Depok (ANTARA) - Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menyelenggarakan Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026, sebuah forum akademik nasional yang mempertemukan Guru Besar Humaniora dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Forum ini diselenggarakan untuk merumuskan arah baru pengembangan humaniora yang relevan, adaptif, dan berdampak bagi pembangunan bangsa di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), transformasi digital, dan perubahan sosial global pada tanggal 11-13 Agustus 2026 di FIB UI, Kampus UI Depok.
"Melalui forum ini, Universitas Indonesia menegaskan bahwa keunggulan akademik harus diwujudkan dalam bentuk solusi yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, dunia pendidikan tinggi, masyarakat, dan para pemangku kepentingan," kata Guru Besar FIB UI
Prof. Agus Aris Munandar saat konferensi Pers di Kampus UI Depok, Jumat.
Hadir dalam konferensi pers tersebut Prof. Manneke Budiman, Prof. R.Tuti Nur Mutia, dan Prof. Muhammad Luthfi.
Prof. Agus Aris Munandar, menjelaskan bahwa penyelenggaraan simposium ini dilandasi Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia oleh kebutuhan untuk menghimpun pemikiran para Guru Besar Humaniora mengenai arah perkembangan ilmu humaniora di Indonesia pada masa depan.
Peserta simposium merupakan Guru Besar undangan dari berbagai fakultas humaniora di Indonesia yang memiliki rekam jejak sebagai penggagas dan inovator di institusinya masing-masing.
"Hingga saat ini tercatat 54 peserta dan 33 perguruan tinggi," katanya.
Bidang keilmuan yang terlibat mencakup sejarah, filsafat, linguistik, susastr arkeologi, kajian kewilayahan, ilmu perpustakaan dan informasi, cultural studies, antropolog budaya, serta berbagai disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan humaniora.
Sejalan dengan semangat Universitas Indonesia sebagai Impactful University, simposium ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Mengusung tema "Trajektori dan Urgensi Humaniora Masa Depan", simposium ini menempatkan humaniora sebagai fondasi strategis dalam membangun ekosistem ilmu pengetahuan, inovasi, dan kebudayaan Indonesia.
Di tengah berkembangnya kecerdasan buatan, big data, dan ekonomi digital, humaniora memiliki peran yang semakin penting untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berlandaskan etika, nilai-nilai kemanusiaan, kebinekaan, dan identitas kebangsaan.
Indonesia memiliki kekayaan budaya, bahasa, manuskrip, tradisi intelektual, serta pengetah lokal yang merupakan modal strategis bagi pembangunan masa depan.
Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi semata-mata bagaimana melestarikan warisan budaya, tetapi bagaimana mentransformasikannya menjadi sumber pengetahuan, inovasi, dan daya saing
akademik, melainkan sebagai kekuatan strategis yang mampu menjembatani pendidikan tinggi nasional.
Simposium Nasional Guru Besar Humaniora ini diselenggarakan untuk menghimpun ilmu humaniora di Indonesia pada masa depan.
Diharapkan pemikiran para Guru Besar dapat menjadi rujukan dalam menentukan trajektori perkembangan humaniora yang relevan dengan tantangan zaman.
Dalam pelaksanaannya, simposium akan menghadirkan enam sesi diskusi yang membahas berbagai isu strategis, yakni Humaniora Digital & Humaniora Ekologi, Mitigasi Budaya & Konservasi Budaya, Kolaborasi Multihelix dalam Humaniora & Literasi Multikultural, Humaniora untuk Kajian Kebijakan & Politik dalam Humaniora, Kohesi Sosial dan Relasi Antaretnik: serta Strategi Pengembangan Humaniora & Hillrisasi dalam Humaniora
Salah satu luaran utama simposium ini adalah penyusunan dua Policy Brief yang akan disampaikan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia serta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kedua dokumen tersebut memuat rekomendasi strategis mengenai penguatan humaniora dalam sistem pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional, sekaligus transformasi tata kelola kebudayaan Indonesia di era Artificial Intelligence.
Dengan demikian, Simposium Nasional Guru Besar Humaniora tidak berhenti pada diskusi akademik, tetapi menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi rujukar dalam penyusunan kebijakan publik.
Untuk mewadahi gagasan dan kontribusi para guru besar kepada pemerintah khususnya dan kepada masyarakat pada umumnya, dalam bidang pengembangan Humaniora dan peningkatan perannya dalam pembangunan bangsa, akan dibentuk sebuah Perhimpunan Guru Besar Humaniora di tingkat Nasional.
Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026 menegaskan bahwa Indonesia tidak memerlukan kebijakan yang sekadar mengadopsi praktik negara lain. Yang dibutuhkan kebijakan yang berakar pada nilai-nilai Pancasila, menghargai kemajemukan budaya Nusantara, serta memenuhi standar global dalam pengembangan ilmu pengetahuan,
transformasi digital, dan kecerdasan buatan.
Pewarta: Feru LantaraEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.