Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Bara, berupaya mencegah penurunan produksi pertanian sebagai imbas 1.354 hektare lahan sawah produktif yang tersebar di 41 desa dan 15 wilayah kecamatan daerah itu terancam mengalami kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Abdillah Majid mengatakan kondisi tersebut terjadi akibat penurunan debit air untuk mengairi lahan persawahan hingga berpotensi mengganggu produksi padi jika tidak segera ditangani.
"Di situ potensi terdampak penurunan produksi. Padahal dari Kementerian Pertanian itu kita harus menambah luas tanam. Kalau luas tambah tanam ditingkatkan, kembali lagi ke kondisi air," katanya di Cikarang, Rabu.
Menurut dia, hingga kini belum terjadi penurunan produksi padi secara signifikan. Namun, kekeringan yang terjadi dinilai memiliki potensi menurunkan produksi apabila pasokan air tidak segera dipenuhi.
Baca juga: 2.592 hektare lahan pertanian di Bekasi alami kekeringan saat kemarau ini
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi melakukan sejumlah langkah mitigasi di antaranya penanganan saluran irigasi, pembersihan eceng gondok serta koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II maupun instansi terkait lain.
Pihaknya menurunkan bantuan pompa sebanyak 13 unit berukuran enam inci dan 70 unit berukuran tiga inci yang disalurkan ke sejumlah wilayah rawan kekeringan seperti Kecamatan Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi, Setu dan Muaragembong.
"Pompa-pompa tersebut digunakan untuk mengambil air dari sumber-sumber air seperti saluran sekunder maupun sungai-sungai besar guna memenuhi kebutuhan pengairan sawah," katanya.
Kabid Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Eem Embang melanjutkan pemerintah daerah membantu mendapatkan rekomendasi bahan bakar minyak bersubsidi untuk operasional alat dan mesin pertanian mengingat petani kerap mengalami kesulitan dalam memperoleh solar untuk operasional mesin pompa.
Baca juga: Ribuan hektare sawah di Pebayuran Bekasi kekeringan
"Melakukan mitigasi sejak dini pada wilayah rawan kekeringan dan melakukan penanganan jangka pendek sudah sesuai tugas, fungsi dan anggaran Dinas Pertanian," ujarnya.
Selain persoalan air, pemantauan terhadap kondisi lahan bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) terus dilakukan secara berkala untuk mendapatkan data perkembangan dampak kekeringan di lapangan sehingga penanganan pun bisa dilakukan secara cepat.
Kegiatan normalisasi jaringan irigasi turut dilakukan melalui kerja sama dengan BBWS seperti pada aliran Balong Tuatu sepanjang tujuh kilometer, SS Jagawana sepanjang 10 kilometer serta Kali Butek sepanjang 5,5 kilometer demi membantu memperlancar pasokan air ke lahan pertanian.
Dinas Pertanian bersama Direktorat Jenderal Lahan dan Perlindungan Pertanian juga membantu dukungan anggaran operator untuk normalisasi jaringan irigasi di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran.
Baca juga: Pemkab Bekasi percepat normalisasi saluran irigasi cegah kekeringan sawah
Seluruh langkah tersebut dilakukan untuk menjaga produksi pangan Kabupaten Bekasi yang ditargetkan mampu menghasilkan 503.000 ton gabah kering sepanjang tahun 2026 dengan memastikan seluruh lahan produktif dapat ditanami.
Eem menyebut sejumlah wilayah masih menjadi lumbung padi utama Kabupaten Bekasi di antaranya Kecamatan Pebayuran, Sukatani, Sukakarya, Sukawangi serta Muaragembong.
Kecamatan Pebayuran bahkan membukukan produktivitas sangat tinggi dengan hasil mencapai delapan hingga sembilan ton Gabah Kering Panen (GKP) dalam setiap haktare lahan.
Dinas Pertanian juga mendorong agar lahan potensial dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun melalui dukungan pompanisasi dengan harapan mampu menjaga produktivitas sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada pangan di Kabupaten Bekasi.
"Kami juga memantau produksi, mendata stok beras di sejumlah titik penggilingan melalui petugas informasi pasar di tingkat kecamatan untuk memastikan ketersediaan beras di tengah ancaman kekeringan yang masih berlangsung," kata dia.
Pewarta: Pradita Kurniawan SyahUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.