Tanjungpinang (ANTARA) - Di sudut Jalan Merpati, Kilometer 11, Kecamatan Tanjungpinang Timur, aroma gurih olahan hasil laut merebak dari sebuah sentra produksi.
Dari tempat inilah Bonak Chandra (66) mengendalikan roda usahanya mengolah kekayaan laut Kepulauan Riau menjadi produk kerupuk berstandar internasional yang menembus pasar Singapura.
Kisah sukses ini berakar dari keberanian seorang pemuda berusia 22 tahun. Pada 1982, Bonak merantau dari Bangka Belitung ke Tanjungpinang dan mengawali hidup sebagai pekerja kedai kopi di kawasan Kampung Baru, tempat ia kelak bertemu sang istri.
Sebelumnya, Bonak empat menguji peruntungan bisnis kerupuk di Palembang selama dua tahun bersama adiknya. Namun, ketatnya persaingan memaksa Bonak kembali ke Kota Gurindam.
Pengalaman berharga di Palembang tak dibuang percuma. Pada 1988, berbekal peralatan seadanya, Bonak dan istrinya memberanikan diri merintis usaha kerupuk di Tanjungpinang. Keberadaan wilayah Kepri yang dikelilingi lautan dimanfaatkan betul oleh Bonak untuk mendapatkan pasokan ikan segar dengan harga terjangkau, seperti tongkol, tenggiri, dan talang.
"Kepri ini daerah laut, jadi cukup mudah mencari ikan dengan harga murah, seperti ikan tongkol, tenggiri dan talang," kata Bonak di Tanjungpinang.
Langkah awal diayun secara bertahap. Kerupuk kemasan plastik bening kecil yang semula hanya dititipkan di warung-warung kelontong, perlahan merambah toko dan swalayan. Seiring meningkatnya permintaan, Bonak merekrut lima karyawan awal untuk bagian produksi dan pengemasan. Dengan modal pinjaman bank, ia kemudian membangun sentra produksi sekaligus hunian pribadi di Jalan Merpati.
Kini, usaha berskala Industri Kecil dan Menengah (IKM) tersebut telah mempekerjakan 22 karyawan yang didominasi ibu rumah tangga, dengan kapasitas produksi mencapai lima ton per bulan. Varian produknya pun bertambah, mulai dari kerupuk ikan, udang, cumi, hingga gonggong khas Tanjungpinang.
Produk siap santap bernilai Rp2.000 hingga Rp18.000 per kemasan ini tak hanya menjadi oleh-oleh favorit domestik, tetapi juga rutin dikirim ke Singapura melalui Batam setiap pekan. Menjelang perayaan Imlek, pengirimannya bahkan bisa mencapai dua kontainer.
Kiprah bisnis Bonak kian meluas dengan dibukanya pusat oleh-oleh "Pondok Gong-Gong" di Jalan Bandara Raja Haji Fisabilillah yang mempekerjakan lima karyawan. Dalam setahun, usaha Bonak berhasil mengantongi omzet sekitar Rp3 miliar, lengkap dengan sertifikasi Halal dan berbagai penghargaan dari pemerintah pusat.
Keberhasilan menembus pasar internasional ini tak lepas dari peran Pemkot Tanjungpinang melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagin). Selain memfasilitasi bantuan peralatan seperti alat pemotong kerupuk mentah, Disdagin secara berkelanjutan membimbing kualitas produk hingga Bonak mengantongi sertifikat keamanan pangan internasional, Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).
"Kami juga pernah dapat bantuan dari Disdagin, misalnya alat pemotong kerupuk mentah," kata Bonak.
Kepala Bidang Perindustrian Disdagin Kota Tanjungpinang, M. Endy Febri, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus melibatkan para pemangku kepentingan dalam membina IKM berpotensi ekspor agar mampu bersaing secara berkelanjutan di pasar global. Bagi Bonak, perjalanan panjang dari kegagalan hingga meraih sertifikasi internasional ini bukan sekadar tentang omzet, melainkan tentang kebanggaan membawa produk lokal mendunia sekaligus membuka jalan rezeki bagi masyarakat di sekitarnya.
"Kita melibatkan berbagai stakeholder terkait guna memaksimalkan ruang gerak IKM binaan Disdagin Tanjungpinang," kata Endy Febri.
Perluas pasar ekspor
Keberhasilan kerupuk Kyria Rezeki menembus pasar Singapura tidak hanya menjadi kabar baik bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di Tanjungpinang. Cerita itu juga menarik perhatian Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, yang melihat peluang untuk membawa produk olahan ikan tersebut melangkah lebih jauh ke pasar internasional.
Beberapa waktu lalu, Tim Kemendag melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) bersama Export Centre Batam datang langsung meninjau sentra pengolahan kerupuk ikan milik Bonak.
Kunjungan tersebut bukan sekadar melihat proses produksi. Kemendag berkomitmen mendampingi IKM memperluas pasar ekspornya ke berbagai negara, tidak berhenti di Singapura. Dengan pasar yang semakin luas, volume penjualan dan laba IKM lokal diharapkan meningkat, sekaligus memberikan dampak bagi perekonomian daerah maupun nasional.
Tenaga Teknis Export Centre Batam Bambang Nugianto mengatakan, perusahaan kerupuk milik Bonak telah didaftarkan ke dalam InaExport, platform resmi business to business (B2B) yang dikelola Ditjen PEN Kemendag RI.
InaExport berfungsi sebagai direktori daring yang mempertemukan pemasok atau eksportir Indonesia dengan pembeli dari berbagai negara. Platform tersebut juga menjadi sarana untuk mempromosikan produk, memfasilitasi transaksi ekspor, serta terintegrasi dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri guna memperkuat akses produk Indonesia ke pasar internasional.
Dengan masuk dalam InaExport, produk IKM kini dapat dilihat langsung oleh calon pembeli dari luar negeri. Ketika seorang pembeli mencari makanan ringan atau kerupuk, misalnya, produk khas Tanjungpinang itu dapat muncul sebagai salah satu pilihan.
Dari sana, calon pembeli juga dapat menghubungi langsung IKM tersebut untuk melakukan pemesanan. Informasi perusahaan hingga nomor kontak atau telepon telah tersedia dalam platform tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Kemendag mendorong lebih banyak produk IKM lokal memasuki pasar ekspor. Selama ini, keterbatasan akses promosi dan pemasaran menjadi salah satu kendala yang dihadapi pelaku IKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Meski demikian, peluang tidak hanya terbuka bagi industri yang belum memiliki pasar ekspor. Kemendag juga membuka ruang kolaborasi dengan industri yang telah memiliki pangsa pasar sendiri melalui program perluasan ke negara tujuan ekspor baru.
"Contohnya, industri sudah punya pangsa pasar ekspor sendiri, tapi tak menutup kemungkinan bisa ditawarkan ke negara lain," ujar Bambang.
Di balik peluang pasar yang lebih luas, ada satu hal yang tidak kalah penting: memastikan produk yang dikirim benar-benar memenuhi standar negara tujuan.
Untuk produk pangan, aspek kebersihan dan kesehatan menjadi perhatian utama karena persyaratan masuk pasar luar negeri sangat ketat. Sertifikasi kesehatan, misalnya, diperlukan untuk memastikan produk yang sampai ke tangan konsumen aman dan terbebas dari kontaminasi.
Karena itu, Kemendag bersama Export Centre Batam siap mendampingi Bonak agar produk-produk kerupuk unggulannya dapat memenuhi berbagai persyaratan yang berlaku di negara tujuan ekspor.
"Misalnya, pembeli luar negeri butuh sertifikasi keamanan pangan internasional atau SNI, kita bantu UMKM siapkan atau mengarahkan ke pihak-pihak terkait, sehingga memenuhi syarat ekspor," katanya.
Manfaatkan platform digital
Perlahan, tetapi pasti, Bonak mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Di tengah perubahan cara orang berbelanja, ia melihat ruang baru untuk mengenalkan kerupuk Kyria Rezeki sekaligus memperluas jangkauan pemasaran melalui penjualan daring.
Ia memanfaatkan salah satu platform e-commerce untuk menjual produknya agar semakin dikenal dan lebih mudah diperoleh pelanggan. Bagi Bonak, perdagangan digital menjadi salah satu peluang yang cukup potensial bagi pelaku UMKM karena mampu membuka akses pasar lebih luas sekaligus menyediakan berbagai fitur pendukung kegiatan usaha.
Hasilnya mulai terasa. Dalam sehari, puluhan hingga ratusan kemasan kerupuk dapat dipesan melalui kanal daring tersebut. Sebagian besar pesanan masih berasal dari wilayah Pulau Bintan, meliputi Tanjungpinang dan Bintan.
Bonak tidak memasarkan produknya secara langsung melalui platform tersebut. Ia menggandeng sejumlah pedagang online lokal untuk ikut menjual kerupuk produksinya.
Dari kolom ulasan pembeli, sejumlah konsumen mengaku menyukai kerupuk kemasan Kyria Rezeki yang memiliki ciri khas cita rasa makanan laut.
"Rasanya enak. Kualitas baik dan pengirimannya juga cepat," kata salah seorang pembeli dalam ulasannya.
Penjualan secara daring memang belum menjadi bagian terbesar dari pemasaran Kyria Rezeki. Namun, dari sana Bonak mulai menemukan cara lain untuk membawa kerupuk ikan buatannya keluar dari pasar konvensional.
Satu per satu pesanan datang dari balik layar telepon, mempertemukan produk rumahan dari Tanjungpinang dengan konsumen yang sebelumnya mungkin tak pernah mengenalnya. Bagi Bonak, itulah arti sederhana dari beradaptasi: mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan akar usaha yang telah dibangunnya.
Pasar digital pun menjadi pintu lain yang perlahan dibuka, bersamaan dengan langkah Kyria Rezeki memperluas jejak produknya hingga ke pasar ekspor.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.