Banyumas (ANTARA) - Pemerintah Desa Kemutug Kidul, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, membangun kantor desa baru mirip Istana Negara dengan tujuan menghadirkan pelayanan publik yang lebih representatif, nyaman, dan mampu menampung berbagai aktivitas masyarakat.
Kepala Desa Kemutug Kidul Kardi Daryanto di Kecamatan Baturraden, Banyumas, Senin, mengatakan pembangunan kantor desa yang baru itu karena kantor lama sudah tidak lagi memadai. Meski berada di pinggir jalan namun lahan parkir terbatas sehingga menyulitkan saat desa menggelar kegiatan yang melibatkan banyak warga.
"Awalnya kantor desa lama sudah tidak memadai. Oleh karena itu kami bersama BPD mengusulkan pembangunan kantor desa baru di lokasi bekas lapangan desa agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih baik," katanya.
Ia mengatakan, konsep bangunan yang mirip Istana Negara dipilih agar kantor desa memiliki ciri khas sekaligus memberikan kesan yang baik bagi masyarakat.
"Kami ingin bangunannya berbeda sehingga masyarakat memiliki kebanggaan terhadap kantor desanya. Ada kesan bagus ketika masyarakat datang untuk mendapatkan pelayanan," katanya.
Menurut dia, pembangunan kantor desa dilakukan secara bertahap selama tiga tahun menggunakan bantuan keuangan bupati dengan total anggaran Rp650 juta.
Ia merinci bantuan tersebut terdiri atas Rp200 juta pada 2022, Rp300 juta pada 2023, dan Rp150 juta pada 2025.
Ia menegaskan pembangunan kantor desa tidak menggunakan Dana Desa sehingga tidak terdampak kebijakan efisiensi anggaran yang berlaku pada tahun ini.
"Itu bantuan keuangan bupati, bukan Dana Desa, sehingga tidak berkaitan dengan pemotongan anggaran Dana Desa," katanya.
Selain dukungan anggaran pemerintah daerah, kata dia, pembangunan juga melibatkan partisipasi masyarakat melalui gotong royong, terutama untuk pekerjaan awal berupa perataan lahan dan penggalian.
"Kami mendapat swadaya masyarakat dalam bentuk tenaga untuk meratakan lahan dan pekerjaan awal pembangunan," katanya menegaskan.
Ia mengatakan kantor desa yang dibangun memiliki ukuran 13 meter x 18 meter dan berdiri di lokasi yang lebih luas sehingga dinilai mampu mendukung pelayanan administrasi maupun kegiatan kemasyarakatan.
Meskipun demikian, dia mengakui pemangkasan Dana Desa berdampak terhadap sejumlah program pembangunan di desanya.
“Alokasi Dana Desa yang sebelumnya sekitar Rp973 juta pada tahun anggaran sebelumnya turun menjadi sekitar Rp374 juta pada tahun ini,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut mengakibatkan sejumlah pembangunan infrastruktur seperti jalan desa dan jaringan irigasi harus ditunda karena anggaran lebih diprioritaskan untuk kebutuhan wajib desa.
"Yang paling terdampak adalah pembangunan infrastruktur. Beberapa rencana pembangunan jalan dan irigasi terpaksa dibatalkan karena kemampuan anggaran terbatas," katanya menjelaskan.
Selain pembangunan fisik, kata dia, sejumlah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang biasanya dilaksanakan melalui program padat karya juga mengalami pengurangan sehingga menimbulkan keluhan dari sebagian warga.
Meski terjadi pengurangan anggaran, ia memastikan kualitas pelayanan kepada masyarakat tetap diutamakan sebagai bentuk pengabdian ke warga desa.
Terkait potensi pendapatan desa, ia mengatakan objek wisata di Kemutug Kidul hingga kini masih dikelola para sukarelawan dan belum menjadi unit usaha resmi desa sehingga berkontribusi terhadap pendapatan asli desa masih relatif kecil.
Menurut dia, pemasukan dari kawasan wisata tersebut rata-rata berkisar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per bulan, terutama saat akhir pekan atau musim liburan ketika jumlah pengunjung meningkat.
"Kunjungan wisata masih bersifat musiman sehingga pendapatan yang masuk ke desa juga belum besar," kata Kardi.
Pewarta: SumarwotoUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.