Jakarta (ANTARA) - Peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk melihat ke depan dan mempertimbangkan bagaimana Indonesia menyiapkan generasi yang akan membentuk perjalanan bangsa menuju satu abad kemerdekaan pada 2045, sebuah tonggak yang diwujudkan melalui visi Indonesia Emas 2045.

Kepala ACG School Jakarta Myles D’Airelle dalam keterangannya, Senin mengatakan, tugas sekolah tidak berhenti pada mempersiapkan siswa menghadapi ujian atau masuk ke perguruan tinggi.

“Siswa pergi ke sekolah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tugas kami sebagai pendidik juga untuk memastikan mereka mampu berpikir mandiri, berani mempertanyakan gagasan, mencari solusi, dan memahami tanggung jawab di balik setiap keputusan. Kemampuan inilah yang akan mereka bawa dalam menentukan masa depan mereka dan berkontribusi kepada masyarakat,” ujar Myles.

Keunggulan Akademik dan Kemampuan Menghadapi Perubahan

ACG School Jakarta menerapkan standar akademik internasional melalui International Baccalaureate Primary Years Programme (IB PYP), International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP), dan kualifikasi Cambridge International. Sekolah yang berdiri sejak 2004 ini menyediakan pendidikan dari prasekolah (usia dini) hingga prauniversitas.

Metode pembelajarannya dirancang untuk mengenali potensi dan kebutuhan setiap siswa. Para siswa tidak hanya dibimbing untuk memahami materi, tetapi juga diajak mengembangkan cara berpikir, mengambil kendali atas proses belajar, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata.

Keberagaman menjadi bagian dari pengalaman belajar di ACG School Jakarta, mempertemukan siswa dari berbagai latar belakang untuk belajar, berkolaborasi, dan tumbuh bersama sebagai bagian dari komunitas global.

Lingkungan sekolah yang multikultural turut mempertemukan siswa dari beragam kewarganegaraan dan latar belakang. Pengalaman ini membantu mereka belajar berkomunikasi, berkolaborasi, memahami perspektif yang berbeda, dan beradaptasi dalam lingkungan global.

Pendekatan tersebut tercermin dalam pencapaian dua lulusan ACG School Jakarta tahun ini. Zavier meraih 42 poin dan Devansh memperoleh 43 poin dalam IBDP, dari nilai maksimal 45.

Berdasarkan data global IB sesi Mei 2025, nilai rata-rata Diploma Programme adalah 30,58. Dari 202.103 siswa di seluruh dunia, hanya 4,68% yang memperoleh nilai 40 atau lebih. Dengan demikian, capaian Zavier dan Devansh menempatkan keduanya di antara kelompok kecil siswa dengan hasil tertinggi secara global.

“ACG School berhasil menjaga konsistensi passing grade yang kuat dari tahun ke tahun, dan kami sangat bangga terhadap pencapaian Zavier dan Devansh tahun ini, keduanya meraih hasil exceptional. Hasil mereka tidak hanya mencerminkan kemampuan akademik yang kuat, tetapi juga rasa ingin tahu, ketahanan, tekad, pemikiran kritis, dan kepedulian yang mereka tunjukkan sepanjang perjalanan IB. Saya percaya pengalaman tersebut akan membantu mereka memimpin, berkontribusi, dan berhasil di masa depan,” kata Myles.


Dua Lulusan, Dua Pilihan untuk Masa Depan

Setelah menyelesaikan pendidikan di ACG School Jakarta, Zavier memilih melanjutkan studi Teknik Kimia di Universitas Indonesia. Bidang tersebut berkaitan dengan berbagai sektor strategis bagi masa depan Indonesia, mulai dari industri dan energi hingga keberlanjutan.

Zavier, yang juga merupakan penerima beasiswa ACG School Jakarta, mengatakan bahwa pengalaman sekolahnya tidak hanya membantunya berkembang secara akademik, tetapi juga sebagai pribadi.

“IBDP telah memperkuat kemampuan saya dalam menjalani proses belajar yang menantang. Program ini membantu saya mempersiapkan ujian dengan matang dan secara signifikan mengembangkan keterampilan saya dalam menulis karya akademik,” katanya.

“Saya juga senang bersekolah di sini karena punya banyak teman dari berbagai bangsa dan latar belakang.”

Sementara itu, Devansh akan melanjutkan studi Teknik Dirgantara di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, salah satu program studi teknik paling unggul (peringkat 5 di dunia dalam bidang Mechanical, Aeronautical & Manufacture Engineering).

Pilihan ini memberinya kesempatan mendalami bidang yang spesifik sekaligus melanjutkan pengalaman belajar di lingkungan internasional.
Devansh juga merasakan dukungan para guru, teman, dan lingkungan sekolah, yang telah membantu membangun kepercayaan diri untuk meraih hasil akademik terbaik sambil tetap mengembangkan minat di bidang olahraga dan seni.

Meski memilih bidang dan kampus yang berbeda, keduanya membawa bekal yang sama, yakni pengetahuan, kemandirian, dan kepercayaan diri yang didapat dari ACG School.


Pembelajaran yang Membentuk Kepemimpinan

IBDP merupakan kualifikasi prauniversitas selama dua tahun yang memiliki standar akademik tinggi dan diakui oleh berbagai universitas terkemuka dunia. Program ini mendorong siswa untuk memiliki rasa ingin tahu, berpengetahuan luas, berpikir kritis, serta bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.

Di ACG School Jakarta, pengembangan kemampuan tersebut berlangsung di dalam dan di luar kelas. Melalui 32 kegiatan ekstrakurikuler, acara komunitas, serta peluang beasiswa, siswa didorong mengeksplorasi minat, mengambil inisiatif, bekerja sama, dan berkontribusi kepada komunitas.

Koordinator Diploma IB ACG School Jakarta Kieran Pascoe mengatakan, kekuatan program tersebut terletak pada keseimbangan antara keunggulan akademik dan pengembangan diri.

“IB menantang siswa untuk berpikir kritis, mengajukan pertanyaan berdasarkan rasa ingin tahu, merefleksikannya, dan menganalisis jawaban. Proses ini membantu siswa menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu memecahkan masalah, baik untuk pendidikan selanjutnya maupun dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Kieran menambahkan bahwa sejumlah siswa juga berhasil memperoleh diploma bilingual. Pencapaian tersebut mencerminkan wawasan internasional dan kemampuan bahasa yang tumbuh dalam komunitas sekolah yang beragam.

Pendampingan yang personal turut menjadi bagian penting dalam proses belajar. Selama dua tahun terakhir masa studi, Kepala Sekolah, Koordinator Diploma IB, dan Konselor Universitas Brian Chesher bekerja dengan para siswa untuk menentukan pilihan mata pelajaran dan strategi pendaftaran universitas yang sesuai dengan kekuatan, minat, serta aspirasi masing-masing.

“Para siswa kami menjalani IBDP dengan kedewasaan dan keberanian. Dalam prosesnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Kami bangga atas pencapaian mereka dan menantikan langkah-langkah besar yang akan mereka ambil,” pungkas Brian. Hasil yang diraih para siswa merupakan buah dari kerja keras, ketekunan menghadapi tantangan, dukungan keluarga dan guru, serta proses berpikir yang mendalam.

Lulusan ACG School Jakarta telah melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan dunia, termasuk universitas yang tergabung dalam Russell Group di Inggris, Ivy League di Amerika Serikat, dan Group of Eight di Australia.

Pencapaian Zavier dan Devansh menunjukkan bahwa prestasi akademik bukanlah tujuan akhir pendidikan, melainkan landasan untuk mengambil pilihan secara mandiri dan memberi kontribusi nyata. Menjelang Indonesia Emas 2045, ruang kelas memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi yang bukan hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga mampu turut menentukan arah perubahan tersebut.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026