Jakarta (ANTARA) - Kesenjangan akses pendidikan masih jadi tantangan di tengah kebutuhan meningkatkan kompetensi generasi muda Indonesia. Salah satu kemampuan yang semakin penting adalah bahasa Inggris, namun tidak semua anak memiliki kesempatan mengikuti kursus atau les privat karena keterbatasan ekonomi.
Persoalan tersebut mendorong Gema Ilmu, organisasi sosial yang memberikan pembelajaran bahasa Inggris secara gratis bagi anak-anak di kawasan Leuwinanggung, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat.
Gema Ilmu didirikan Naila Adelin Faiha bersama Co-Founder Akhdan Vemrichi Utama pada Juli 2025. Organisasi ini hadir untuk membuka akses belajar bagi anak-anak yang memiliki semangat belajar, tetapi terkendala biaya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris.
Kegiatan belajar digelar di lingkungan tempat tinggal anak-anak dengan melibatkan pengajar sukarelawan. Pembelajaran umumnya berlangsung pada Minggu pagi, meski jadwal menyesuaikan aktivitas para relawan yang sebagian besar masih berstatus pelajar.
“Seminggu sekali kalau libur, tapi kalau kita juga lagi sekolah, dua minggu sekali,” ujar Naila.
Gagasan mendirikan Gema Ilmu berawal dari pengalaman pribadi Naila. Ia tidak sengaja mendengar percakapan antara ibunya dan asisten rumah tangga yang telah bekerja di keluarganya selama hampir 19 tahun.
Dalam percakapan itu, sang asisten rumah tangga menangis karena ingin putrinya dapat belajar bahasa Inggris. Namun, keterbatasan ekonomi membuat keinginan itu sulit diwujudkan karena biaya les yang cukup mahal.
“Percakapan itu membuat saya menyadari bahwa ada anak-anak di sekitar saya yang ingin belajar tetapi tidak memiliki akses ke kesempatan sama seperti yang saya miliki,” kata Naila.
Pengalaman tersebut mendorong Naila memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk membantu anak-anak di sekitar. Bersama Akhdan, ia kemudian membentuk Gema Ilmu sebagai wadah belajar bahasa Inggris tanpa biaya.
Kini, sekitar 30 orang bergabung dalam komunitas pengajar Gema Ilmu. Para relawan mengajar secara bergantian sesuai waktu dan ketersediaan masing-masing.
Akhdan mengaku sempat gugup saat pertama kali mengajar dan berhadapan dengan banyak anak. Namun, rasa tersebut perlahan hilang setelah dirinya semakin mengenal para murid.
“Gugup pasti ada awal-awalnya. Tapi karena semakin lama semakin kenal sama murid-muridnya, ya kita mulai hilang rasa gugupnya,” tutur Akhdan.
Seiring waktu, hubungan pengajar dan anak-anak semakin dekat. Interaksi tersebut tidak lagi sebatas guru dan murid, tetapi berkembang seperti pertemanan sehingga suasana belajar menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
Bagi Naila, salah satu hal yang paling membahagiakan adalah melihat antusiasme anak-anak mengikuti pembelajaran.
“Yang paling menyenangkan itu ketika melihat senyuman mereka dan antusiasme mereka untuk mau belajar bahasa Inggris,” ujarnya.
Namun, kegiatan belajar gratis juga menghadapi tantangan. Setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan gaya belajar berbeda sehingga pengajar harus menyesuaikan metode agar pembelajaran tidak membosankan.
“Tantangannya paling setiap anak berbeda-beda cara mereka pahami sesuatu dan cara mereka belajar. Kita sebagai guru mesti bisa adaptasi dengan mereka,” kata Naila.
Ke depan, Gema Ilmu menargetkan perluasan kegiatan ke berbagai wilayah Indonesia. Setelah struktur organisasi semakin kuat, mereka berharap dapat menjangkau lebih banyak anak yang ingin belajar bahasa Inggris tetapi terkendala biaya.
“Insyaallah bisa expand ke city-city lain dan bisa menjangkau anak-anak Indonesia yang lain yang juga pengen belajar bahasa Inggris cuma tidak punya uang untuk bayar les atau guru privat semacamnya,” ujar Naila.
Gerakan Gema Ilmu menunjukkan masyarakat dapat turut mengambil peran dalam memperluas akses pendidikan. Melalui relawan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, inisiatif tersebut berupaya memastikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk belajar, berkembang, dan memperoleh kesempatan yang lebih setara.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.