Jakarta (ANTARA) - Pakar energi dari Universitas Indonesia Ali Ahmudi Achyak mengusulkan pengembangan bioetanol dari sorgum agar tidak mengganggu ketahanan pangan.

Menurut dia, masyarakat Indonesia lebih sedikit yang mengkonsumsi sorgum dibanding beras, jagung dan gandum. Karenanya sorgum lebih memiliki potensi dikembangkan menjadi bioetanol, tanpa harus mengganggu kebutuhan pasok pangan. 

Ali yang merupakan peneliti bioenergi itu saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu, mengatakan persyaratan lahan untuk menanam sorgum tidaklah sulit.

Lebih lanjut ia mengatakan sorgum bisa tumbuh di lahan yang kering, kurang air, di lahan bekas hutan gundul, hingga di daerah-daerah pesisir pantai yang kering.

“Itu sorgum bisa hidup. Kalau itu dikembangkan, misalnya di pesisir selatan Jawa, kemudian NTT, NTB, di pesisir barat Sumatera, itu bisa besar dan menjadi pasokan bioetanol,” kata Ali.

Baca juga: BRIN kembangkan varietas baru sorgum manis untuk bioetanol bahan bakar rendah emisi

Sementara itu, bila pemerintah mengembangkan bioetanol dari bahan-bahan pangan pokok, seperti tebu, singkong, hingga jagung, Ali mengkhawatirkan pengembangan program bioetanol mengganggu program ketahanan pangan.

Ali berpandangan, bila pemerintah akan menggunakan tebu untuk pengembangan bioetanol, pemerintah harus betul-betul menghitung berapa kebutuhan gula dibanding produksi tebu nasional agar tidak mengganggu ketahanan pangan.



Pewarta: Putu Indah Savitri
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026