Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Indonesia perlu melanjutkan keberhasilan swasembada beras dengan mengejar kemandirian produksi berbagai sumber protein nasional.

Menurut Zulkifli, agenda ketahanan pangan tidak cukup hanya memastikan masyarakat memperoleh makanan pokok, tetapi juga harus menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi melalui daging, ikan, telur, susu, serta sumber protein nabati.

"Ketahanan pangan tidak boleh berhenti pada ketersediaan beras. Kita harus memastikan masyarakat mendapatkan makanan bergizi dengan kandungan protein yang cukup," kata Zulkifli Hasan dalam keterangannya, Jumat.

Ia mengatakan keberhasilan produksi beras harus menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian pada komoditas pangan lainnya, terutama sumber protein yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Indonesia mencatat produksi beras sekitar 34 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi domestik berada di kisaran 31 juta ton. Kondisi tersebut membuat produksi nasional melampaui kebutuhan dalam negeri.

Menurut Zulkifli, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri bukan semata persoalan ekonomi, melainkan bagian penting dari kedaulatan negara di tengah dinamika global.

"Bangsa yang tidak bisa memberi makan dirinya sendiri adalah bangsa yang belum benar-benar merdeka. Setiap ton pangan yang kita impor bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi menyangkut kemandirian dan harga diri bangsa," ujarnya.

Pengamat pangan nasional Dirgayuza Setiawan menilai tantangan pangan Indonesia selanjutnya juga menyangkut perbaikan kualitas konsumsi masyarakat.

Selama ini, menurut dia, pembangunan sektor pangan lebih banyak berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi melalui makanan pokok. Sementara kebutuhan protein berkualitas memiliki peran besar dalam pertumbuhan anak, perkembangan otak, hingga produktivitas masyarakat.

"Tidak ada negara yang kuat tanpa pangan yang cukup. Tidak ada masyarakat produktif tanpa gizi yang baik. Tidak ada sumber daya manusia unggul tanpa piring makan yang sehat," katanya.

Karena itu, transformasi sistem pangan diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga diversifikasi konsumsi, perbaikan distribusi dan penyimpanan pangan, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, petani, dan nelayan.

Pada sektor hulu, peningkatan produktivitas pertanian dan peternakan perlu didukung ketersediaan sarana produksi dan pemanfaatan teknologi. Sementara pada hilir, fasilitas penyimpanan, teknologi pascapanen, dan rantai dingin dibutuhkan untuk menekan kehilangan pangan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu instrumen untuk mendorong peningkatan konsumsi pangan bergizi sekaligus membangun permintaan terhadap sumber protein yang diproduksi di dalam negeri.

Melalui jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kebutuhan telur, ikan, susu, sayuran, dan komoditas pangan lainnya berpotensi membentuk rantai pasok yang melibatkan petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha pangan lokal.

Zulkifli menekankan penguatan produksi dan kualitas konsumsi tersebut diperlukan untuk membangun sumber daya manusia Indonesia menuju 2045.

"Pangan adalah dasar kehidupan. Negara yang kuat adalah negara yang mampu memastikan rakyatnya makan dengan cukup, sehat, dan bermartabat," kata Zulkifli.

i



Pewarta: Antara
Uploader : M Fikri Setiawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026