Kota Bogor (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, menyelaraskan rencana revitalisasi Stasiun Bogor dengan penataan kawasan di sekitarnya untuk membangun pusat transportasi terpadu.

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin usai penandatanganan nota kesepahaman dengan Pemkot Bogor di Stasiun Bogor, Senin, mengatakan revitalisasi tersebut mengusung tiga konsep utama, yakni konektivitas, penguatan identitas sejarah, serta pengembangan ruang publik dan ekonomi.

“Kami segera menandatangani nota kesepahaman pengembangan kawasan Stasiun Bogor. Konsep yang diusung ada tiga, yaitu konektivitas, identitas, dan spasialitas,” kata Bobby.

Dari sisi konektivitas, KAI berencana mengintegrasikan Stasiun Bogor dengan Stasiun Bogor Paledang, sehingga perpindahan penumpang antarkedua stasiun dapat berlangsung lebih mudah.

 

Kawasan tersebut juga akan dikembangkan menjadi pusat transportasi antarmoda yang terhubung dengan Trans Pakuan, Biskita, angkutan daring, serta rencana LRT atau trem perkotaan.

Menurut Bobby, penguatan konektivitas diperlukan karena Stasiun Bogor melayani sekitar 130 ribu penumpang kereta rel listrik (KRL) setiap hari, meningkat dari sekitar 100 ribu penumpang per hari pada tahun sebelumnya.

Dari sisi identitas, KAI akan mempertahankan dan memperkuat unsur sejarah Stasiun Bogor yang dibangun pada 1881 agar menjadi salah satu ikon kota.

Sementara konsep spasialitas diarahkan untuk menyediakan ruang publik sekaligus ruang usaha melalui pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).

“Spasialitas ini tidak hanya membuka ruang fisik, tetapi juga membuka ruang ekonomi,” ujarnya.

Bobby menjelaskan penataan Stasiun Bogor telah dimulai melalui pemanjangan peron 6, 7, dan 8 sehingga dapat melayani rangkaian KRL yang terdiri atas 12 kereta.

Peningkatan fasilitas tersebut menambah kapasitas angkut sekitar 30 persen dibandingkan sebelumnya. KAI kini juga menutup sementara peron 4 dan 5 untuk memasang kanopi agar penumpang terlindungi dari hujan.

KAI juga merancang jalur perpindahan penumpang melalui bangunan penghubung di atas rel yang dilengkapi eskalator dan lift. Penataan itu dilakukan untuk menghilangkan aktivitas penumpang menyeberangi rel di dalam kawasan stasiun.

 

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan Pemerintah Kota Bogor menyambut rencana revitalisasi tersebut karena sejalan dengan penataan Jalan Nyi Raja Permas, MA Salmun, Kapten Muslihat, dan kawasan Alun-Alun Kota Bogor.

“Tinggal kami menyinkronkan apa yang sudah direncanakan Pemerintah Kota Bogor dengan yang akan dilaksanakan PT KAI,” kata Dedie.

Menurut dia, tahap awal yang dilakukan pemerintah kota adalah menata Jalan Nyi Raja Permas hingga Jalan MA Salmun agar kawasan tersebut lebih tertib dan nyaman.

Penataan kemudian dilanjutkan ke Jalan Mayor Oking dan Kapten Muslihat. Pemerintah kota juga berencana membuka hambatan bangunan di Jalan Dewi Sartika agar jalur dari Alun-Alun Kota Bogor menuju Jalan Sawojajar tersambung.

 

Dedie memastikan Alun-Alun Kota Bogor tidak dihapus dalam revitalisasi tersebut, tetapi akan ditata dan diintegrasikan dengan kawasan milik PT KAI.

“Alun-alun tidak dihapus, justru direvitalisasi. Area milik pemerintah kota dan PT KAI nantinya akan diintegrasikan,” ujarnya.

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PT KAI dan Pemkot selaraskan revitalisasi Stasiun Bogor

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026