Kabupaten Bogor (ANTARA) - Pesta Rakyat Banyumas di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi ruang bagi masyarakat Banyumas Raya di Jabodetabek untuk melestarikan budaya sekaligus menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kegiatan yang berlangsung di Tanabambu, Jalan Letda Nasir, Nagrak, Gunung Putri, itu mengusung tema "Guyub Rukun Sesarengan" dengan menghadirkan kuliner, kesenian tradisional, gelar budaya, perlombaan hingga bazar UMKM Banyumasan.

Pesta Rakyat Banyumas yang semula berlangsung sepanjang Agustus 2026 kemudian diperpanjang hingga 30 September 2026 menyusul tingginya minat masyarakat terhadap rangkaian kegiatan tersebut.

Perwakilan Tanabambu Jeje mengatakan kegiatan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi dirancang sebagai ruang berkumpul masyarakat Banyumas Raya yang tinggal di kawasan Jabodetabek.

"Pesta Rakyat Banyumas kami hadirkan bukan hanya sebagai sebuah event, tetapi sebagai ruang untuk menghadirkan kembali rasa kampung halaman," kata Jeje di Kabupaten Bogor, Sabtu.

Menurut dia, masyarakat Banyumas Raya dapat berkumpul sembari menikmati makanan dan menyaksikan kesenian yang identik dengan daerah asal mereka.

"Kami ingin masyarakat Banyumas Raya di Jabodetabek bisa berkumpul, menikmati makanan yang familiar, melihat kesenian yang mengingatkan mereka pada rumah, dan merasakan kembali suasana guyub dan rukun," ujarnya.

Sejumlah kuliner tradisional dihadirkan selama kegiatan, antara lain sroto, mendoan, dawet, getuk, pecel dan serabi.

Pada akhir pekan, kegiatan juga melibatkan sekitar 10 hingga 15 pelaku UMKM dari masyarakat Banyumas Raya untuk memasarkan berbagai produk dan kuliner khas daerah.

Pemilik Tanabambu Hani Wijaya mengatakan keterlibatan UMKM menjadi kesempatan bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan produk Banyumasan kepada masyarakat Jabodetabek.

Selain kuliner dan UMKM, Pesta Rakyat Banyumas menghadirkan sejumlah pertunjukan seni tradisional setiap akhir pekan dengan melibatkan komunitas, paguyuban dan sanggar seni di Jabodetabek.

Kesenian yang ditampilkan antara lain calung, ebeg Banyumasan, sendratari dan keroncong. Gelar budaya juga diselenggarakan setiap Sabtu dengan berbagai perlombaan, mulai dari seni tradisional hingga lomba makan mendoan.

Hani mengatakan konsep budaya di Tanabambu dibuat berganti secara berkala sebagai upaya memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara, termasuk kepada generasi muda.

"Setiap bulan, tema budaya Nusantara yang diangkat dapat berbeda. Banyumasan menjadi salah satu tema yang dihadirkan melalui Pesta Rakyat Banyumas," kata Hani.

Menurut dia, tingginya antusiasme masyarakat membuat atmosfer Banyumasan yang semula berakhir pada Agustus dipertahankan hingga akhir September.

Selama periode tersebut, dekorasi dan nuansa Banyumasan tetap dihadirkan sehingga masyarakat dapat menikmati suasana kampung halaman tanpa harus melakukan perjalanan ke daerah asal.

Pesta Rakyat Banyumas terbuka untuk masyarakat umum tanpa biaya masuk. Penyelenggara menargetkan jumlah kunjungan mencapai sekitar 15.000 hingga 20.000 orang selama rangkaian kegiatan, dengan sekitar 3.000 hingga 4.000 pengunjung pada akhir pekan.

Hani berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi destinasi rekreasi keluarga dan ruang temu masyarakat Banyumas Raya, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan kebudayaan daerah kepada masyarakat luas.

"Lebih jauh, Tanabambu berharap kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kebudayaan daerah kepada generasi muda dan masyarakat luas," ujarnya.

 



Pewarta: M Fikri Setiawan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026