Jakarta (ANTARA) - “Thank you to my family. Ayah, ini buat Ayah.”

Muhammad Kiandra Ramadhipa semula berbicara dalam bahasa Inggris ketika menyampaikan rasa syukur selepas memenangi balapan kedua Red Bull MotoGP Rookies Cup 2026 di Sirkuit Jerez, Spanyol, April lalu.

Namun, ketika sampai pada sosok yang ingin ditujunya, pembalap muda yang akrab disapa Rama itu beralih ke bahasa Indonesia.

“Ayah, ini buat Ayah.”

Mungkin ada perasaan yang memang paling mudah disampaikan dengan bahasa rumah.

Ucapan itu hanya terdiri atas empat kata. Rama tidak menjelaskan panjang lebar mengapa kemenangan tersebut dipersembahkan kepada ayahnya, Muhammad Yoki Arafat.

Namun, di balik empat kata itu tersimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada balapan di Jerez.

Ada sepeda yang pertama kali dikayuh Rama, mini trail yang mulai dikendarainya saat berusia empat tahun, latihan dari satu lintasan ke lintasan lain, hingga keputusan keluarga meninggalkan Yogyakarta dan menetap di Jakarta.

Ada pula kekalahan, kesalahan seorang remaja, biaya latihan yang harus diatur dengan cermat, serta perpisahan selama berbulan-bulan ketika Rama menjalani kompetisi di Eropa.

Yoki telah berada di sisi Rama jauh sebelum podium, kamera, dan kibaran Merah Putih hadir dalam perjalanan mereka. Karena itu, ketika kemenangan akhirnya datang, Rama mengetahui kepada siapa sebagian kebahagiaan tersebut ingin ia pulangkan.

“Kalau kenapa saya menyebut ayah, karena setiap balapan saya ingin membuat ayah saya bangga. Saya selalu ingin membuat ayah saya bangga setiap saya balapan,” kata Rama.

Pada usia 16 tahun, Rama sedang menapaki salah satu fase terpenting dalam perjalanannya menuju level Grand Prix. Ia tampil pada Moto3 Junior World Championship dan Red Bull MotoGP Rookies Cup, dua ajang pembinaan pembalap muda menuju kejuaraan dunia.

Sebelum memasuki jeda musim 2026, Rama telah membukukan tiga kemenangan, masing-masing satu di Moto3 Junior serta dua di Rookies Cup, termasuk kemenangan di Jerez dan Sachsenring. Ia juga berada di posisi kelima klasemen sementara Moto3 Junior dengan 64 poin.

Bagi sebagian orang, kebanggaan seorang ayah mungkin terlihat ketika anaknya berdiri di podium. Namun, bagi Yoki, podium hanyalah salah satu bagian dari perjalanan.

Hubungan mereka justru dibangun pada hari-hari yang tidak disaksikan penonton, ketika Rama masih belajar, kalah, melakukan kesalahan, atau harus memastikan kembali apakah jalan sebagai pembalap benar-benar ingin diteruskan.

“Kalau yang kami jalani, sejak awal kami membangun kepercayaan dan komitmen. Kuncinya ada pada komitmen antara orang tua dan anak. Kalau anaknya berkomitmen, tetapi orang tuanya tidak, atau sebaliknya, prosesnya akan sulit,” ujar Yoki kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (31/7).

Kedekatan mereka tidak terbentuk begitu saja karena pertalian darah. Ada waktu, kepercayaan, ketegasan, pengorbanan, dan kesediaan menjalani proses yang sama tanpa setengah-setengah.
 

Tidak mewariskan mimpi

Yoki pernah menjadi pembalap. Namun, ia tidak serta-merta meletakkan mimpi yang pernah dimilikinya di pundak sang anak.

Ia terlebih dahulu mencari tahu hal yang disukai Rama, menggali potensinya, dan mengamati kemampuannya. Arah baru diberikan setelah kemauan dan kemampuan sang anak terlihat bertemu.

Rama tidak langsung menekuni balap aspal. Perjalanannya dimulai dari sepeda, kemudian balap off-road, sebelum akhirnya beralih ke balap on-road.

“Sebagai orang tua, kami lebih dahulu menggali potensi dan mencari tahu ketertarikannya. Setelah terlihat ada kecocokan antara kemauan dan kemampuannya, barulah kami mulai mengarahkan,” kata Yoki.

Ada perbedaan antara mengarahkan dan menentukan. Mengarahkan berarti membantu anak menemukan jalannya. Sementara menentukan dapat membuat anak berjalan di jalur yang mungkin hanya diinginkan orang tuanya.

Yoki memilih menjadi penunjuk arah. Ia tidak meminta Rama menjadi dirinya, tetapi membantu sang anak mengenali kemampuan yang dimiliki dan menyediakan ruang agar kemampuan itu dapat tumbuh.

Setelah Rama menentukan pilihan, Yoki tidak ingin memberikan dukungan dengan separuh hati.

“Setiap proses yang dijalani Rama sangat melibatkan keluarga sebagai support system. Saat Rama mulai menjalani prosesnya sebagai pembalap, saya benar-benar memberikan totalitas. Prioritas utama kami adalah proses Rama. Apa pun yang kami lakukan tidak boleh mengganggu proses tersebut,” ujarnya.

Totalitas itu bukan hanya hadir ketika anak menang.

Ia berarti menyediakan waktu untuk latihan, mengatur biaya, menjaga kedisiplinan, serta mengambil keputusan yang mungkin tidak selalu dimengerti orang lain.

Pada masa pandemi, ketika berbagai fasilitas latihan di Yogyakarta ditutup, keluarga memilih menetap di Jakarta agar Rama tetap dapat berlatih di kawasan Sentul.

Keputusan tersebut sempat dipandang sebelah mata. Namun, keluarga tetap bertahan ketika hasil belum terlihat dan belum banyak orang mempunyai alasan untuk ikut percaya.

Setelah pencapaian mulai datang, pandangan orang perlahan berubah. Akan tetapi, keluarga Rama mengetahui tidak ada keberhasilan yang muncul dalam satu malam.

Di balik setiap podium terdapat hari-hari panjang yang tidak disaksikan siapa pun.

Ada perjalanan menuju tempat latihan, tubuh yang kelelahan, pengeluaran yang dihitung berulang kali, serta kehidupan keluarga yang harus disesuaikan dengan proses seorang anak.

Tidak setengah-setengah

Hubungan yang erat bukan berarti Yoki selalu memberikan kemudahan kepada putranya.

Ia justru mengaku memberikan tekanan penuh kepada Rama, terutama setelah sang anak direkrut oleh tim dan mulai memikul tanggung jawab sebagai pembalap profesional.

“Kalau saya, tekanannya 100 persen karena ini sudah menjadi pilihan dan tanggung jawabnya. Ketika seorang pembalap sudah direkrut oleh sebuah tim, dia memiliki tanggung jawab yang harus dijaga,” kata Yoki.

Rama tidak lagi hanya membawa keinginan pribadi. Ada kepercayaan tim dan orang-orang yang mendukung perjalanan kariernya.

Setiap tindakan, baik di dalam maupun di luar lintasan, harus dipikirkan. Pola latihan, kebugaran, berat badan, pola makan, cara berkomunikasi, hingga perilaku sehari-hari dapat memengaruhi pekerjaannya sebagai pembalap.

Yoki juga tidak menggambarkan perjalanan mereka sebagai kisah ayah dan anak yang selalu berjalan mulus.

Mereka pernah menghadapi persoalan anak dan kenakalan remaja. Rama pernah melakukan kesalahan, sebagaimana remaja lain yang sedang tumbuh dan mencari bentuk dirinya.

Pada saat itulah, Yoki menanamkan bahwa keberanian melakukan sesuatu harus disertai keberanian untuk bertanggung jawab.

Namun, di balik ketegasannya, ia tidak merampas hak Rama untuk menentukan pilihan.

Ketika anaknya kalah, melakukan kesalahan, menghadapi kesulitan, atau tampak kehilangan arah, justru sang ayah yang terkadang mengajukan pertanyaan paling mendasar.

“Kamu mau lanjut atau berhenti?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar keras. Namun, di dalamnya terdapat ruang bagi Rama untuk memastikan kembali pilihannya.

Selama ini, jawaban Rama selalu sama. Pembalap yang kini di bawah binaan AHM itu selalu ingin melanjutkan.

“Kalau mau berhenti, kami selesaikan seluruh tanggung jawabnya, kemudian berhenti. Namun, kalau mau melanjutkan, harus benar-benar melanjutkan,” kata Yoki.

Tidak ada paksaan untuk terus menjadi pembalap. Akan tetapi, jika telah memilih melanjutkan, proses tersebut tidak boleh dijalani dengan separuh hati.

Prinsip itu tidak hanya ditujukan kepada Rama.

Seorang anak tidak dapat terus diminta bersungguh-sungguh apabila orang tuanya sendiri hanya hadir ketika hasilnya menggembirakan.

“Apa yang dilakukan Rama tidak bisa dijalani setengah-setengah. Kalau sejak awal prosesnya dilakukan setengah-setengah, kami tidak mungkin bisa sampai di titik ini. Hal itu berlaku bagi anak maupun orang tuanya,” ujar Yoki.

Dukungan orang tua tidak selalu berupa pujian atau perlindungan dari setiap kesulitan. Kadang-kadang, kasih sayang seorang ayah hadir melalui teguran, batas yang harus dipatuhi, atau pertanyaan yang memaksa anak memikirkan kembali pilihannya.

Tidak semua kasih sayang terasa lembut saat diberikan. Sebagian baru dipahami setelah seorang anak tumbuh dan melihat kembali alasan di balik ketegasan orang tuanya.
 

Jarak dan doa dari rumah

Perjalanan balap kemudian membawa Rama jauh dari rumah.

Ia harus menjalani kompetisi selama berbulan-bulan di Eropa, sedangkan sang ayah tidak selalu dapat mendampinginya secara langsung.

Yoki memahami bahwa ketika Rama sedang tidak baik-baik saja, penyebabnya tidak selalu kerinduan terhadap rumah. Bisa jadi ia gagal menyelesaikan balapan, kesulitan menemukan performa, atau kecewa terhadap dirinya sendiri.

Dari Indonesia, Yoki terus mengingatkan anaknya untuk bersabar.

Nasihat itu dahulu ia terima dari orang tuanya. Kini, satu kata yang sama diteruskan kepada Rama.

“Seperti orang tua pada umumnya, saya selalu mengingatkan dia untuk bersabar. Nasihat itu juga selalu disampaikan orang tua saya kepada saya dalam menghadapi berbagai persoalan, kemudian saya coba terapkan kepada Rama,” katanya.

Tidak semua warisan berbentuk harta.

Ada kalimat sederhana yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada cara menghadapi masalah, kebiasaan berdoa, keteguhan, serta nilai kehidupan yang ditanamkan tanpa banyak kata.

Nilai-nilai itu kemudian dibawa Rama ke lintasan.

“Tentunya saya minta doa kepada orang tua saya, minta restu. Berdoa itu yang paling membuat saya tenang sebelum balapan. Itu yang membuat saya tetap bisa mengontrol diri,” ujar Rama.

Di motor yang dikendarainya, Rama harus mengambil keputusan sendiri. Namun, ia tidak datang ke lintasan dengan tangan kosong. Ada doa dari rumah yang ikut dibawanya.

Sebelum Rama berangkat balapan, keluarganya juga hampir selalu mengadakan bancakan berupa doa bersama atau pengajian kecil-kecilan.

Di tengah pembicaraan mengenai target, poin, kemenangan, dan harapan menuju level Grand Prix, ada satu permohonan yang ditempatkan di atas semuanya. Keselamatan.

“Hal terpenting bagi orang tua adalah memohon keselamatan karena keselamatan selalu menjadi doa yang utama,” kata Yoki.

Pada akhirnya, orang tua tidak hanya menunggu anaknya menang. Mereka menunggu anaknya pulang.

Yoki berharap Rama suatu hari dapat mencapai level Grand Prix seperti para pembalap senior Indonesia. Namun, harapan tersebut tidak membuatnya melupakan hal yang lebih utama.

“Secara umum, semoga kariernya berjalan lancar dan dia bisa mencapai level Grand Prix seperti para seniornya. Yang paling utama, semoga selalu diberikan keselamatan,” ujarnya.

Ketika ditanya mengapa Rama kerap mempersembahkan hasil balapannya kepada sang ayah, Yoki tidak berusaha membesarkan perannya sendiri.

“Saya tidak tahu seberapa besar pengaruh saya, tetapi kami memang berproses bersama sampai sejauh ini,” katanya.

Seorang ayah mungkin memang tidak pernah benar-benar mengetahui seberapa dalam jejaknya tertinggal dalam diri anak.

Seorang ayah hanya berusaha hadir, bekerja, mengarahkan, menegur, memaafkan, dan mendoakan. Sebagian besar dilakukan dalam keseharian yang mungkin terlihat biasa.

Baru pada suatu hari, melalui satu kalimat sederhana, ia mengetahui bahwa semua itu ternyata diingat.

Tidak semua anak akan berdiri di podium balap dunia. Tidak semua ayah dapat menyediakan sepeda motor, fasilitas latihan, atau jalan menuju kompetisi internasional.

Namun, setiap orang tua mempunyai kesempatan untuk membangun tempat di dalam ingatan anaknya.

Ada perumpamaan lama tentang orang tua dan anak. Orang tua seperti busur, sedangkan anak adalah anak panah.

Busur tidak ikut terbang menuju sasaran. Ia menahan tarikan, memberikan arah, lalu merelakan anak panah melesat sejauh mungkin.

Perumpamaan itu seperti menemukan bentuknya dalam perjalanan Rama dan Yoki.

Rama kini melaju di berbagai lintasan Eropa. Sementara Yoki, seperti busur yang telah melepaskan anak panah, tidak selalu dapat berada di sampingnya. Ada saatnya ia hanya dapat melihat dari kejauhan, menjaga kepercayaan, dan mengirimkan doa.

Namun, sejauh apa pun anak melesat, ia akan selalu mengingat dari mana dirinya pertama kali memperoleh arah.

Barangkali, itulah makna yang tersembunyi di balik lima kata yang diucapkan Rama setelah menang di Jerez.

“Ayah, ini buat Ayah.”



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026