Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkaji pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sepanjang tol Trans-Jawa untuk menyukseskan program PLTS 100 GW.
“Nanti pengembangan ke depan, kemarin kami minta untuk kaji kalau sepanjang tol Jawa itu kira-kira dapat berapa (kapasitas PLTS) sih,” ujar Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.
Tri merujuk pada keberhasilan pemasangan PLTS di pinggir tol Bali Mandara. Tri menyampaikan kajian pengembangan PLTS di sepanjang tol Trans-Jawa akan dimulai tahun ini.
Adapun yang menjadi perhatian dari pemerintah terkait pengembangan PLTS di sepanjang jalan tol adalah faktor angin yang kencang. Kondisi tersebut, menurut dia, akan memengaruhi peletakan dan posisi dari PLTS yang akan dipasang.
Baca juga: KAI Cirebon optimalkan pemanfaatan PLTS di tiga stasiun untuk hemat energi
Baca juga: Prabowo: PLTS berkapasitas 100 GW dibangun dalam dua tahun
Aspek-aspek tersebutlah yang Tri sampaikan akan menjadi bagian dari kajian pengembangan PLTS di tepi jalan tol.
Sementara itu, untuk mengeksekusi proyek tersebut, Tri mengatakan pemerintah membutuhkan waktu paling cepat tahun depan.
“Tahun ini kan sudah Agustus. Jadi tahun depan dieksekusi,” kata Tri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan peresmian tahap pertama program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 GW akan dilakukan di Bali oleh Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: YLKI dukung pembangunan 100 GW PLTS guna diversifikasi energi
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga memastikan bahwa PLTS 100 GW tersebut sudah masuk ke revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 PLN.
Pengembangan PLTS 100 GW disebut berpotensi menekan impor energi dengan nilai substitusi mencapai 14,4 miliar dolar AS hingga 28,9 miliar dolar AS, serta berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 26,6 miliar dolar AS.
Pewarta: Putu Indah SavitriUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.