Depok (ANTARA) - Program Administrasi Perkantoran Sekolah Vokasi UI, yang didukung Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD) melakukan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia IV, Ciracas, Jakarta Timur dengan semangat tersebut menjadi dasar kegiatan AKSARA “Menebar Kasih, Mengukir Senyum”
Kegiatan menghadirkan interaksi langsung antara generasi muda dan para lansia melalui berbagai aktivitas sederhana namun bermakna, mulai dari berbincang dan berbagi cerita, tebak lagu, permainan bersama, hingga melukis.
Ketua Pelaksana AKSARA, Kayla Putri Az-Zahra, Selasa mengatakan kegiatan tersebut ingin mengajak peserta memahami bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin hadir dan berbagi kebahagiaan bersama para penghuni panti. Kami berharap waktu yang kami luangkan dapat memberikan semangat dan kebahagiaan, sekaligus mengingatkan kami semua akan pentingnya kepedulian terhadap sesama.”
Alih-alih menempatkan lansia hanya sebagai penerima bantuan, kegiatan dirancang untuk menciptakan ruang perjumpaan yang memungkinkan kedua generasi saling berinteraksi, mendengarkan, dan belajar.
Lansia Tidak Hanya Membutuhkan Umur Panjang, tetapi Hidup yang Tetap Bermakna.
Yayasan Ruang Karya Berdampak memandang kegiatan tersebut memiliki relevansi yang lebih luas dengan tantangan masyarakat Indonesia yang sedang bergerak menuju struktur penduduk menua.
Ketua Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), Mila Viendyasari, mengatakan bahwa keberhasilan pembangunan manusia tidak semestinya hanya dinilai dari bertambahnya usia harapan hidup, tetapi juga dari bagaimana masyarakat memastikan setiap fase kehidupan tetap memiliki martabat, relasi, dan makna.
“Kita sering berbicara tentang bagaimana menambah tahun dalam kehidupan manusia. Tetapi pertanyaan yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menambahkan kehidupan ke dalam tahun-tahun tersebut? Lansia tidak hanya membutuhkan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan fisik. Mereka membutuhkan percakapan, perhatian, kesempatan berbagi pengalaman, dan terutama perasaan bahwa mereka tetap berarti.” ujarnya.
Menurut Mila, yang juga Kaprodi Administrasi Perkantoran Vokasi UI, perjumpaan antargenerasi memiliki nilai yang sama pentingnya bagi generasi muda.
Ketika seorang anak muda duduk dan mendengarkan cerita seorang lansia, sebenarnya yang sedang terjadi bukan aktivitas sosial satu arah. Ada pertukaran pengalaman, nilai, ingatan, dan perspektif kehidupan. Generasi muda memberikan waktu dan perhatian, sementara generasi yang lebih tua memberikan sesuatu yang tidak dapat diperoleh secara instan dari internet: pengalaman hidup. Inilah ruang karya yang kami percaya dapat menghasilkan dampak.
Penelitian mengenai meaningfulness of life pada lansia menunjukkan bahwa kebermaknaan hidup tidak berhenti ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Para lansia dalam penelitian tersebut menggambarkan kehidupan yang bermakna melalui kemampuan untuk tetap memiliki tujuan, berkontribusi kepada keluarga dan masyarakat, membangun hubungan sosial yang dekat, melakukan aktivitas positif, serta memiliki rasa syukur dan kepuasan terhadap kehidupan.
Temuan penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa aktivitas bersama komunitas dan hubungan sosial memberikan kepuasan serta makna bagi kehidupan lansia.
Hal ini menjadi penting karena perubahan pada masa lanjut usia bukan hanya bersifat fisik. Lansia dapat mengalami perubahan peran keluarga, kondisi ekonomi, kesehatan, hingga menyusutnya lingkungan sosial akibat pensiun dan berkurangnya interaksi dengan kolega maupun komunitas.
Karena itu, kualitas hidup lansia tidak cukup dilihat dari pertanyaan “apakah mereka sehat?”, tetapi juga perlu diperluas menjadi “apakah mereka masih merasa dibutuhkan, didengarkan, terhubung, dan memiliki tujuan?”
Bagi RKD, perspektif tersebut juga mengubah cara kegiatan sosial semestinya dirancang. Peneliti Klinik Digital yang berada dalam ekosistem RKD, Andhita Yukihana R, menilai bahwa kegiatan sosial akan memiliki dampak yang lebih dalam ketika penerima manfaat tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek bantuan.
“Kita perlu bergerak dari paradigma charity menuju dignity. Kadang-kadang kita merasa sudah membantu seseorang ketika kita memberikan sesuatu. Padahal manusia tidak hanya membutuhkan sesuatu untuk dimiliki; manusia membutuhkan alasan untuk merasa berarti.”
Ketua Program Studi Akuntansi Vokasi UI ini juga mengatakan riset tentang kebermaknaan hidup lansia memberikan pesan penting bahwa relasi sosial, keterlibatan dalam aktivitas, rasa berguna bagi orang lain, serta dukungan keluarga dan komunitas berperan dalam membantu lansia menemukan makna hidup.
“Karena itu, salah satu hadiah paling mahal yang bisa diberikan generasi muda kepada lansia sebenarnya tidak selalu berbentuk materi. Namanya waktu. Ketika kita hadir, mendengarkan cerita mereka, tertawa bersama, melukis bersama, atau sekadar membuat mereka merasa didengar, kita sedang mengatakan sesuatu yang sangat mendasar: ‘Anda masih penting bagi kami,” ujarnya.
Menurut Andhita perspektif ini penting di tengah kehidupan modern yang semakin terdigitalisasi.
“Teknologi membuat manusia semakin mudah terkoneksi, tetapi konektivitas tidak otomatis menghasilkan kedekatan. Kita bisa memiliki ribuan koneksi digital dan tetap merasa sendiri. Karena itu, kemampuan membangun hubungan antarmanusia justru akan menjadi semakin berharga di masa depan,” ujarnya.
Pewarta: Feru LantaraEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.