Jakarta (ANTARA) - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan istilah “Jas Hijau” sebagai ajakan untuk tidak melupakan jasa para ulama dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa Indonesia.
Presiden Prabowo menyampaikan istilah itu saat berpidato dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis.
"Kalau tidak salah Bung Karno ya, mengatakan 'Jas Merah', jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Saya ingin menyampaikan 'Jas Hijau', jangan sekali-kali melupakan jasa ulama,” kata Prabowo sebagaimana dipantau dari tayangan langsung YouTube Sekretariat Presiden.
Prabowo mengatakan peran ulama, kiai, dan pesantren sangat besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam Pertempuran Surabaya pada periode Oktober-November 1945.
Baca juga: Presiden Prabowo pukul bedug tandai pembukaan muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama
Menurutnya, kemerdekaan Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta, tetapi kemerdekaan tersebut kemudian diuji dalam pertempuran di Surabaya.
"Dalam Pertempuran Surabaya, Oktober-November tahun 1945, peran dari ulama, peran dari kiai-kiai, peran daripada pesantren sangat besar," ujarnya.
Kepala Negara juga memberikan penghormatan kepada para ulama, baik yang dikenal luas maupun para kiai di kampung yang menurutnya memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Prabowo mengatakan para kiai tersebut setiap hari menjaga akhlak anak-anak, kerukunan umat dan antarumat, serta kedamaian di desa-desa. Mereka juga mendoakan bangsa tanpa meminta imbalan kepada negara.
"Terima kasih kepada semua ulama, yang terkenal maupun Kiai-Kiai kampung, yang mungkin namanya tidak pernah masuk televisi. Tapi setiap hari menjaga akhlak anak-anak kita," kata Prabowo.
Baca juga: Presiden Prabowo diagendakan singgah ke "Ndalem Tambakberas"
Presiden menegaskan pentingnya menjaga hubungan antara pemerintah dan organisasi keagamaan dalam menjaga keutuhan bangsa.
"NU kuat, artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU berkhidmat, Indonesia bermartabat," ujarnya.
Prabowo kemudian menyampaikan terima kasih kepada Nahdlatul Ulama, para kiai, ibu dan nyai, serta para santri dan santriwati yang hadir dalam Muktamar ke-35 NU.
"Dirgahayu Nahdlatul Ulama," kata Presiden.
Prabowo resmi membuka Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, ditandai dengan pemukulan bedug. Dalam pembukaan tersebut, Presiden didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua Panitia Muktamar Ke-35 NU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua Umum PBNU H. Yahya Cholil Staquf, Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, dan Pengasuh PP Bahrul Ulum K.H. M. Hasib Wahab Hasbullah.
Usai melakukan prosesi pemukulan bedug sebagai tandai dibukanya muktamar, Presiden Prabowo lalu menerima serban berwarna hijau dari Rais Syuriyah PBNU K.H Ali Akbar Marbun. Serban tersebut dikalungkan di leher Kepala Negara.
Baca juga: PBNU tetapkan logo Muktamar Ke-35 NU karya M Shofa Ulum alumnus Langitan
Muktamar Ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut menjadi momentum bagi Nahdlatul Ulama membahas berbagai agenda organisasi dan isu strategis kebangsaan.
Muktamar tersebut juga menjadi forum konsolidasi warga NU untuk merumuskan arah organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan keumatan, kebangsaan, dan perkembangan zaman.
Turut hadir dalam acara tersebut Istri Presiden ke-4 RI Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI Jusuf Kalla (JK), Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin.
Selanjutnya, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Seskab Teddy, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo, serta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono.
Pewarta: Fathur RochmanUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.