Jakarta (ANTARA) - Rencana menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar (SD) mulai tahun ajaran 2027/2028 dinilai perlu dibarengi dengan peningkatan kesiapan dan kapasitas guru.
Executive Director for Southeast Asia Educational Testing Service (ETS) Pushkar Saran mengatakan guru akan memegang peran penting dalam memastikan kebijakan tersebut benar-benar meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa.
“Guru akan menjadi faktor utama dalam menentukan apakah kebijakan ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna atau hanya menjadi persyaratan kurikulum di atas kertas,” kata Pushkar di Jakarta.
Menurut dia, menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib merupakan langkah awal dalam mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia menghadapi kebutuhan pendidikan dan ekonomi yang semakin terhubung secara global.
Namun, keberhasilan kebijakan tersebut sangat bergantung pada kesiapan sistem pendidikan, khususnya kemampuan guru dalam memberikan pembelajaran yang mampu membangun keterampilan komunikasi praktis siswa.
Selain kapasitas guru, ia menyebut ketersediaan materi pembelajaran yang sesuai dengan konteks lokal dan infrastruktur digital juga perlu diperhatikan agar siswa memperoleh kesempatan berlatih secara konsisten.
Hal tersebut menjadi tantangan mengingat besarnya skala dan keragaman sistem pendidikan Indonesia. Kondisi sekolah, ketersediaan sumber daya, kemampuan siswa, hingga akses terhadap teknologi berbeda antarwilayah.
Pushkar mengatakan pemerintah telah mengambil langkah melalui program PKGSD-MBI untuk meningkatkan kesiapan guru SD dalam mengajarkan bahasa Inggris menjelang penerapan kebijakan tersebut.
Menurut dia, pengenalan bahasa Inggris sejak SD memberikan kesempatan lebih awal kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi yang nantinya dapat mendukung pendidikan tinggi hingga memasuki dunia kerja.
“Memperkenalkan bahasa Inggris dari sekolah dasar memberikan siswa kesempatan lebih awal untuk membangun kemampuan komunikasi praktis,” ujarnya.
Kebutuhan tersebut, kata dia, semakin relevan seiring semakin terhubungnya Indonesia dengan perekonomian global melalui perdagangan, investasi, transformasi digital, dan integrasi regional.
Selain kesiapan tenaga pengajar, Pushkar menilai pemerintah membutuhkan kerangka pembelajaran dan pengukuran yang jelas untuk mengetahui perkembangan kemampuan bahasa Inggris siswa sekaligus memetakan kesenjangan antardaerah.
Asesmen terhadap siswa SD, menurut dia, juga harus dirancang sesuai usia dan tahap perkembangan serta diarahkan untuk mengukur kemampuan menggunakan bahasa Inggris secara praktis, bukan sekadar menghafal tata bahasa atau kosakata.
Ia mengatakan asesmen terstandar dapat membantu memberikan gambaran yang lebih konsisten mengenai kemampuan bahasa Inggris, termasuk melalui pengukuran keterampilan mendengar, membaca, berbicara, dan menulis.
Kebutuhan penguasaan bahasa Inggris juga semakin terlihat di dunia kerja. Berdasarkan 2026 TOEIC Global English Skills Report, sebanyak 78 persen pemberi kerja yang disurvei menggunakan asesmen bahasa Inggris dalam proses perekrutan.
Sebanyak 71 persen menggunakannya sebelum pelatihan atau pendidikan untuk pengembangan karyawan, sedangkan 91 persen pemberi kerja mencari lulusan perguruan tinggi yang memiliki kemampuan bahasa Inggris.
Pushkar mengatakan data tersebut menunjukkan penguasaan bahasa Inggris tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari kesiapan tenaga kerja menghadapi persaingan.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI), menurut dia, juga tidak mengurangi kebutuhan tersebut. Laporan yang sama mencatat 81 persen pemberi kerja yang disurvei menyatakan integrasi perangkat AI justru meningkatkan kebutuhan kemampuan bahasa Inggris di tempat kerja.
Ia menjelaskan AI dapat membantu seseorang bekerja lintas bahasa, tetapi tidak menggantikan kemampuan manusia memahami konteks, menyampaikan gagasan, membangun hubungan, dan berkolaborasi.
Karena itu, menurut Pushkar, kemampuan bahasa Inggris dan keterampilan digital perlu dikembangkan sebagai kompetensi yang saling melengkapi.
“Keberhasilan harus dilihat dari apakah siswa mengembangkan kemampuan bahasa Inggris praktis yang dapat mereka gunakan dengan percaya diri di luar kelas,” kata Pushkar.
Pewarta: AntaraUploader : M Fikri Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.