Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 65 siswa dari berbagai wilayah pedalaman Papua tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (11/8) setelah tujuh hari berlayar bersama Pelni untuk melanjutkan perjalanan pendidikan menuju Sekolah Lentera Harapan Gunung Moria Tangerang maupun perguruan tinggi.

Bagi mereka, Tanjung Priok bukanlah akhir perjalanan. Kedatangan ini justru menandai dimulainya babak baru dalam sebuah program pendidikan jangka panjang yang dibangun oleh Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP).

Membawa anak-anak dari desa terpencil pedalaman Papua masuk ke dalam suatu jalur pendidikan berkelanjutan dari pendidikan dasar di kampung, melanjutkan SMP dan SMA di SLH Gunung Moria Tangerang sebelum menuju perguruan tinggi hingga pada waktunya kembali membangun Papua.

Program ini merupakan bagian dari komitmen untuk memastikan bahwa tempat seorang anak dilahirkan tidak menentukan sejauh mana ia dapat bermimpi dan belajar. Selama hampir tiga dekade, YPHP membangun dan mengembangkan pelayanan pendidikan di berbagai wilayah pedalaman Papua.

Melalui jaringan Sekolah Lentera Harapan, pendidikan diselenggarakan sedekat mungkin dengan tempat anak-anak bertumbuh, termasuk di Mamit, Daboto, Karubaga, Nalca, Korupun, Danowage, Tumdungbon, Mokndoma, Saman, Holuwon dan berbagai komunitas lainmSaat ini, pelayanan pendidikan tersebut telah menjangkau lebih dari 1.500 siswa. Di wilayah-wilayah yang secara geografis sangat terpencil, membangun sekolah dasar merupakan langkah pertama yang penting.

YPHP melihat tantangan sesungguhnya adalah memastikan anak-anak tersebut tidak berhenti di tengah jalan. Ketika memasuki usia remaja, keterbatasan akses pendidikan lanjutan, jarak geografis, kondisi sosial dan berbagai faktor lain dapat membuat perjalanan pendidikan anak terhenti.

Karena itu, YPHP membangun sebuah jalur yang memungkinkan sebagian siswa melanjutkan pendidikan ke SLH Gunung Moria Tangerang, sebuah sekolah berasrama yang berada dalam lingkungan Universitas Pelita Harapan.

Di Gunung Moria, mereka tidak hanya melanjutkan pendidikan jenjang SMP dan SMA namun juga dipersiapkan melalui pendidikan akademik, pembentukan iman dan karakter, kemandirian, kecakapan hidup serta pengalaman hidup yang jauh lebih luas untuk suatu hari mampu memasuki pendidikan tinggi.

Bagi YPHP, membuka akses pendidikan saja tidak cukup. Pendidikan harus dilanjutkan sampai tuntas. Angkatan tahun ini terdiri atas 65 siswa kelas 7 hingga 10 yang berasal dari berbagai wilayah Papua, antara lain 19 siswa asal, Korupun 22 siswa, Danowage 6 siswa, Daboto 1 siswa, Mokndoma 12 siswa, Waisai 2 siswa, Sentani 1 siswa serta Tarup 2 siswa.

Mereka bertolak dari Jayapura pada 4 Agustus 2026. Selama perjalanan, para siswa didampingi 32 pendamping terdiri atas rohaniawan, guru, dokter, perawat.dan tenaga medis untuk memastikan kesehatan, keselamatan maupun kesejahteraan mereka.

Perjalanan tahun ini merupakan perjalanan ketiga yang dilakukan untuk membawa siswa dari Papua menuju pendidikan lanjutan di Tangerang. Pada 2023, 152 siswa melakukan perjalanan pertama menggunakan KM Ciremai, didampingi 11 guru dan enam perawaSetahun berselang, perjalanan kedua membawa 162 siswa menggunakan KM Dobonsolo, bersama 18 guru dan tujuh perawat. Kini, pada tahun 2026, perjalanan tersebut kembali dilanjutkan.

Bagi banyak siswa, perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta merupakan perjalanan keluar dari dunia yang selama ini mereka kenal. Sebagian dari mereka tumbuh di wilayah pegunungan yang sangat terpencil.

Melihat sebuah kapal besar, memasuki pelabuhan, menyaksikan luasnya samudra, singgah di berbagai wilayah Indonesia dan bertemu dengan kehidupan di luar kampung halaman merupakan pengalaman baru. Karena itu, perjalanan tujuh hari tersebut bukan sekadar transportasi.

Perjalanan itu sendiri menjadi ruang belajar. Anak-anak mulai melihat bahwa dunia jauh lebih luas dari kampung mereka dan mereka memiliki tempat di dalam dunia yang lebih luas tersebut.

YPHP, Pelni dan Pelindo membuka jalan bersama sebab program ini tidak mungkin berjalan sendiri. YPHP menyampaikan penghargaan yang besar kepada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni yang telah menjadi bagian dari perjalanan anak-anak Papua sejak angkatan sebelumnya dan kembali mengambil bagian dalam perjalanan tahun ini.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, konektivitas bukan hanya persoalan memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Dalam perjalanan ini, konektivitas laut telah menjadi jembatan pendidikan.

Kapal Pelni bukan sekadar membawa anak-anak dari Jayapura menuju Jakarta, tetapi ikut membuka akses dari desa-desa terpencil menuju kesempatan pendidikan yang lebih luas..

YPHP juga menyampaikan apresiasi kepada PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo yang turut mendukung kedatangan dan penyambutan para siswa di Pelabuhan Tanjung Priok.

Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana pemerintah, BUMN dan lembaga pendidikan dapat bekerja bersama untuk menjawab salah satu tantangan terbesar pendidikan di Papua yakni jarak dan keterisolasian geografis.

"Bagi kami, perjalanan ini memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar pelayaran antarpulau. Kami bersyukur dapat mengambil bagian dalam membuka jalan bagi anak-anak Papua untuk melanjutkan pendidikan dan memperluas masa depan mereka," kata Direktur Pelni melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Perwakilan Pelindo turut menyampaikan bahwa Tanjung Priok hari ini bukan hanya menjadi tempat kedatangan kapal, tetapi menjadi pintu menuju babak pendidikan berikutnya bagi anak-anak Papua. "Kami bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan ini," katanya.

Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk menyampaikan anak-anak Papua harus mendapatkan kesempatan untuk belajar, bertumbuh dan mencapai pendidikan setinggi-tingginya.

"Tantangan geografis tidak boleh menjadi batas masa depan mereka. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, BUMN dan masyarakat sangat penting untuk memastikan semakin banyak anak Papua mendapatkan kesempatan tersebut," ujarnya.

Program ini bukan membawa anak keluar dari Papua tetapi mempersiapkan mereka untuk Kembali Tujuan akhir program ini bukan Jakarta, melainkan tetap Papua.

YPHP ingin para siswa mendapatkan pendidikan terbaik, memperoleh pengalaman lebih luas, menyelesaikan pendidikan tinggi dan kemudian membawa kembali pengetahuan, keterampilan, karakter serta panggilan pelayanan tersebut kepada masyarakat asal mereka.

Pada tahun 2025 serta 2026, lulusan SLH Gunung Moria telah mulai melanjutkan pendidikan di Universitas Pelita Harapan, termasuk untuk dipersiapkan menjadi guru dan perawat yang suatu hari dapat kembali melayani masyarakat Papua.

Dengan demikian, jalur pendidikan yang sedang dibangun semakin nyata mulai dari TK–SD di pedalaman Papua, SMP-SMA di SLH Gunung Moria, Perguruan Tinggi sampai kembali melayani dan membangun Papua.

Perjalanan inilah yang menjadi inti pelayanan YPHP. Bukan sekadar membawa anak keluar dari pedalaman tetapi membuka dunia bagi mereka, mempersiapkan masa depan mereka, dan pada waktunya mengirim mereka kembali untuk membangun Papua.

Ketika 65 siswa tersebut turun dari kapal di Tanjung Priok pada pagi hari 11 Agustus, perjalanan laut mereka telah selesai. Tetapi perjalanan pendidikan mereka baru memasuki babak berikutnya. Dari pedalaman Papua menuju pendidikan setinggi-tingginya. Dan suatu hari, kembali untuk Papua



Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026