Depok (ANTARA) - Pengajar Vokasi UI Devie Rahmawati, mengatakan tantangan terbesar konservasi saat ini bukan lagi sekadar mengumpulkan data, melainkan bagaimana menerjemahkan bukti ilmiah menjadi aksi nyata yang dipahami, dipercaya, dan dijalankan oleh masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan dalam forum internasional “Harnessing Artificial Intelligence to Advance SDG 15: Life on Land. AI for Biodiversity Conservation” yang diselenggarakan oleh DAAD Indonesia dengan menghadirkan narasumber dan moderator yang merupakan para Alumni DAAD dan Alexander von Humboldt dari Bangladesh, India, dan Indonesia yaitu Islam Hamim, Rakesh Verma, Muhammad Ali Imron, Devie Rahmawati dan Cecilia E Nugraheni.

Mengangkat hasil systematic review terhadap lebih dari 1.800 publikasi ilmiah internasional, penelitian yang dipresentasikan menunjukkan bahwa meskipun kecerdasan artifisial (AI) berkembang sangat cepat dalam mendukung konservasi, hanya sebagian kecil penelitian yang benar-benar membahas bagaimana hasil AI diterjemahkan menjadi keputusan publik dan aksi konservasi.

“Saya tidak datang untuk mengatakan bahwa Artificial Intelligence akan menyelamatkan biodiversitas. AI tidak dapat menyelamatkan satu hutan pun, melindungi satu spesies pun, ataupun meyakinkan satu komunitas untuk peduli. Manusialah yang melakukannya. AI baru bermakna ketika membantu manusia mengambil keputusan yang lebih baik.” ujar , Associate professor dari Vokasi Universitas Indonesia Devie Rahmawati dalam keterangannya, Selasa.

Menurut Devie, Indonesia justru memiliki posisi yang sangat strategis dalam perkembangan AI global karena kompleksitas ekologinya tidak dimiliki banyak negara lain.

“Indonesia bukan sekadar negara yang kaya biodiversitas. Indonesia adalah negara dengan biodiversitas yang sangat kompleks. Kompleksitas itu mengubah peran AI. Di Indonesia, AI tidak hanya harus memahami ekosistem, tetapi juga mampu menjembatani keberagaman budaya, tata kelola, masyarakat lokal, hingga kebijakan publik," tuturnya.

Co-inisiator dari ARA Academy ini mengatakan bahwa perkembangan AI di Indonesia sedang bergerak dari sekadar Artificial Intelligence menuju Collective Intelligence.

“Konservasi tidak bisa diselesaikan oleh algoritma saja. Dibutuhkan ilmuwan, pemerintah, masyarakat, citizen scientists, NGO, serta pengetahuan lokal yang bekerja bersama. AI seharusnya menjadi platform yang menghubungkan semuanya.”

Dalam presentasinya, Devie juga memperkenalkan konsep Evidence-to-Action Translation, yaitu gagasan bahwa bukti ilmiah baru akan memiliki nilai ketika berhasil dikomunikasikan sehingga dipahami, dipercaya, dan mendorong tindakan bersama.

“Temuan terbesar penelitian kami justru bukan mengenai teknologi. Temuan terbesar kami adalah komunikasi. Sebagian besar penelitian berhasil menghasilkan bukti ekologis, tetapi jauh lebih sedikit yang menjelaskan bagaimana bukti tersebut menjadi pemahaman masyarakat, kebijakan pemerintah, atau aksi kolektif.”

Sebagai pengurus di Disaster Risk Reduction Center (DRRC) Universitas Indonesia, Devie menilai bahwa prinsip yang sama juga berlaku dalam pengurangan risiko bencana.

“Baik konservasi maupun kebencanaan memiliki tantangan yang sama. Data tidak otomatis menyelamatkan manusia. Prediksi tidak otomatis mengubah perilaku. Yang menentukan adalah bagaimana informasi diterjemahkan menjadi keputusan yang dipahami, dipercaya, dan dijalankan oleh masyarakat.”


Peneliti di Klinik Digital ini, berharap pengembangan AI ke depan semakin mengintegrasikan ilmu pengetahuan, komunikasi, partisipasi masyarakat, dan tata kelola yang baik.

“Terobosan terbesar konservasi biodiversitas mungkin bukan lahir dari algoritma yang lebih cerdas. Terobosan itu justru akan lahir ketika AI menjadi mudah dipahami, dapat dipercaya, dan dapat digunakan oleh semua orang, mulai dari ilmuwan, pembuat kebijakan, hingga masyarakat yang hidup paling dekat dengan alam.”

Sebagai penutup, Devie kembali menegaskan pesan utama yang menjadi benang merah presentasinya yaitu :

“Artificial Intelligence tidak melestarikan biodiversitas. Manusialah yang melakukannya. AI membantu kita melihat alam. Komunikasi membantu kita memahaminya. Kolaborasi membantu kita melindunginya. Ketika ketiganya bekerja bersama, barulah teknologi benar-benar menghasilkan konservasi.”



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026