian lalu lintas udara utama Inggris, Rabu (9/9), menepis kemungkinan adanya serangan siber setelah gangguan teknis menyebabkan lebih dari 2.000 penerbangan dibatalkan.
Martin Rolfe, kepala eksekutif National Air Traffic Services (NATS), meminta maaf kepada para penumpang setelah gangguan tersebut menyebabkan kekacauan luas pada Selasa dan Rabu.
Dalam wawancara dengan BBC, Rolfe mengatakan bahwa penyelidikan "menyeluruh" akan dilakukan, namun dia menegaskan bahwa serangan siber bukanlah penyebabnya.
Meskipun dia menyatakan sistem kini telah beroperasi secara normal, dia menambahkan bahwa "tentu saja, terjadi penumpukan besar" pada jadwal penerbangan dan penumpang.
Baca juga: Bandara Heathrow kembali layani penerbangan setelah listrik padam
Saat ditanya apakah insiden tersebut menunjukkan bahwa sistem NATS tidak memadai untuk fungsinya, Rolfe menjawab: "Menurut saya tidak demikian."
Sementara itu, BBC melaporkan bahwa Menteri Transportasi Heidi Alexander telah memanggil Rolfe untuk menghadiri pertemuan guna menjawab pertanyaan terkait gangguan tersebut.
Dia juga diperkirakan akan menyampaikan kepada para anggota parlemen bahwa serangan siber "secara tegas" bukan merupakan penyebab kerusakan sistem tersebut.
Menurut perusahaan analisis penerbangan Cirium, sekitar 1.750 penerbangan dibatalkan pada Selasa, yang berdampak pada puluhan ribu penumpang.
Baca juga: Larangan Inggris Atas Alat Elektronik Pada Penerbangan
Setidaknya 291 penerbangan lainnya dibatalkan pada Rabu, menurut laporan perusahaan tersebut pada Rabu siang.
Sebelumnya, surat kabar The Telegraph melaporkan bahwa terjadi kerusakan pada peralatan di kantor pusat NATS di Swanwick, dekat Southampton.
Sumber: Anadolu
Pewarta: Cindy Frishanti OctaviaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.