Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengusulkan Kota Bogor sebagai daerah percontohan nasional untuk program penanggulangan tuberkulosis (Tb) terintegrasi, merespons capaian Pemerintah Kota Bogor yang berhasil membentuk Kelurahan Siaga Tb di seluruh 68 kelurahan di wilayahnya.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyampaikan apresiasinya saat meluncurkan program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) Tb yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) SMART di Kota Bogor, Jawa Barat.

“Saya mendengar seluruh kelurahan di Kota Bogor sudah menjadi Kelurahan Siaga Tb. Ini luar biasa dan jarang ada. Karena itu, saya ingin Kota Bogor dapat menjadi percontohan nasional,” ujar Benny di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan, pengendalian Tb tidak lagi cukup hanya dengan menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah bersama puskesmas, aparat kewilayahan, hingga kader masyarakat harus proaktif melakukan "jemput bola" guna menemukan warga yang berisiko, terutama mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien Tb positif.

Baca juga: Bogor dorong peran Desa Siaga TB untuk wujudkan eliminasi tuberkulosis
Baca juga: Dinkes Kota Bogor temukan 1.002 kasus TBC pada Januari dan Februari 2024

Melalui integrasi dengan program CKG SMART, masyarakat dapat menjalani pemeriksaan lebih dekat dari tempat tinggalnya. Pemeriksaan ini meliputi skrining kesehatan, rontgen dada (X-ray), hingga tes dahak jika ditemukan kelainan. Bagi warga yang berisiko tinggi namun belum berstatus sakit Tb aktif, Kemenkes akan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

“Selama ini kita fokus mengobati orang yang sudah sakit, tetapi kontak eratnya jarang diperiksa. Padahal, daripada dua atau tiga tahun lagi mereka menjadi pasien Tb, lebih baik kita cegah dari sekarang melalui TPT,” katanya.

Hingga 26 Juli 2026, capaian penemuan kasus Tb di Kota Bogor telah menyentuh 71,9 persen dari target 90 persen. Wamenkes berharap, masifnya pencarian kasus aktif ini dapat secara nyata menurunkan kurva kasus Tb nasional pada 2028 hingga 2029 mendatang.

Baca juga: Dinkes Kota Bogor peringati hari tuberkulosis sedunia

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebutkan, meski memiliki angka harapan hidup di atas rata-rata nasional, Kota itu masih menghadapi tantangan besar terkait kepadatan penduduk yang berpotensi mempercepat penularan penyakit menular.

“Kehadiran program eliminasi Tb dari Kemenkes ini sangat berarti. Kami berharap kolaborasi ini manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Kota Bogor,” kata Dedie.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena memaparkan bahwa pada 2025, Kota Bogor menempati peringkat kelima dengan beban Tb tertinggi di Jawa Barat. Tercatat ada 10.577 kasus dengan incidence rate 955 per 100 ribu penduduk.

"Menariknya, dari total pasien yang dirawat di Kota Bogor, hanya 62 persen yang merupakan warga asli Kota Bogor. Sisanya berasal dari Kabupaten Bogor (35 persen) dan luar wilayah (3 persen). Kondisi ini menjadikan Kota Bogor sebagai rujukan layanan Tb, namun di sisi lain menambah tantangan dalam pemantauan pasien lintas wilayah," jelas dr. Erna.

Untuk menekan laju kasus, Pemkot Bogor menargetkan pelaksanaan pelacakan (tracing) TBC terintegrasi ini mulai Agustus hingga November 2026. Program ini akan menyasar 23.200 orang di 232 titik lokasi yang tersebar di 68 kelurahan.



Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026