Jakarta (ANTARA) - Universitas Indonesia (UI) bersama sejumlah mitra mengembangkan kandidat vaksin dengue tetravalen berbasis teknologi mRNA dengan memanfaatkan keragaman strain virus dengue yang beredar di Indonesia.

Pengembangan vaksin tersebut melibatkan UI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana), dan Tsinghua University.

Perwakilan tim peneliti vaksin dengue UI Beti Ernawati Dewi mengatakan kandidat vaksin tersebut dirancang berdasarkan keragaman empat serotipe dengue, yakni DENV-1 hingga DENV-4.

"Pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan Indonesia, dengan memanfaatkan keragaman strain dengue yang beredar di dalam negeri," kata Beti dalam Workshop Kelompok Produk dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Inovasi Tahun 2026 di UI, Depok, Jawa Barat.

Dalam pengembangannya, tim peneliti menggunakan analisis mutasi secara in silico serta pendekatan kecerdasan buatan untuk merancang kandidat vaksin berdasarkan karakteristik virus dengue lokal.

Pengujian awal menunjukkan kandidat vaksin tersebut memiliki aktivitas netralisasi yang signifikan terhadap empat serotipe dengue. Sejumlah konstruksi vaksin juga menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan wild type maupun vaksin pembanding komersial Dengvaxia.

Director of Corporate Relation & Strategic Affairs Etana Andreas Donny Prakasa mengatakan pengembangan produk bioteknologi membutuhkan kolaborasi sejak tahap penelitian agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium.

Menurut dia, salah satu tantangan pengembangan produk bioteknologi adalah valley of death atau kesenjangan antara keberhasilan penelitian pada skala laboratorium dengan kesiapan teknologi untuk diproduksi secara komersial.

Tahapan menuju komersialisasi meliputi peningkatan skala produksi (scale-up), validasi, pemenuhan standar Good Manufacturing Practices (GMP), pengujian praklinis dan klinis, pemenuhan regulasi, hingga kesiapan pasar.

"Industri perlu dilibatkan sejak tahap awal penelitian agar kebutuhan pasar, skala produksi, regulasi, dan keekonomian ikut dipertimbangkan. Di sinilah teaching factory berperan strategis, sebagai tempat hasil riset dipersiapkan naik kelas dari skala laboratorium menuju standar industri," ujarnya.

Ia mengatakan penguatan teaching factory dan fasilitas laboratorium perguruan tinggi perlu diselaraskan dengan pemetaan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) atau Technology Readiness Level (TRL), serta peta jalan pengembangan produk inovasi.

Sementara itu, perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jeffeta Pradeko Putra mengatakan lembaganya memberikan pendampingan regulasi terhadap hilirisasi hasil penelitian melalui program Green Research and Opportunities With BPOM (GROW BPOM).

Program tersebut mencakup pendampingan regulasi, percepatan perizinan produksi, hingga proses registrasi produk hasil penelitian.

"BPOM berkomitmen mendampingi hilirisasi riset sejak dini. Lewat kolaborasi akademisi, bisnis, dan pemerintah, kami memfasilitasi pendampingan regulasi hingga izin edar agar produk inovasi peneliti Indonesia memenuhi standar keamanan dan mutu, sekaligus siap memberi manfaat nyata bagi masyarakat," kata Jeffeta.

Etana bersama UI dan BPOM melalui Workshop Kelompok Produk 2026 pada 27-28 Agustus mendorong penguatan ekosistem hilirisasi riset nasional melalui pemetaan TKT sejak awal, integrasi pendanaan hingga komersialisasi, serta keterlibatan industri dalam evaluasi hasil penelitian.

Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk mempertemukan peneliti, pelaku industri, dan regulator secara rutin, khususnya dalam pengembangan produk biofarmasi dan teknologi kesehatan yang membutuhkan tahapan penelitian serta regulasi relatif panjang.

 



Pewarta: Antara
Uploader : M Fikri Setiawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026